Anak Sekarang Makin Picky Eater? Ini Penjelasan Ilmiah di Baliknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena anak picky eater atau pilih-pilih makanan ternyata bukan hanya soal selera. Studi historis menunjukkan, perubahan pola asuh dan lingkungan makanan justru menjadi faktor utama di balik meningkatnya kebiasaan tersebut.
Anak-anak modern khususnya yang tinggal di Amerika menjadi picky eater paling parah dalam sejarah. Helen Zoe Veit seorang profesor di Michigan State University, menilai bahwa hal ini terjadi bukan karena faktor biologis, melainkan akibat perubahan perilaku orang dewasa selama satu abad terakhir.
Dari Wajib Makan Menjadi Bebas Memilih
Pada awal abad ke-20, konsep makanan khusus anak hampir tidak ada. Anak-anak mengonsumsi makanan yang sama dengan orang dewasa, tanpa banyak pilihan alternatif. Kondisi ini berubah drastis setelah munculnya pemikiran baru dalam parenting, yang dipopulerkan oleh tokoh seperti Benjamin Spock.
Pendekatan ini mendorong orang tua untuk memberikan otonomi kepada anak dalam menentukan apa dan berapa banyak yang mereka makan. Di sisi lain, pengaruh psikologi Freudian membuat orang tua menghindari memaksa anak untuk makan karena dianggap berpotensi menimbulkan trauma.
Namun dalam praktiknya, pendekatan ini justru menggeser kontrol dari orang tua kepada anak.
Banyaknya Pilihan dan Peran Industri Makanan
Perubahan besar juga datang dari sisi penawaran. Jumlah produk di supermarket melonjak tajam, Pada pertengahan tahun 1960-an, rata-rata supermarket Amerika menyediakan 7.000 item atau sepuluh kali lebih banyak daripada tahun 1920-an.
Perusahaan seperti Kellogg's mulai menargetkan anak-anak secara langsung melalui iklan. Dampaknya cukup signifikan, anak-anak tidak hanya sekedar konsumen pasif, tetapi menjadi pengambil keputusan dalam pembelian makanan keluarga.
Kondisi ini menciptakan preferensi sejak dini terhadap makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang lebih menarik, dibandingkan makanan sehat seperti sayur atau ikan.
Selain itu, kebiasaan ngemil atau snacking yang semakin masif turut memperburuk kondisi. Anak yang terus-menerus mengkonsumsi camilan cenderung tidak merasa lapar saat waktu makan utama tiba. Akibatnya, mereka lebih mudah menolak makanan yang tidak sesuai preferensi.
Veit menyoroti adanya inkonsistensi dalam pola asuh modern. Orang tua cenderung tegas dalam hal seperti menyikat gigi atau memakai sabuk pengaman, tetapi lebih permisif dalam urusan makan. Padahal, kebiasaan makan memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak.
Â
(mae/mae) Addsource on Google