Bikin Kaget! RI Ekspor Gambir Miliaran Rupiah, ke Negara Mana Saja?
Jakarta, CNBC Indonesia- Di lereng-lereng hijau Sumatera Barat, daun-daun kecil direbus dalam kuali besi, diperas, lalu dikeringkan hingga berubah menjadi bongkahan cokelat padat.
Dari proses sederhana itu lahir komoditas yang mengalir jauh ke pabrik farmasi Jepang, industri kulit Eropa, hingga lini produksi India. Namanya gambir bahan baku yang diam-diam menguasai rantai pasok global.
Melansir Badan Pusat Statistik (BPS) pergerakan ekspor gambir Indonesia dalam kode HS 32011000 berfluktuasi tajam dalam lima tahun terakhir
Nilainya berada di US$17,44 juta pada 2019, turun ke US$13,44 juta pada 2020, lalu melonjak ke US$32,64 juta pada 2021. Tahun 2022 menjadi anomali dengan nilai hanya US$990 ribu, sebelum kembali melonjak ke US$42,14 juta pada 2023Â atau sekitar Rp 716,4 miliar (US$1= Rp 17000).Â
Gambir berasal dari tanaman Uncaria gambir Roxb, yang getahnya diolah melalui perebusan daun dan ranting. Hasil akhirnya mengandung catechin hingga 51% dan tanin 22-40%. Dua senyawa ini menjadi kunci.
Catechin dibutuhkan sebagai antioksidan dalam industri farmasi dan kosmetik. Tanin menjadi bahan utama penyamakan kulit, terutama untuk produk ramah lingkungan yang kini diminati pasar Eropa.
Â
Indonesia berada di posisi dominan dalam rantai ini. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang dihimpun GPEI mencatat pasokan dari Indonesia mengisi sekitar 80% kebutuhan dunia.
Produksi terkonsentrasi di Sumatera Barat, dengan kontribusi mencapai 80-90% dari total nasional. Kabupaten Lima Puluh Kota dan Pesisir Selatan menjadi episentrum, tempat di mana aktivitas ekonomi lokal bertaut langsung dengan industri global.
Permintaan terbesar datang dari India. Angkanya stabil di kisaran 13.000-14.000 ton per tahun. Di sana, gambir digunakan sebagai substitusi ekstrak kayu khair (Acacia catechu), yang penggunaannya dibatasi karena kebijakan konservasi hutan.
Perubahan kebijakan ini menggeser permintaan ke Indonesia. Industri pan masala dan gutkha di India menjadi penyerap utama, di samping sektor farmasi dan kosmetik.
Foto: Buah gambir. (Dok. Freepik)Buah gambir. (Dok. Freepik) |
Â
Aliran perdagangan kemudian membentuk pola yang khas. Lebih dari 90% gambir Indonesia mengarah ke India, sisanya tersebar ke Jepang dan Eropa. Jepang memanfaatkan kandungan antioksidan untuk produk kesehatan, sementara Eropa menggunakan tanin untuk industri kulit berbasis bahan alami. Setiap negara membawa fungsi berbeda, tetapi bergantung pada bahan mentah yang sama.
Nilai ekonomi gambir sempat menembus sekitar US$90 juta atau setara Rp1,35 triliun. Angka ini memperlihatkan potensi besar, namun struktur ekspor masih berat di bahan mentah. Sekitar 80% dikirim tanpa pengolahan lanjutan. Margin terbesar justru terbentuk di negara pengolah, tempat catechin dimurnikan atau tanin diformulasikan menjadi produk bernilai tinggi.
Di titik ini, mekanismenya menjadi jelas. Petani memproduksi bahan dasar, eksportir mengirim dalam bentuk mentah, industri luar negeri mengolah, lalu menjual kembali dalam bentuk produk jadi dengan harga berlipat. Rantai ini panjang, tetapi nilai tambahnya terkonsentrasi di hilir.
Pemerintah mulai mendorong perubahan arah. Hilirisasi masuk sebagai strategi untuk menahan nilai tambah tetap di dalam negeri. Pengolahan catechin murni, ekstrak farmasi, hingga bahan kosmetik menjadi target berikutnya. Perubahan ini tidak sederhana karena menyangkut teknologi, investasi, dan standar kualitas global.
Jika arah ini berjalan, dampaknya langsung terasa di hulu. Harga bahan baku akan mengikuti permintaan industri domestik, bukan hanya pasar ekspor mentah. Petani mendapat posisi tawar yang lebih kuat. Industri lokal tumbuh sebagai pemain, bukan sekadar pemasok.
Gambir bergerak dari kebun sederhana menuju jaringan industri dunia. Angkanya naik-turun, tetapi permintaannya tidak pernah benar-benar hilang.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb)
Foto: Buah gambir. (Dok. Freepik)