MARKET DATA

Bangun 'Mesin Uang' dari Minyak, Iran Jadi Pemenang Perang Energi

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
30 March 2026 15:20
Ilustrasi ini, yang diambil pada 22 Juni 2025, menampilkan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran. (REUTERS/Dado Ruvic)
Foto: Ilustrasi ini, yang diambil pada 22 Juni 2025, menampilkan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran. (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama lebih dari setengah abad, negara-negara monarki di kawasan Timur Tengah selalu diposisikan sebagai pemasok minyak bumi berbiaya rendah yang dapat diandalkan oleh pasar global.

Namun, pecahnya Perang Teluk ketiga yang saat ini telah memasuki minggu kelima secara fundamental telah mengubah dinamika pasokan energi dunia. Penutupan sebagian besar jalur Selat Hormuz menyebabkan sekitar 15% dari pasokan minyak dunia terhambat menjangkau pelanggan internasional.

Situasi ini memaksa hampir seluruh negara Teluk memangkas produksi mereka yang berujung pada penurunan pendapatan ekspor secara drastis. Akan tetapi, Iran menjadi pengecualian yang mencolok. Di saat negara tetangganya menahan ekspor, armada kapal tanker Iran terus beroperasi melintasi perairan selat tersebut tanpa hambatan berarti.

Lonjakan Pendapatan di Tengah Krisis Energi

Berdasarkan data operasional di lapangan, Iran saat ini diestimasi meraup pendapatan dari penjualan minyak hampir dua kali lipat lebih besar setiap harinya jika dibandingkan dengan periode sebelum serangan dari Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.

Meskipun menghadapi tekanan militer yang signifikan, Iran mencatatkan keunggulan di sektor komersial energi. Sebuah sumber yang memahami operasional minyak Iran mengonfirmasi bahwa volume ekspor minyak dan produk olahan negara tersebut kini mencapai kisaran 2,4 juta hingga 2,8 juta barel per hari.

Angka ini mencakup sekitar 1,5-1,8 juta barel berupa produk minyak mentah. Volume tersebut setara atau bahkan sedikit lebih tinggi dari rata-rata ekspor tahun lalu, didorong oleh melonjaknya harga jual di pasar global.

Struktur Penjualan yang Terdesentralisasi

Keuntungan besar ini sebagian besar mengalir ke Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dengan Tiongkok memainkan peran sentral dalam memfasilitasi aliran dana tersebut. Secara institusional, urusan ekspor minyak Iran dikelola oleh entitas milik negara, yakni National Iranian Oil Company (NIOC).

Namun pada praktiknya, minyak berfungsi sebagai instrumen likuiditas utama bagi berbagai lembaga pemerintah di tengah keterbatasan cadangan mata uang asing. Berbagai faksi di dalam pemerintahan hingga yayasan keagamaan diberikan alokasi minyak untuk dijual langsung ke pasar.

Alur distribusi ini dikendalikan oleh sekitar dua puluh tokoh oligarki yang memanfaatkan jaringan pribadi untuk mengonversi minyak menjadi uang tunai. Individu-individu berpengaruh ini sering kali memiliki keterkaitan erat dengan elit politik dan militer.

Cengkeraman Garda Revolusi dalam Bisnis Minyak

Banyak dari aktor komersial ini yang memiliki hubungan organisatoris dengan institusi IRGC. Pasukan elite ini tidak hanya mengelola ladang minyak sendiri, tetapi juga menjadi motor penggerak utama di balik lonjakan volume ekspor baru-baru ini.

Sayap operasi internasional IRGC, yakni Pasukan Quds, memegang kendali atas dua puluh lima persen dari total produksi minyak mentah Iran.

Struktur penjualan komersial yang sangat terdesentralisasi inilah yang membuat ekosistem energi mereka memiliki ketahanan tinggi terhadap intervensi luar maupun sanksi ekonomi yang bersifat terpusat. Kehadiran tokoh-tokoh kuat di balik layar memastikan bahwa operasional tetap berjalan meski dalam kondisi konflik terbuka.

Keamanan Logistik dan Prosedur Darurat di Pulau Kharg

Selama eskalasi perang berlanjut, IRGC memperketat kendali operasional atas jalur pelayaran di Selat Hormuz. Perusahaan yang terafiliasi dengan militer bertugas mengoordinasikan logistik pelayaran bersama pihak NIOC.

Untuk melindungi muatan kargo yang nilainya mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat, Iran secara disiplin menerapkan prosedur keamanan tinggi.

Di wilayah Pulau Kharg, yang merupakan titik keberangkatan bagi sembilan puluh persen ekspor minyak mentah Iran, kapal yang bersandar kini diwajibkan untuk dioperasikan dengan sistem pelarian darurat.

Peta Terminal Minyak IranFoto: Peta Terminal Minyak Iran (dok. Economist)

Apabila terjadi serangan militer mendadak, kapal dapat memutus tali tambat secara mekanis dan berlayar menjauh seketika tanpa bantuan kapal tunda. Langkah ini diambil untuk meminimalisir kerugian aset strategis di tengah ancaman serangan udara.

Taktik Penyamaran di Jalur Selat Hormuz

Untuk mengantisipasi potensi gangguan di fasilitas utama, terminal berskala lebih kecil seperti Jask, Lavan, dan Sirri saat ini didorong beroperasi penuh guna menumpuk cadangan minyak.

Proses pelayaran dilakukan dengan tingkat kerahasiaan tinggi, di mana kapal harus melaporkan rincian kargo kepada perantara IRGC untuk mendapatkan kode sandi khusus sebelum melintasi selat.

Grafik menunjukkan lalu lintas kapal tanker di Selat HormuzFoto: Grafik menunjukkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz (dok. Economist)

Armada ini sering kali berlayar melalui koridor sempit menyusuri garis pantai Iran demi menghindari deteksi, lalu mematikan transponder pelacak sesaat setelah memasuki Samudra Hindia.

Muatan kargo tersebut akhirnya dipindahkan ke kapal lain di perairan terbuka sekitar kawasan Asia Tenggara guna menyamarkan asal usulnya sebelum menuju tujuan akhir di Tiongkok.

Peran Strategis Kilang 'Teko' Tiongkok

Tiongkok tetap menjadi pasar utama yang secara konsisten menyerap lebih dari sembilan puluh persen volume minyak Iran. Pembeli dominannya adalah kilang-kilang independen berskala kecil di wilayah Shandong, yang sering disebut sebagai kilang "teko".

Secara formal, kilang-kilang ini beroperasi secara mandiri guna menghindari risiko sanksi langsung terhadap raksasa minyak milik negara Tiongkok.

Grafik garis yang menunjukkan penjualan produk minyak (petrol dan diesel) dari kilang independen Foto: Grafik garis yang menunjukkan penjualan produk minyak (petrol dan diesel) dari kilang independen "teapot" di Tiongkok. (dok. Economist)

Meskipun permintaan domestik Tiongkok sempat mengalami fluktuasi akibat pembatasan harga, ketergantungan pada pasokan Iran tetap tinggi di tengah kelangkaan minyak mentah dari negara-negara Teluk lainnya yang terdampak perang.

Dinamika Harga dan Penyusutan Diskon Brent

Sebelum konflik memanas, kilang-kilang independen Tiongkok menikmati potongan harga yang signifikan di bawah harga acuan Brent. Namun, seiring terhentinya suplai dari produsen Teluk lainnya, diskon tersebut menyusut tajam.

Grafik garis yang menunjukkan penjualan produk minyak (petrol dan diesel) dari kilang independen Foto: Grafik tangga yang menunjukkan selisih harga (spread) antara minyak Brent dengan minyak mentah Iran. Terlihat diskonnya makin menipis bahkan harganya sempat di atas Brent.(dok. Economist)

Jika diakumulasikan dengan biaya logistik, harga minyak Iran yang tiba di Tiongkok saat ini tercatat lebih mahal daripada harga acuan Brent. Tren kenaikan harga acuan global ini turut mengerek nilai kontrak berjangka minyak Iran hingga menyentuh level US$ 104 per barel.

Peningkatan biaya bahan baku ini mulai menekan margin keuntungan kilang independen dan memicu pelemahan tingkat permintaan domestik Tiongkok terhadap produk olahan minyak tertentu.

Sistem Perbankan Bayangan dan Aliran Dana Global

Penyelesaian transaksi komersial industri minyak ini dilakukan melalui jaringan sistem pembayaran bayangan yang sangat kompleks. Para pembeli menyalurkan dana melalui rekening perwalian sekali pakai di bank-bank berskala kecil di Tiongkok atau Hong Kong dengan menggunakan nama perusahaan cangkang.

Dana tersebut kemudian dipindahkan secara terstruktur melalui ribuan jaringan rekening pelapis untuk membiayai impor komoditas ke Iran atau didistribusikan secara global. Sistem moneter bayangan yang sangat rumit ini dikelola oleh departemen khusus di bawah kendali keamanan Iran.

Hal ini terbukti menyulitkan proses pelacakan oleh otoritas global dan sukses memastikan stabilitas industri minyak Iran di tengah krisis perang yang sedang berlangsung.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular