Benarkah Iran Tidak Pernah Dijajah?
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam sejarah modern, Iran sering menjadi pusat perebutan pengaruh global.
Namun berbeda dengan banyak negara di Asia dan Afrika, Iran memiliki posisi unik, karena tidak pernah secara resmi menjadi koloni atau dijajah tetapi berulang kali berada di bawah tekanan, pengaruh, bahkan intervensi langsung dari kekuatan besar dunia.
Era Qajar dan Pengaruh Rusia dan Inggris (1789-1925)
Data historis menunjukkan bahwa sejak abad ke-19, Iran berada di antara dua kekuatan besar saat itu Rusia dan Inggris yang sama-sama berusaha memperluas pengaruhnya di kawasan.
Pada era Dinasti Qajar, intervensi kedua negara ini bahkan menyebabkan Iran kehilangan wilayahnya. Melalui perjanjian Golestan tahun 1813 dan Perjanjian Turkmenchay tahun 1828, Iran terpaksa menyerahkan wilayah-wilayah penting kepada Rusia, sementara Inggris terus memperluas cengkeramannya di wilayah selatan.
Kedua dampak tersebut menjadikan Iran sebagai negara semi kolonial atau secara formal berdaulat, tapi dalam prakteknya sangat tergantung pada kekuatan asing.
Penemuan Minyak di Iran
Pada awal abad ke-20 tepatnya pada tahun 1908, William Knox D'Arcy menemukan cadangan minyak pertama di wilayah Khuzestan dan menjadi titik balik penting dalam sejarah Iran. Penemuan ini kemudian melahirkan Anglo-Persian Oil Company, yang menjadi kendaraan utama Inggris dalam menguasai industri minyak Iran..
Kepentingan energi ini tidak hanya meningkatkan nilai geopolitik Iran, tetapi juga memperdalam ketergantungannya terhadap kekuatan asing.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Revolusi Konstitusional Iran pada tahun 1905-1911, memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh eksternal dalam politik domestik negara tersebut. Inggris bahkan mengambil peran sebagai mediator antara pemerintah dan kelompok oposisi, dengan aktivitas yang berlangsung dari dalam kompleks kedutaannya sendiri.
Kombinasi antara kepentingan ekonomi dan intervensi politik ini mempertegas posisi Iran sebagai negara yang secara formal merdeka, namun dalam prakteknya semakin bergerak ke arah semi-kolonial.
Perang Dunia I
Posisi geografis Iran yang strategis membuatnya menjadi korban langsung dinamika global, bahkan sebelum pecahnya Perang Dunia I. Melalui Perjanjian Anglo-Rusia 1907, Iran secara efektif dibagi menjadi tiga zona pengaruh, yaitu wilayah utara berada di bawah kendali Rusia, bagian selatan dikuasai Inggris, sementara area di tengah dijadikan zona netral.
Secara formal Iran tetap berstatus negara merdeka. Namun dalam praktiknya, pembagian ini menunjukkan bahwa kedaulatan negara tersebut sangat terbatas dan lebih menyerupai arena perebutan kepentingan dua kekuatan besar.
Kudeta di Tahun 1953
Kudeta 1953 terhadap Perdana Menteri Mohammad Mossadegh menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah modern Iran. Peristiwa ini dipicu oleh kebijakan Mossadegh yang menasionalisasi industri minyak, yang sebelumnya dikuasai oleh Anglo-Iranian Oil Company, sehingga memicu konflik langsung dengan Inggris.
Â
bertepatan pada saat perang dingin, Amerika Serikat ikut terlibat karena khawatiran Iran akan jatuh ke pengaruh Soviet. Melalui operasi rahasia, AS dan Inggris mendukung penggulingan Mossadegh dan mengembalikan kekuasaan kepada Shah yang pro-Barat.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa asing mampu menjangkau hingga inti kekuasaan politik domestik.
Revolusi Iran Tahun 1979
Revolusi Iran menjadi titik balik dalam sejarah modern Iran. Revolusi ini berhasil menggulingkan rezim Pahlavi yang selama puluhan tahun memiliki kedekatan kuat dengan Barat, sekaligus mengakhiri bentuk campur tangan asing secara langsung dalam politik domestik.
Republik Islam Iran menegaskan arah baru sebagai negara yang berdaulat penuh dan mandiri dalam menentukan kebijakan nasional. Sejak saat itu, Iran secara konsisten memposisikan diri sebagai negara yang menolak intervensi eksternal, sekaligus berupaya menghapus pengaruh asing yang telah mengakar dalam jangka panjang.
Berdasarkan beberapa peristiwa di atas, Iran memang tidak pernah secara resmi dijadikan koloni oleh kekuatan asing.
Namun demikian, berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa Iran berulang kali berada di bawah tekanan dan pengaruh kuat dari kekuatan eksternal, terutama Rusia, Inggris, hingga Amerika Serikat, yang turut membentuk arah ekonomi dan politiknya. Meski intervensi tersebut kerap membatasi ruang gerak kedaulatan, Iran tetap mempertahankan statusnya sebagai negara merdeka.
Â
(mae/mae) Addsource on Google