MARKET DATA

Perang Iran Masih Panas, RI Kena Imbas Lewat 3 Guncangan Ini

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
13 April 2026 12:10
Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 masih terus membayangi pasar global.

Meski saat ini kedua pihak tengah menjalani gencatan senjata selama dua pekan, kekhawatiran belum benar-benar reda. Pasalnya, pertemuan resmi terbaru antara perwakilan AS dan Iran pada akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan, sehingga ketidakpastian global kembali meningkat.

Di saat bersamaan, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam pidato pembukaannya pada acara Central Bank Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026), menjelaskan bahwa perang AS-Iran memberi dampak yang luas, bukan hanya ke satu sektor, melainkan ke banyak pasar sekaligus.

"Kami melihat dampak perang AS, Israel-Iran ini memiliki dampak multi sektoral dan multi market. Kita coba pilah tiga jalur," ujar Destry.

Menurut dia, setidaknya ada tiga jalur utama yang menjelaskan bagaimana perang ini memengaruhi perekonomian global maupun Indonesia, yakni melalui jalur finansial, harga komoditas, serta perdagangan dan produksi.

Presentasi Opening Speech Deputi Senior Bank Indonesia Destry DamayantiFoto: Bank Indonesia
Presentasi Opening Speech Deputi Senior Bank Indonesia Destry Damayanti

1. Jalur Finansial

Yang pertama adalah dampak perang terhadap jalur finansial. Destry menjelaskan, dari sisi keuangan, dampak langsung konflik di Timur Tengah sebenarnya terbatas karena Iran dan Israel bukan pusat keuangan global. Namun, efek tidak langsungnya justru besar karena konflik ini menyeret Amerika Serikat, yang menjadi pusat keuangan dunia.

Akibatnya, ketidakpastian pasar keuangan global meningkat. Investor pun cenderung menghindari aset berisiko dan memindahkan dana ke aset aman. Kondisi ini memicu fenomena risk off, yaitu ketika investor lebih memilih menyimpan dana di instrumen yang dianggap aman, terutama dolar AS.

Arus modal ke negara berkembang pun ikut berkurang, termasuk ke Indonesia. Tekanan ini terlihat dari penguatan indeks dolar AS (DXY), kenaikan yield global, dan tekanan terhadap mata uang banyak negara.

"Terjadi risk off artinya investor menjauhi risiko sehingga ada safe haven activity. Mau tidak mau flow ke advanced economies, termasuk ke AS. DXY mengalami peningkatan. Flow ke emerging market tidak hanya ke RI, tapi juga berkurang," kata Destry.

Sebagai catatan, berdasarkan data Refinitiv, indeks dolar AS sejak perang dimulai hingga perdagangan pagi ini, Senin (13/4/2026), telah menguat sekitar 3% ke posisi 99 dari sebelum perang di kisaran 96. Bahkan, DXY sempat menembus level psikologis 100.

Bank Indonesia juga menyoroti kenaikan yield surat utang AS yang berada di kisaran 4,5%-4,6%.

Kondisi ini dinilai membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang semakin besar. Artinya, jalur pertama dampak perang ini terlihat dari pengetatan kondisi finansial global, penguatan dolar AS, serta berkurangnya aliran modal ke emerging markets.

2.Jalur Harga Komoditas

Jalur berikutnya adalah harga komoditas terutama energi. Menurut dia, dampak langsung paling terasa datang dari minyak. Hal ini tidak lepas dari posisi strategis Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi dunia.

Meski pangsa produksi Iran terhadap pasokan global tidak dominan, kawasan ini menjadi sangat sensitif karena sekitar 20% pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz. Ketika kawasan itu terganggu, harga minyak pun langsung bereaksi.

Pasar kembali menilai risiko ini sangat serius setelah pembicaraan damai terbaru gagal. Kebuntuan negosiasi di Islamabad diikuti keputusan AS untuk memulai blokade maritim terhadap akses ke pelabuhan Iran, langkah yang dikhawatirkan memperparah gangguan pengapalan dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

Destry mengatakan, lonjakan harga tidak hanya terjadi pada minyak. Menurut dia, harga emas, batu bara, aluminium, CPO, hingga komoditas pertanian juga ikut naik. Batu bara misalnya, terdorong karena pasar mulai menyiapkan alternatif energi di tengah ketidakpastian pasokan minyak dan jalur distribusinya.

"Indirect impact cukup bagus ke RI karena ada coal, CPO, emas. Dampaknya ada dua sisi, harga minyak naik, tapi komoditas ekspor juga meningkat," ujar Destry.

Artinya, bagi Indonesia, jalur komoditas ini membawa dua konsekuensi sekaligus. Di satu sisi, kenaikan harga minyak bisa menjadi tekanan bagi ekonomi domestik. Namun di sisi lain, Indonesia juga bisa mendapat keuntungan dari menguatnya harga sejumlah komoditas ekspor unggulan.

3.Jalur Perdagangan & Produksi

Selain keuangan dan harga komoditas, konflik di Timur Tengah juga berdampak pada jalur perdagangan dan produksi global.

Secara ukuran ekonomi, Iran memang bukan pemain utama dalam ekonomi dunia. Kontribusinya terhadap PDB global hanya sekitar 1%, sementara porsi ekspor-impor globalnya juga di bawah 1%. Namun, gangguan di Selat Hormuz dan kawasan Teluk tetap menimbulkan efek rambatan yang luas ke banyak negara.

Kondisi ini terjadi karena hambatan di jalur pelayaran strategis akan berdampak pada kelancaran distribusi barang, energi, dan bahan baku. Akibatnya, biaya pengapalan dan logistik meningkat, lalu menekan rantai pasok global.

Situasi di lapangan mulai menunjukkan arah tersebut. Menjelang pemberlakuan blokade AS, sejumlah kapal tanker memilih menghindari area Hormuz, sementara pelaku pelayaran meningkatkan kewaspadaan karena risiko eskalasi baru di kawasan.

Destry menegaskan, ujung dari tekanan itu adalah gangguan pada produksi global.

"Sehingga ini meningkatkan biaya pengapalan dan logistik naik, jadi ada gangguan global supply chain," kata Destry.

Ia menambahkan, efek lanjutannya bahkan mulai terlihat pada sektor-sektor yang tidak langsung terkait energi.

Salah satunya adalah plastik, yang mulai terdampak akibat gangguan rantai pasok. Pada akhirnya, jika biaya logistik terus naik dan pasokan terganggu, produksi di berbagai sektor bisa ikut melemah.

Secara keseluruhan, perang AS-Iran bukan hanya persoalan geopolitik semata. Konflik ini telah menjalar ke pasar keuangan, harga komoditas, hingga perdagangan dan produksi global.

Bagi Indonesia, dampaknya memang datang dari tekanan eksternal, tetapi di saat yang sama juga membuka peluang dari naiknya harga sejumlah komoditas ekspor.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular