Awas! Emas Masuk Zona Ekstrem, Harga Ambruk 1,3% dalam Hitungan Jam
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar emas sedang mengalami volatilitas ekstrem akibat aksi jual besar-besaran bersejarah, ketegangan geopolitik, dan perubahan kondisi makroekonomi.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada hari ini, Senin (6/4/2026) pukul 06.30 WIB ada di posisi US$ 4614,43 per troy ons. Harganya ambruk 1,31% hanya sekitar satu jam setelah perdagangan dibuka.
Pelemahan ini memperpanjang derita emas. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Kamis (2/4/2026), harga emas ambruk 1,72%. Harga emas ditutup pada Jumat karena perayaan Jumat Agung.
Harga emas anjlok lebih dari 11% pada Maret dan 26% dari puncaknya pada 29 Januari 2026, menghapus lebih dari US$2 triliun nilai pasar, karena emas berubah dari aset lindung nilai (safe haven) menjadi sumber likuiditas.
Kekuatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi turut menekan harga emas, sementara data ekonomi mendatang dapat memengaruhi ekspektasi pasar ke depan.
Meski volatilitas tinggi, permintaan emas dari bank sentral tetap kuat, memberikan dukungan jangka panjang terhadap harga di tengah ketidakpastian global.
Emas Hadapi Masa-Masa Ekstrem
Pasar emas memasuki periode volatilitas ekstrem karena aksi jual besar, perubahan kondisi makro, dan ketidakpastian geopolitik yang mengubah narasi emas sebagai aset aman.
Harga emas sudah anjlok lebih dari 26% dari puncaknya.
Yang membuat pergerakan ini mencolok dan mengagetkan adalah pelemahan ini justru terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Iran, situasi yang biasanya justru mendukung harga emas. Namun, emas justru mengalami tekanan jual besar karena investor melepas posisi beli (long) yang sudah terlalu padat dan mengalihkan dana ke aset lain.
Kecepatan dan besarnya penurunan menunjukkan perubahan tajam dalam dinamika pasar. Alih-alih menjadi lindung nilai, emas justru menjadi sumber likuiditas ketika investor menyesuaikan portofolio mereka.
Ketegangan Geopolitik Menambah Kompleksitas
Selama akhir pekan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan retorika terkait konflik Timur Tengah, memperpanjang tenggat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sekaligus mengancam serangan terhadap infrastruktur penting.
Hal ini membuat pasar berada dalam situasi yang kompleks. Di satu sisi, perpanjangan tenggat memberi sinyal masih ada peluang diplomasi. Di sisi lain, bahasa yang semakin agresif meningkatkan risiko eskalasi konflik, terutama jika infrastruktur energi menjadi target.
Situasi di lapangan tetap dinamis, dengan aktivitas militer berlanjut dan indikasi bahwa Iran bersiap untuk konflik berkepanjangan. Pasar kini memantau keseimbangan antara potensi de-eskalasi dan risiko gangguan besar terhadap pasokan minyak global.
Pendorong utama penurunan emas adalah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi. Ketika harga minyak melonjak, permintaan dolar global meningkat, sehingga menekan emas.
Pada saat yang sama, Jerome Powell memberi sinyal sikap lebih hawkish dari Federal Reserve, menegaskan risiko inflasi masih tinggi.
Hal ini membuat ekspektasi pasar berubah, dengan peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil. Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas (yang tidak memberikan imbal hasil), sehingga investor beralih ke obligasi dan kas.
Apa Risiko Besar Pekan Ini?
Perhatian pasar kini tertuju pada sejumlah data ekonomi penting AS yang akan menentukan arah jangka pendek.
Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan sikap hati-hati, dengan suku bunga ditahan dan proyeksi pertumbuhan serta inflasi sedikit meningkat.
Data inflasi mendatang menjadi krusial karena inflasi pengeluaran pribadi warga AS atau PCE diperkirakan tetap menunjukkan tekanan inflasi dan inflasi Maret diperkirakan kembali meningkat, didorong kenaikan harga energi
Semua ini memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga akan tetap "tinggi lebih lama", yang membatasi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Kenaikan harga minyak menambah kompleksitas kondisi makro. Biaya energi yang lebih tinggi meningkatkan tekanan inflasi dan biaya produksi di berbagai sektor.
Jika gangguan energi berlangsung lama, dampaknya bisa lebih permanen terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini meningkatkan volatilitas pasar dan memengaruhi keputusan alokasi aset investor.
Proyeksi Terbaru
Goldman Sachs kembali menegaskan proyeksi harga emas sebesar US$5.400 per ons pada akhir tahun, meskipun terjadi penurunan bulanan terbesar pada Maret sejak 2013.
Para analis menyebut tiga pilar utama yang mendukung proyeksi tersebut: pembelian emas oleh bank sentral negara berkembang sebesar 60 ton per bulan, arus masuk ETF yang kuat, serta permintaan investor swasta yang terkait dengan kekhawatiran terhadap utang dan kebijakan moneter.
Meski mengakui adanya risiko penurunan jangka pendek akibat perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz, Goldman menilai faktor struktural tetap akan menjaga minat pembeli jangka panjang.
Menurut UBS, kondisi makroekonomi saat ini menjadi kurang mendukung dalam jangka pendek.
Penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, serta perubahan ekspektasi suku bunga telah mendorong kenaikan real yield, sehingga mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Eskalasi ketegangan di Timur Tengah turut memperkuat dinamika ini dengan menunda ekspektasi pelonggaran moneter serta memperketat kondisi keuangan.
Mencerminkan tekanan tersebut, UBS menurunkan proyeksi jangka pendeknya dengan merevisi perkiraan harga emas akhir Juni menjadi US$5.200 per ons, dari sebelumnya yang lebih optimistis.
Penurunan proyeksi ini mencerminkan melemahnya permintaan investor serta dampak volatilitas tinggi setelah koreksi pasar baru-baru ini.