MARKET DATA

Saham Garuda GIAA Langsung Mengangkasa Usai Lepas "Kerangkeng" FCA

saw,  CNBC Indonesia
27 March 2026 08:10
Instagram @petergontha
Foto: Instagram @petergontha

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terbang setelah berhasil keluar dari papan pemantauan khusus (FCA).

Selama tiga hari beruntun, saham GIAA melejit. Terakhir pada penutupan kemarin Kamis (26/3/2026), saham emiten penerbangan itu melonjak lebih dari 15% ke posisi Rp84 per saham.

Penguatan itu sebenarnya sudah susut dibandingkan dengan pentupan sesi I kemarin yang sempat terbang kisaran 23% menuju level Rp90 per saham.

Adapun, kalau ditarik secara mingguan, saham GIAA ini sudah melesat 20%.

Sebagai informasi, saham GIAA itu sebelumnya masuk FCA karena punya ekuitas negatif.

Akhirnya, ekuitas negatif itu sudah berhasil jadi positif tercatat untuk kinerja sampai 2025. Sehingga, tato FCA itu dicabut.

Perbaikan ini terutama ditopang oleh langkah restrukturisasi keuangan dan tambahan modal dari pemerintah melalui BPI Danantara yang mencapai sekitar Rp23,7 triliun.

Suntikan modal tersebut memperkuat struktur permodalan GIAA sekaligus meningkatkan posisi ekuitas yang sebelumnya sempat tertekan cukup dalam.

Selain itu, perbaikan neraca juga datang dari penurunan liabilitas hasil restrukturisasi utang serta sejumlah langkah korporasi seperti konversi pinjaman menjadi ekuitas dan penyesuaian skema pencatatan sewa pesawat.

Kombinasi faktor tersebut membuat selisih antara aset dan liabilitas kembali positif, meski ekuitas GIAA masih relatif tipis. Artinya, meskipun status FCA sudah dicabut, kondisi fundamentalnya masih perlu dicermati karena jika kerugian kembali membesar, ekuitas berpotensi kembali tertekan.

Sebagai catatan, kinerja GIAA sepanjang tahun lalu masih membukukan rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$322,48 juta atau sekitar Rp5,4 triliun. Kerugian ini melebar dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar US$72,7 juta atau sekitar Rp1,1 triliun.

Dari sisi operasional, pendapatan usaha Garuda sepanjang tahun lalu tercatat US$3,21 miliar, turun dari US$3,41 miliar pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, total beban usaha mencapai US$3,1 miliar dengan tambahan beban usaha lainnya sebesar US$468,21 juta, sehingga rugi sebelum pajak tercatat sekitar US$354,34 juta pada 2025.

Per 31 Desember 2025, total aset Garuda Indonesia tercatat US$7,43 miliar dengan liabilitas sebesar US$7,33 miliar. Selisihnya membuat ekuitas perusahaan hanya sekitar US$91,91 juta, masih sangat tipis meskipun sudah kembali positif.

Dari sisi arus kas, Garuda mencatat kas neto dari aktivitas operasi sebesar US$468,37 juta sepanjang 2025. Posisi kas dan setara kas di akhir tahun tercatat US$943,40 juta.

Secara keseluruhan, keluar dari FCA karena ekuitas menjadi positif sudah menjadi satu langkah positif bagi GIAA. Namun, ini masih jadi langkah awal karena ekuitas harus bertumbuh dengan laba yang positif.

PR ke depan masih panjang untuk mengembalikan fundamental ke jalur yang benar. Oleh karena itu, kita juga patut mewaspadai apabila kenaikan yang sudah kencang ini nantinya akan memicu taking profit juga dari investor, apalagi kalau ada yang nyangkut dari lama, pasti akan dimanfaatkan untuk keluar dulu.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular