MARKET DATA
Sentimen Pekan Depan

Sentimen Pekan Depan: Pasar Deg-degan Tunggu Kabar dari China dan AS

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
12 April 2026 17:15
Seorang karyawan mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (21/3/2018). IHSG pada perdagangan Rabu (21/3/2018) dibuka menguat 0,27% ke  6.260,18 poin dari penutupan kemarin di 6.243,57 poin. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar akan kembali mencermati sejumlah agenda penting pada pekan depan, mulai Senin (13/4/2026), baik dari dalam negeri maupun global. Fokus investor akan tertuju pada rangkaian data China, indikator konsumsi Amerika Serikat, serta sederet rilis Bank Indonesia yang memberi gambaran terbaru kondisi ekonomi domestik.

Rangkaian data tersebut penting karena dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah, IHSG, obligasi, hingga harga komoditas. Terlebih, pasar global masih mencari kepastian soal kekuatan pertumbuhan ekonomi dunia di tengah suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama dan tensi dagang yang belum sepenuhnya reda.

Penjualan Eceran RI, Ujian Daya Beli Setelah Ramadan

Dari domestik, agenda pertama datang dari rilis Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia pada Senin (13/4/2026). Data ini kerap menjadi salah satu petunjuk tercepat untuk membaca perilaku konsumsi rumah tangga.

Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 tumbuh 6,9% secara tahunan, lebih tinggi dibanding Januari yang tumbuh 5,7%. Secara bulanan, penjualan eceran juga diprakirakan naik 4,4%, berbalik dari kontraksi 2,7% pada Januari.

Kenaikan tersebut terutama ditopang permintaan masyarakat selama Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri. Kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga, serta sandang disebut menjadi penopang utama.

Pasar akan mencermati apakah lonjakan konsumsi hanya bersifat musiman atau mencerminkan daya beli yang memang mulai menguat. Ini penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Neraca Dagang China, Kompas Baru Harga Komoditas

Pada Selasa (14/4/2026), perhatian global tertuju ke China yang merilis neraca dagang Maret 2026, lengkap dengan data ekspor dan impor.

Pada periode sebelumnya, surplus dagang China melonjak ke US$90,98 miliar. Untuk Maret, konsensus pasar memperkirakan surplus naik ke US$112 miliar, meski proyeksi lain berada di sekitar US$105 miliar.

Sebelumnya, pada gabungan Januari-Februari 2026, ekspor China melonjak 21,8% secara tahunan menjadi US$656,58 miliar. Lonjakan ini menjadi yang tercepat sejak Oktober 2021. Sementara impor naik 19,8% menjadi US$442,96 miliar, tertinggi sejak awal 2022.

Kuatnya ekspor menunjukkan pabrik-pabrik China masih mampu menjual barang ke dunia, meski tekanan tarif Amerika Serikat tetap ada. Di sisi lain, impor yang kuat menandakan permintaan domestik belum padam.

Bagi Indonesia, data ini krusial. China adalah pembeli utama batu bara, nikel, CPO, dan berbagai bahan baku lain. Jika impor China kuat, sentimen terhadap saham komoditas domestik berpotensi membaik. Sebaliknya, pelemahan impor dapat menekan ekspektasi permintaan.

PPI Amerika Serikat

Masih pada Selasa malam, Amerika Serikat merilis Producer Price Index (PPI) Maret 2026. Ini adalah indikator harga di tingkat produsen yang sering dibaca sebagai sinyal awal inflasi konsumen.

Pada Februari 2026, PPI AS naik 0,7% secara bulanan, lebih tinggi dari Januari 0,5%. Secara tahunan, inflasi produsen melonjak ke 3,4%, tertinggi dalam setahun.

Untuk Maret, konsensus memperkirakan kenaikan 1,2%, dengan proyeksi lain 1,3%. Jika angka tersebut terealisasi, pasar bisa menilai tekanan harga belum benar-benar jinak.

Situasi ini penting bagi pasar global karena The Fed sangat sensitif terhadap inflasi. Tekanan harga yang tinggi dapat membuat bank sentral AS menunda pemangkasan suku bunga. Dampaknya biasanya terasa melalui penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan tekanan bagi mata uang emerging markets seperti rupiah.

