Tengah Booming, Dracin Justru Punya Banyak "Musuh" Baru di China
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri hiburan China tengah mengalami disrupsi besar-besaran dari kemunculan micro-drama berbasis AI.
Micro-drama atau drama China (dracin) pendek merupakan format tontonan super singkat yang menggabungkan gaya serial TV dengan pengalaman scrolling ala media sosial.
Micro drama berdurasi sangat pendek, biasanya 1-5 menit per episode, dengan jumlah episode banyak (sering 30 sampai 100 episode). Ceritanya dibuat cepat, penuh konflik, cliffhanger, dan twist agar penonton terus menonton episode berikutnya.
Salah satu contohnya datang dari serial animasi "Orange Cat Taoist Priest: Fighting the Zombie King", yang menampilkan kucing tabby berjubah melawan zombie dalam episode dua menit.
Meski terdengar niche, format ini justru viral dan mampu menarik ratusan ribu penonton. Namun di balik popularitasnya, muncul tanda-tanda bahwa tren ini mulai menghadapi tantangan serius, baik dari sisi regulasi maupun keberlanjutan bisnis.
Micro-Drama AI Guncang Industri Hiburan
Fenomena micro-drama telah mengubah cara masyarakat China mengonsumsi hiburan. Pada Januari lalu, waktu yang dihabiskan untuk menonton drama panjang turun hingga 15% secara tahunan.
Sebaliknya, platform micro-drama seperti Red Fruit (yang dimiliki ByteDance), justru mencatat lonjakan waktu tonton hingga lebih dari dua kali lipat.
Kunci dari ledakan ini ada pada efisiensi biaya. Dengan bantuan teknologi AI, biaya produksi bisa ditekan hingga 90%. Bahkan, produksi live-action yang sebelumnya sudah hemat kini kalah bersaing.
Di beberapa wilayah, produksi drama live-action jenis ini dilaporkan anjlok hingga 80%, sementara bayaran aktor, ikut terpangkas setengah. Padahal, bayaran para aktor ini sudah rendah dari awal.
Â
Situasi ini menunjukkan bahwa AI sudah menjadi pengubah struktur industri. Produksi konten kini tidak lagi bergantung pada studio besar atau aktor profesional, melainkan bisa dilakukan dengan teknologi yang jauh lebih murah dan cepat.
Fenomena dracin pendek ini juga tengah populer di Asia Tenggara seiring bergesernya pola konsumsi konten digital. Drama pendek tersebut kerap diistilahkan 'dracin' (drama China), sebab kebanyakan berasal dari Negeri Tirai Bambu.
Laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan lonjakan signifikan pada unduhan aplikasi drama pendek sepanjang paruh pertama 2025.
Menurut laporan tersebut, kontribusi aplikasi drama pendek terhadap total unduhan platform video-on-demand (VOD) naik tajam 56% di 2025, dari 31% pada paruh pertama 2024. Angka unduh aplikasi short drama tumbuh 120% secara tahun-ke-tahun (year-on-year/YoY).
Dari sisi pengguna aktif, aplikasi drama pendek juga menunjukkan peningkatan pesat. Pangsa pengguna aktif aplikasi ini naik dari 5% menjadi 17%, atau melonjak 200% YoY.
Regulasi dan Persaingan Jadi Tantangan Baru
Meski berkembang pesat, micro-drama AI mulai menghadapi berbagai hambatan. Sejak 1 April, regulator di China mewajibkan semua serial animasi yang belum mendapat izin untuk ditarik dari platform digital.
Konten baru juga harus melalui proses persetujuan sebelum dirilis. Ini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai mengawasi ketat pertumbuhan konten berbasis AI.
Di sisi lain, pasar yang terlalu ramai juga menjadi masalah. Produksi micro-drama AI yang masif membuat persaingan semakin ketat, sehingga banyak konten gagal menarik cukup penonton untuk menghasilkan keuntungan.
Selain itu, format yang sangat singkat membuat penonton sulit membangun keterikatan emosional dengan karakter. Sehingga loyalitas audiens tidak terbentuk.
Menanggapi kondisi ini, raksasa teknologi China mulai mencari keseimbangan.
Alibaba, misalnya, merilis musim baru serial animasi panjang "The Demon Hunter" yang telah memiliki lebih dari 10 juta pengikut.
Ini menunjukkan bahwa di tengah dominasi konten singkat, drama berdurasi panjang masih punya peluang untuk bertahan dalam perebutan perhatian penonton.
Dicari Tapi Ditakuti
Pendapatan industri micro-drama di China diproyeksikan hampir dua kali lipat pada 2025 menjadi 90 miliar yuan (US$12,7 miliar)-melampaui penjualan tiket bioskop. Studio-studio di China memproduksi 40.000 judul micro-drama dalam delapan bulan pertama 2025 (satu serial biasanya memiliki 90 episode).
Demam micro-drama hanyalah salah satu contoh ledakan kreativitas yang sedang berlangsung di China. Awal 2025 , "Ne Zha 2", film produksi studio China, menjadi film animasi dengan pendapatan box office global tertinggi sepanjang masa. Sementara "Black Myth: Wukong", video game buatan China, juga memikat para pemain saat dirilis setahun lalu.
Fenomena ini menghadirkan dilema bagi Partai Komunis China, yang mulai menyadari nilai ekspor budaya China ke luar negeri, namun tetap waspada memberi kebebasan terlalu besar kepada kalangan kreatif dari ketatnya sensor pemerintah.
Pemerintah China selama ini cenderung memprioritaskan sains dan teknologi dibanding hiburan, sehingga investasi di sektor seperti game dan video pendek sempat kurang didorong. Kontrol ketat terhadap konten tidak hanya membuat investor ragu, tetapi juga mengalihkan talenta kreatif ke industri lain.
Meski demikian, raksasa teknologi China terus menggelontorkan dana ke industri hiburan. Contohnya Black Myth: Wukong, di mana Tencent membantu mendanai studio pembuat game tersebut yang didirikan oleh mantan eksekutifnya, Feng Ji.
Dukungan dana itu memberi waktu lebih panjang bagi Feng untuk mengembangkan game sekaligus meluncurkan kampanye pemasaran empat tahun sebelum rilis. Studio di balik Ne Zha 2 juga didukung bos Meituan, perusahaan teknologi besar lainnya.
Dukungan semacam itu menjadi sangat penting bagi generasi baru talenta kreatif China. Banyak di antaranya, termasuk Feng Ji dan Yang Yu (sutradara Ne Zha 2), lahir pada era 1980-an ketika China mulai membuka diri ke dunia. Mereka tumbuh pada awal 2000-an, saat sensor internet masih minim dan akses ke situs asing serta budaya luar jauh lebih bebas dibanding sekarang. Pada periode itu, jumlah mahasiswa juga melonjak, termasuk di bidang humaniora.
Pengaruh raksasa teknologi juga terlihat pada model bisnis hiburan China yang berkembang. Sebagian besar berbasis mobile. iQiyi, versi Netflix di China, lebih banyak ditonton lewat ponsel dibanding TV dan komputer. Game juga lebih banyak dimainkan lewat ponsel dan tablet. Lalu ada aplikasi video pendek populer seperti Douyin (versi lokal TikTok) dan Bilibili yang mirip YouTube.
Monetisasi konten di China juga banyak bertumpu pada e-commerce, bukan iklan atau langganan seperti di Barat. Kreator populer di Douyin menjual produk lewat siaran langsung. Bilibili membangun komunitas anggota yang memberi akses eksklusif ke produk dan pertunjukan live. Micro-drama pun mulai mengarah ke sana.
Chen Ou, pendiri Jumei Film Base, salah satu studio micro-drama terbesar di Zhengzhou, mengatakan perusahaannya mulai memonetisasi popularitas para bintang lewat penjualan live-streaming. Sementara AliFish, platform milik Alibaba, mempertemukan pemilik konten kreatif dengan perusahaan manufaktur dan penjual merchandise, sekaligus pemasar yang ingin memanfaatkan karakter-karakter populer mereka.
source on Google