MARKET DATA

Ramalan Lembaga Top Amerika: Harga Emas Siap Menggila, Kapan Mulainya?

mae,  CNBC Indonesia
10 April 2026 06:45
Emas batangan
Foto: Zlaťáky.cz/Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas naik lebih dari 1% ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Investor menilai keberlanjutan gencatan senjata yang masih rapuh antara Washington dan Teheran serta menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (9/4/2026) ditutup di posisi US$ 4763,62 per troy ons atau terbang 1%. Kenaikanini memperpanjang tren positif emas dengan menguat 2,5% dalam tiga hari terakhir.

Harga emas sedikit melemah pada hari ini. Pada Jumat (10/4/2026) pukul 06.25 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4758,96 atau melemah 0,1%.

Indeks dolar AS melemah ke 98,83 atau terendah dalam 3 Maret 2026. Dolar yang lebih lemah membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

"Pelemahan dolar telah membantu emas kembali menguat, tetapi ada kehati-hatian di pasar karena pelaku mencoba menafsirkan arti dari gencatan senjata tersebut," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, kepada Reuters.

 

"Berita gencatan senjata sangat bullish untuk emas, tetapi harga telah mundur dari level tertinggi baru-baru ini seiring mulai terlihat adanya retakan," tambahnya.

Israel kembali membombardir target di Lebanon, yang menurut Teheran harus termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata, sementara belum ada tanda bahwa Iran mencabut blokade di Selat Hormuz.

Kegagalan negosiasi dan potensi memanasnya kembali konflik berisiko mendorong kenaikan biaya energi dan inflasi, yang dapat memaksa The Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Hal ini pada akhirnya dapat mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil, meskipun emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Morgan Stanley menyatakan bahwa harga emas diperkirakan akan stabil hingga kuartal kedua sebelum kembali menguat pada paruh kedua tahun ini.

"Jika kenaikan suku bunga oleh The Fed dapat dihindari, kami melihat emas berpotensi rebound. Selain itu, penyelesaian konflik juga akan menjadi faktor pendukung, yang kemungkinan akan mengembalikan fokus pada pelemahan nilai mata uang fiat," ujar salah satu bank investasi terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat tersebut.

Pasar juga menantikan data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Maret yang akan dirilis pada Jumat.

Sementara itu, indeks Personal Consumption Expenditures (PCE naik 2,8% dalam 12 bulan hingga Februari, sesuai dengan perkiraan, dan kemungkinan meningkat lebih lanjut pada Maret.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (9/4/2026) ditutup di posisi US$ 75,07 per troy ons atau terbang 1,3%. Kenaikanini memperpanjang tren positif perak dengan menguat 3,13% dalam tiga hari terakhir.

Harga perak masih menguat pada hari ini. Pada Jumat (10/4/2026) pukul 06.34 WIB, harga perak ada di posisi US$ 75,19 atau menguat 0,15%.



Most Popular
Features