Utang Luar Negeri RI

Pada Rabu (15/4/2026), Bank Indonesia dijadwalkan merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Februari 2026.

Sebelumnya, posisi utang luar negeri Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$434,7 miliar atau tumbuh 1,7% secara tahunan, melambat dibanding Desember 2025 yang tumbuh 1,8%.

Perlambatan terjadi karena utang swasta turun menjadi US$193 miliar dari US$194 miliar. Secara tahunan, ULN swasta bahkan terkontraksi 0,7%. Sementara ULN pemerintah justru naik 5,6% menjadi US$216,3 miliar.

Pasar akan melihat apakah tren moderasi utang swasta masih berlanjut dan seberapa besar kebutuhan pembiayaan pemerintah. Stabilitas ULN penting karena berhubungan dengan persepsi risiko eksternal, nilai tukar, dan arus modal asing.

GDP China

Puncak agenda pekan depan datang pada Kamis (16/4/2026), ketika China merilis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026.

Sebelumnya, ekonomi China tumbuh 4,5% pada kuartal IV-2025, melambat dari 4,8% di kuartal sebelumnya dan menjadi laju terlemah dalam tiga tahun.

Untuk kuartal I-2026, konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan 5%, sementara sebagian proyeksi berada di 5,2%.

Data ini akan menjadi tolok ukur utama apakah stimulus Beijing cukup ampuh menopang ekonomi di tengah tekanan sektor properti, deflasi, dan tensi dagang dengan Amerika Serikat.

Jika GDP China lebih kuat dari ekspektasi, pasar Asia biasanya merespons positif. Harga logam industri dan saham berbasis komoditas berpotensi terdorong. Namun jika mengecewakan, sentimen risk-off bisa muncul kembali.

Pabrik dan Konsumen China Ikut Diuji

Masih di hari yang sama, China juga merilis produksi industri dan penjualan ritel Maret.

Produksi industri sebelumnya tumbuh 6,3%, di atas ekspektasi pasar. Aktivitas menguat pada manufaktur, pertambangan, dan utilitas.

Untuk rilis terbaru, konsensus memperkirakan pertumbuhan 5,9%, sedangkan proyeksi lain 5,4%.

Sementara retail sales sebelumnya naik 2,8%, dan untuk Maret diperkirakan meningkat ke 3,5%.

Kombinasi dua data ini penting. Produksi industri menunjukkan denyut pabrik, sedangkan retail sales mencerminkan kepercayaan konsumen China. Jika keduanya kuat, pasar bisa membaca pemulihan ekonomi lebih merata.

Dunia Usaha RI dan PMI-BI

Pada Jumat (17/4/2026), Bank Indonesia akan merilis Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan Prompt Manufacturing Index (PMI-BI).

Sebelumnya, responden memperkirakan kegiatan usaha triwulan I-2026 meningkat dengan Saldo Bersih Tertimbang sebesar 12,93%. Dorongan utama berasal dari sektor pertanian, industri pengolahan, transportasi, serta perdagangan seiring Ramadan dan Idulfitri.

Sementara PMI-BI diproyeksikan berada di level 53,17. Angka di atas 50 menandakan manufaktur masih berada di zona ekspansi.

Data ini penting karena memberi gambaran sektor riil sebelum angka pertumbuhan ekonomi resmi dirilis. Jika dunia usaha dan manufaktur tetap kuat, pasar dapat menilai ekonomi Indonesia masih cukup tahan menghadapi perlambatan global.

Jepang dan Inggris Ikut Menyumbang Sinyal

Pada Selasa (21/4/2026), Jepang dijadwalkan merilis neraca dagang Maret. Sebelumnya Jepang mencatat surplus hanya „57,3 miliar, turun tajam dari tahun sebelumnya. Pelemahan ekspor dan naiknya impor akan menjadi perhatian pasar.

Inggris juga merilis data pengangguran Februari, dengan proyeksi naik ke 5,3% dari sebelumnya 5,2%. Data tenaga kerja Inggris penting untuk membaca ruang kebijakan Bank of England.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular