MARKET DATA

Mengapa Asia Jadi Korban Utama Krisis Energi Dunia?

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia
26 March 2026 09:45
Para pengendara sepeda motor mengantre di sebuah SPBU karena harga minyak diperkirakan akan naik di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Quezon City, Metro Manila, Filipina, 9 Maret 2026. (REUTERS/Lisa Marie David)
Foto: Para pengendara sepeda motor mengantre di sebuah SPBU karena harga minyak diperkirakan akan naik di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Quezon City, Metro Manila, Filipina, 9 Maret 2026. (REUTERS/Lisa Marie David)

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Iran yang mengganggu jalur distribusi energi global mulai menunjukkan dampak serius terhadap perekonomian dunia, terutama di kawasan Asia.

Ketergantungan tinggi pada impor minyak, minimnya cadangan energi, hingga terbatasnya diversifikasi sumber membuat banyak negara Asia berada di posisi paling rentan.

Gangguan di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, memicu lonjakan harga energi global hingga menembus US$100 per barel. Dampaknya tidak hanya terasa pada harga BBM, tetapi juga merembet ke inflasi, biaya produksi, hingga aktivitas sosial masyarakat.

Ketergantungan Impor Energi Jadi Titik Lemah Utama

Salah satu faktor utama yang membuat Asia rentan adalah tingginya ketergantungan pada impor energi, terutama dari Timur Tengah. Banyak negara di kawasan ini tidak memiliki produksi minyak domestik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kondisi ini membuat Asia menjadi kawasan yang paling cepat merasakan dampak ketika terjadi gangguan pasokan global. Ketika distribusi minyak terganggu akibat konflik geopolitik, negara-negara ini tidak memiliki banyak alternatif selain membayar lebih mahal atau mengurangi konsumsi.

Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru AmanFoto: Infografis/ Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman/ Ilham Restu
Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman

 

Di Asia Tenggara, situasinya bahkan lebih kompleks. Selain bergantung pada impor, sebagian besar negara juga memiliki cadangan energi yang terbatas serta infrastruktur energi yang belum optimal. Hal ini membuat gejolak harga global langsung diterjemahkan menjadi tekanan domestik, baik pada fiskal maupun daya beli masyarakat.

Dampak Meluas: Dari BBM Mahal hingga Aktivitas Sosial Terganggu

Krisis energi juga berdampak ke berbagai aspek ekonomi dan sosial. Kenaikan harga BBM memicu lonjakan biaya transportasi dan distribusi, yang pada akhirnya mendorong inflasi.

Di sejumlah negara, dampaknya bahkan sudah terasa pada aktivitas sehari-hari. Antrean panjang di SPBU, kenaikan ongkos transportasi, hingga meningkatnya biaya produksi menjadi fenomena yang mulai umum terjadi.

 

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, tekanan ini jauh lebih berat karena proporsi pengeluaran untuk energi dan transportasi relatif lebih besar. Sementara bagi sektor industri, kenaikan biaya energi mengancam daya saing dan stabilitas produksi.

Dari Subsidi hingga Pembatasan Aktivitas

Menghadapi tekanan tersebut, negara-negara Asia mulai menerapkan berbagai langkah darurat. Mulai dari subsidi energi, penghematan konsumsi, hingga pembatasan aktivitas ekonomi.

Beberapa negara bahkan mulai mengubah pola kerja dan kehidupan masyarakat, seperti penerapan 4 hari kerja dari kantor dalam seminggu, hingga pembatasan penggunaan kendaraan.

Di sisi lain, negara-negara dengan kapasitas fiskal lebih kuat cenderung mengandalkan subsidi untuk menahan gejolak harga. Namun, strategi ini berisiko membebani anggaran negara jika krisis berlangsung lama.

 

Krisis Ini Bisa Jadi Titik Balik Energi Global

Krisis yang dipicu konflik Iran ini tidak hanya menjadi tantangan jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap energi global. Negara-negara mulai menyadari pentingnya ketahanan energi dan perlunya diversifikasi sumber pasokan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat transisi menuju energi alternatif seperti energi terbarukan dan kendaraan listrik. Namun untuk saat ini, beberapa negara justru meningkatkan penggunaan batubara demi menjaga pasokan jangka pendek.

Dengan kata lain, krisis ini menegaskan bahwa energi merupakan faktor strategis yang menentukan stabilitas suatu negara

a

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular