MARKET DATA

Waspada! IHSG Berpotensi Ambruk Lagi

saw,  CNBC Indonesia
30 March 2026 08:30
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rawan terjun ke bawah 7000 lagi imbas dari perang di Timur Tengah yang makin panas, kabar terbaru sudah mulai menyeret Jepang dan Houthi.

IHSG pada Jumat pekan lalu (27/3/2026) ditutup di posisi 7.097,05. Melemah sebesar 0,94% atau terpangkas 67,03 poin dalam satu hari perdagangan.

Indeks sempat terpuruk hingga menyentuh level terendah harian di 7.070,21, meskipun dibuka pada level 7.136,37. Volume dan frekuensi tercatat sebanyak 18,73 miliar saham berpindah tangan dengan frekuensi 1,37 juta kali.

Dominasi zona merah terlihat jelas dengan 396 saham terkoreksi, sementara hanya 292 saham yang berhasil menguat.



Penurunan ke level 7000 ini merupakan pembalikan tren (reversal) yang cukup tajam jika dibandingkan dengan performa awal tahun 2026.

Posisi saat ini setara dengan level IHSG pada sekitar Mei - Juni 2024.

Asal tahu saja, IHSG itu sempat mencetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa (All-Time High) di posisi 9.174,47 pada Januari 2026. Artinya, dari titik tertingginya tahun ini, IHSG sudah terkoreksi sekitar 22,6%.

Dalam kondisi saat ini, ruang kenaikan IHSG masih sangat terbatas karena belum adanya katalis positif yang kuat dari sisi global.

Pasar pada dasarnya menunggu clear signal seperti gencatan senjata di Timur Tengah, dibukanya kembali jalur energi utama seperti Selat Hormuz, serta penurunan harga minyak kembali ke bawah US$80 per barel.

Selama faktor-faktor tersebut belum terjadi, IHSG cenderung akan sulit untuk mengalami rebound signifikan karena tekanan eksternal masih mendominasi.

Eskalasi konflik sendiri kini memasuki fase yang lebih kompleks dengan munculnya risiko double chokepoint.

Jika sebelumnya pasar hanya fokus pada Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% minyak dunia, kini perhatian mulai bergeser ke Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi di Yaman mulai terlibat dalam konflik.

Jalur ini merupakan penghubung utama Asia-Eropa melalui Terusan Suez dan mencakup sekitar 6-12% arus perdagangan global. Jika kedua jalur ini terganggu secara bersamaan, maka sekitar 25-30% pasokan minyak global berpotensi terdampak, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan memperbesar kemungkinan resesi. Dalam skenario ini, harga minyak berpotensi bertahan tinggi (higher for longer).

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan karena harga minyak yang tinggi berada di atas fiscal comfort zone yang idealnya di bawah US$80 per barel.

Dengan asumsi APBN menggunakan harga minyak US$70 per barel, setiap kenaikan US$10 dapat meningkatkan defisit sekitar Rp51,8 triliun.

Jika harga minyak mencapai US$100 per barel, tambahan subsidi energi diperkirakan mencapai Rp236 triliun, sementara tambahan penerimaan hanya sekitar Rp81 triliun, sehingga berpotensi menambah defisit hingga Rp155 triliun. Tekanan terhadap fiskal ini pada akhirnya turut membebani sentimen pasar saham domestik.

Di sisi lain, dinamika global juga dipengaruhi oleh kebijakan the Fed yang sejatinya bertugas menjaga inflasi dan lapangan kerja, namun secara tidak langsung juga berperan menjaga stabilitas sistem keuangan yang sangat bergantung pada likuiditas.

Sayangnya, likuiditas saat ini rasanya makin ketat, di mana imbas harga minyak tinggi akan membuat inflasi tetap panas sehingga skenario higher for longer untuk suku bunga yang dipertahankan tinggi dalam periode lama berpeluang tinggi terjadi sampai 2027 mendatang.

Indikator lain yang memperkuat gambaran ini adalah kenaikan CBOE Volatility Index (VIX) yang saat ini menyentuh di atas level 30, berada di level tertinggi sejak awal tahun.

Indeks fearFoto: CNBC
Indeks fear

VIX dikenal sebagai fear index karena mencerminkan tingkat ketakutan dan ketidakpastian di pasar.

Secara historis, level di atas 30 sering kali menjadi sinyal zona berbahaya yang diikuti oleh peningkatan volatilitas dan potensi koreksi pasar yang lebih dalam.

Kenaikan VIX ini menunjukkan bahwa investor global sedang berada dalam mode risk-off, sehingga aliran dana cenderung keluar dari aset berisiko seperti saham.

Dengan kombinasi risiko geopolitik, potensi gangguan pasokan energi global, tekanan terhadap fiskal domestik, serta meningkatnya volatilitas pasar, IHSG saat ini masih berada dalam fase yang rentan.

Selama belum ada katalis positif yang jelas, pergerakan indeks cenderung terbatas dan berisiko melanjutkan tekanan dalam jangka pendek.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular