7 Negara Produsen Plastik Terbesar di Dunia, Harganya Lagi Melejit
Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah merambat ke industri plastik. Perang membuat harga plastik melonjak hingga dikhawatirkan bisa membebani masyarakat.
Kenaikan harga plastik disebabkan oleh melonjaknya harga nafta hingga 45% dalam satu bulan terakhir. Nafta adalah senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku plastik.
Sebagai catatan, harga minyak sudah melonjak 80% sepanjang tahun ini karena perang Iran.
Melansir dari BBC, gabungan pengusaha makanan dan minuman melaporkan harga plastik kemasan sudah naik hingga 50%.
Sulitnya pasokan bahan baku ini berpotensi mengganggu operasional produksi plastik di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara produsen plastik terbesar berikut.
7 Negara Produsen Plastik Terbesar di Dunia
Konsultan lingkungan asal Inggris, Eunomia, dan Zero Carbon Analytics, (sebuah kelompok riset iklim dan energi), membuat daftar 7 negara yang memproduksi dua pertiga dari empat jenis plastik yang paling umum pada tahun 2024.
Studi yang dilakukan oleh The Eunomia dan Zero Carbon Analytics berfokus pada produksi sejumlah tipe virgin polymers (material plastik murni yang diproduksi langsung dari bahan bakar fosil) yang paling umum digunakan. Tipe-tipe tersebut adalah:
-
Polyethylene (PE)
-
Polypropylene (PP)
-
Polyethylene terephthalate (PET)
-
Polystyrene (PS)
China menjadi negara paling besar dengan persenan produksi hingga 34%, angka ini bahkan lebih besar dari penggabungan produksi ke enam negara lainnya.
Peringkat ini didukung oleh kontribusi perusahaan plastik terbesar dunia, Sinopec. Sinopec adalah perusahaan milik negara China yang bergerak di bidang energi dan petrokimia.
Perusahaan ini menyumbang 5,4% dari total produksi plastik global, jauh melampaui produksi plastik dari negara-negara produsen plastik terbesar termasuk Arab Saudi dan Korea Selatan.
Harga Plastik Melonjak, Industri Kemasan Tertekan
Hambatan pasokan nafta tidak hanya dirasakan oleh perusahaan-perusahaan besar di tingkat global, tetapi juga berdampak hingga ke pelaku UMKM di Indonesia melalui kenaikan harga plastik.
Dalam satu bulan terakhir, harga nafta tercatat melonjak signifikan dari sekitar US$ 630 per ton pada Februari 2026 menjadi US$ 917 per ton per 1 April 2026, atau naik hampir 45% dalam waktu singkat.
Lonjakan ini meningkatkan biaya produksi plastik secara langsung, yang kemudian mendorong kenaikan harga kemasan di pasaran dan membebani pelaku usaha kecil.
Kenaikan harga tersebut berkaitan erat dengan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang mengganggu distribusi minyak dan produk turunannya. Padahal, sekitar 70% pasokan nafta dunia berasal dari kawasan tersebut.
Akibatnya, ketersediaan bahan baku menjadi tidak menentu dan biaya logistik internasional melonjak. Kondisi ini memaksa pelaku UMKM untuk menyesuaikan strategi bisnis guna menjaga keberlangsungan operasional.
(mae/mae)