MARKET DATA

Tingkat Stress Air di Timur Tengah Paling Parah di Dunia, Kuwait No.1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
30 March 2026 11:15
Wajib Bersyukur, RI Masuk 10 Besar Negara dengan Air Paling Melimpah
Foto: Infografis/ Wajib Bersyukur, RI Masuk 10 Besar Negara dengan Air Paling Melimpah/ Ilham

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketersediaan air bersih kini menjadi salah satu tantangan operasional dan kelangsungan hidup terbesar di berbagai belahan dunia. Tingkat konsumsi di sejumlah wilayah tercatat telah jauh melampaui kapasitas alam untuk memulihkannya.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) tahun 2022, metrik stres air diukur melalui rasio penarikan air tawar terhadap total sumber daya air yang dapat diperbarui. Negara dengan skor di atas 100% terindikasi menggunakan air lebih banyak daripada pasokan alaminya, memaksa mereka bergantung pada penipisan cadangan air tanah atau proses desalinasi.

Defisit Air Ekstrim di Timur Tengah dan Afrika Utara

Sejumlah negara saat ini beroperasi dengan menggunakan air 10-30 kali lipat lebih banyak daripada yang dapat dipertahankan oleh pasokan alami mereka. Kuwait memimpin secara global dengan tingkat stres air menyentuh angka 3.850% dari suplai air terbarukannya.

Uni Emirat Arab menyusul di posisi kedua dengan 1.509,9%, yang menunjukkan tingginya ketergantungan pada teknologi desalinasi dan ekstraksi air tanah yang tidak dapat diperbarui. Arab Saudi menempati urutan ketiga dengan 974,2%, diikuti oleh Libya dan Qatar yang masing-masing mencatatkan rasio 817,1% dan 431%.

Negara-negara dengan tingkat stres air tertinggi ini secara umum terkonsentrasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Kondisi iklim alami yang sangat kering, ditambah dengan kehadiran industri pertanian yang padat air, menjadi faktor utama yang secara signifikan menambah tekanan pada ketersediaan sumber daya air di wilayah tersebut.

Berikut adalah rincian data tingkat stres air per negara yang diukur dari rasio penggunaan dibandingkan ketersediaan pasokan alami.

Kondisi di Kawasan Asia, Amerika, dan Afrika

Selain semenanjung Arab, defisit air juga melanda wilayah lain dalam skala yang lebih moderat namun tetap melampaui batas keberlanjutan. Pakistan dan Yordania, misalnya, mencatatkan tingkat stres air yang berada di atas ambang batas 100%, yakni masing-masing 110% dan 105%.

Sebagai perbandingan dengan kekuatan ekonomi besar dunia, Tiongkok tercatat menggunakan 41,5% dari sumber daya air terbarukannya, sementara Amerika Serikat berada di level 28,2% yang menjadikannya negara dengan tingkat stres air tertinggi ke-58 di dunia.

Di sisi lain, negara-negara dengan cadangan air raksasa seperti Papua Nugini, Bolivia, dan Republik Demokratik Kongo mencatatkan tingkat stres air yang dapat diabaikan. Kondisi ini dipengaruhi oleh status ekonomi mereka yang relatif belum berkembang sehingga konsumsi industri masih rendah.

Sebagai gambaran, Kongo yang menjadi rumah bagi 62% wilayah Lembah Kongo-sistem sungai terbesar kedua di dunia-merupakan satu-satunya negara dalam data ini yang memiliki tingkat stres air di angka 0%.

Pulau di Langit sebuah konsep desain kolam pemandian dan air terjun bertingkat tinggi di Dubai. (Dok. DS+R, rendering by Bucharest Studio via CNN Internasional)Foto: Pulau di Langit sebuah konsep desain kolam pemandian dan air terjun bertingkat tinggi di Dubai. (Dok. DS+R, rendering by Bucharest Studio via CNN Internasional)

Ketergantungan pada Infrastruktur Air Buatan

Negara-negara yang telah melampaui batas anggaran air alaminya bergantung pada pasokan alternatif untuk menutupi defisit tersebut. Salah satu taktik yang digunakan adalah penambangan air tanah fosil, sebuah proses memompa air dari lapisan akuifer yang sangat dalam, di mana tingkat curah hujan setempat tidak cukup untuk mengisi ulangnya.

Praktik penambangan air bawah tanah ini tidak hanya terjadi di Timur Tengah, tetapi juga cukup luas digunakan di Amerika Serikat dan Tiongkok.

Solusi lain yang menjadi andalan negara-negara di kawasan gersang adalah teknologi desalinasi, yakni mengubah air laut atau air asin menjadi air minum konsumsi.

Meski proses desalinasi secara historis membutuhkan energi yang sangat besar dan biaya yang mahal, kemajuan teknologi saat ini mulai membuatnya lebih efisien dan membuka peluang investasi baru di sektor tersebut.

Seiring dengan pergeseran pola iklim global dan permintaan yang terus melonjak, ketersediaan air diproyeksikan akan menjadi isu strategis dan penentu utama arah pertumbuhan ekonomi suatu negara di tahun-tahun mendatang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular