MARKET DATA

Mark Zuckerberg - Elon Musk Kaya Raya Sih Tapi Belum Sehebat Ford Cs?

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
22 April 2026 12:50
Infografis: Elon Musk Geser Bos Facebook, Jadi Orang Terkaya Ke-3 Dunia
Foto: Infografis/Elon Musk Geser Bos Facebook, Jadi Orang Terkaya Ke-3 Dunia/Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama-nama seperti Sam Altman, Dario Amodei, Demis Hassabis, Elon Musk, hingga Mark Zuckerberg kini menjadi wajah utama revolusi kecerdasan buatan (AI).

Pengaruh mereka begitu besar hingga sering disebut sebagai penentu arah masa depan teknologi global.

Namun di balik sorotan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah para "lima sekawan" ini benar-benar sudah memiliki kekuasaan ekonomi sebesar para raksasa industri di masa lalu?

AI Besar, Tapi Belum Menghasilkan "Konglomerasi"

Tidak dapat disangkal, kecerdasan buatan (AI) merupakan salah satu teknologi paling canggih saat ini. Dari hiburan hingga kebutuhan militer, dampaknya mulai terasa di berbagai sektor.

Namun berbeda dengan gelombang teknologi sebelumnya, AI belum sepenuhnya melahirkan "konglomerasi", yakni perusahaan raksasa yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, menghasilkan keuntungan stabil, dan mendominasi struktur ekonomi.

Hingga kini, sektor AI belum menciptakan ekosistem industri masif seperti yang pernah dilakukan sektor otomotif, minyak, atau baja.||

Sebagai perbandingan, sepuluh tahun setelah berdiri, perusahaan motor Ford berhasil mencetak keuntungan sekitar US$1 miliar (nilai saat ini), sementara OpenAI yang berusia serupa masih jauh dari profit.

Model bisnis AI sangat bergantung pada komputasi berbiaya tinggi, talenta yang terbatas, serta kebutuhan investasi yang terus membengkak. Kondisi ini membuat kekuatan ekonomi yang dihasilkan belum sebanding dengan teknologi industri klasik.

Dengan kendala tersebut, dibutuhkan waktu bertahun-tahun hingga parah tokoh AI tersebut mencapai puncak kekuasaan mereka.

Bandingkan dengan Konglomerat Lama

Dalam sejarah kapitalisme, kekuatan sejati tidak hanya lahir dari inovasi, tetapi dari kemampuan mendistribusikan teknologi secara massal hingga mengubah cara hidup masyarakat.

Teknologi yang mereka dorong bukan hanya inovatif, tetapi juga menciptakan jutaan lapangan kerja, menghasilkan keuntungan besar, serta meninggalkan warisan yang masih terasa hingga saat ini.

Elon Musk dan Mark Zuckerberg memang aktif di sektor AI, namun bisnis mereka tidak sepenuhnya berpusat di sana. Keduanya masih ditopang oleh imperium yang lebih besar (Musk dengan Tesla dan SpaceX, serta Zuckerberg dengan Meta).

Berbeda dengan mereka, para pelaku bisnis yang benar-benar menjadikan AI sebagai core business justru belum menunjukkan tingkat kesuksesan yang setara.

Ketika Negara Mulai Membatasi Para Raja Teknologi

Dalam sejarah kapitalisme, hubungan antara pengusaha besar dan negara tidak pernah benar-benar netral. Pada abad ke-19, para tycoon memiliki ruang gerak yang jauh lebih luas dibandingkan sekarang.

 

  1. Andrew Carnegie bahkan dikenal menekan aksi buruh secara keras.

  2. J. P. Morgan memiliki pengaruh begitu besar hingga secara de facto bertindak sebagai bank sentral saat krisis keuangan 1907.

  3. Andrew Mellon mampu merangkap sebagai Menteri Keuangan sekaligus tetap mengendalikan kerajaan bisnisnya.

Namun memasuki abad ke-20, negara mulai mengambil peran lebih aktif untuk membatasi kekuasaan tersebut.

Secara teori, kapitalisme bersifat impersonal dan terdesentralisasi. Namun dalam praktiknya, arah perkembangan sering ditentukan oleh segelintir individu berpengaruh.

Hal serupa berpotensi terjadi di era AI, tokoh seperti Sam Altman atau Elon Musk mungkin belum sekuat konglomerat masa lalu, tetapi jika melihat sejarah, kemunculan figur setara Henry Ford atau John D. Rockefeller tinggal menunggu waktu.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular