Benarkah Trump Takut "Dihukum" Wall Street Karena Perang Iran?
Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali membuka celah adanya kerentanan utama dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Di balik ancaman kerasnya terhadap Iran, manuver kebijakan Trump tampaknya sangat didikte oleh pergerakan pasar ekuitas domestik. Ketakutan akan rontoknya indeks Wall Street disinyalir menjadi alasan utama di balik munculnya berbagai klaim sepihak terkait kesepakatan damai.
Self claimming ini terkesan hanya ditujukan untuk meredam kepanikan investor dan menjaga stabilitas ekonomi di atas kertas sehingga ada potensi dimana ketakutan Trump terletak pada kehancuran harga di Wall Street dengan tetap menimbang grey area mana yang harus diambil di tengah operasi militer saat ini.
Foto: Titik Ledakan Misil AS-Israel Melawan Iran. Data diambil dari ACLEDInstitute for the Study of WarAEI’s Critical Threats Project |
Wall Street Tertekan dan Retorika Penenang Pasar
Melihat data perdagangan hari Selasa (24/3/2026) reli sesaat yang sempat terjadi di bursa Amerika Serikat terbukti tidak berkelanjutan. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) kembali melemah dan ditutup pada level 46.124,06.
Indeks S&P 500 terkoreksi ke posisi 6.556,37, sementara Nasdaq Composite harus puas ditutup pada level 21.761,89. Penurunan ini semakin mempertegas tren koreksi tajam yang melanda pasar sepanjang bulan Maret.
Sebagai perbandingan, pada pertengahan Februari lalu DJIA sempat menyentuh rekor tertingginya di level 50.188, S&P 500 di level 6.976, dan Nasdaq sempat berjaya di kisaran 23.592.
Di tengah ancaman lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Selat Hormuz, Trump secara mengejutkan menunda ultimatum serangan militernya.
Dalam kurun waktu kurang dari empat puluh delapan jam sejak awal pekan, Trump setidaknya telah melontarkan klaim sepihak yang sangat confident kepada publik.
Trump mengklaim adanya percakapan yang sangat produktif, menyebut bahwa pihak Iran telah melakukan pendekatan untuk menemukan kesepakatan walaupun penyampaian pembahasan masih bersifat tertutup berdasarkan penjelasan Trump pada aku sosial medianya.
Namun, seluruh narasi optimis tersebut langsung dibantah oleh otoritas Iran yang menegaskan bahwa sama sekali tidak ada negosiasi langsung yang sedang berlangsung dengan pihak Washington hingga saat ini sehingga dilabeli sebagai klaim sepihak.
Menjaga Persepsi Publik dan Pelarian Modal ke Asia
Dinamika kontradiktif ini memperkuat analisis bahwa pemerintah Amerika Serikat sengaja menggunakan diplomasi verbal sebagai instrumen utama intervensi pasar saham.
Ketika sentimen Wall Street memburuk akibat ketidakpastian perang, klaim sepihak mengenai de-eskalasi adalah cara paling instan untuk menekan harga komoditas dan memompa kembali moral pelaku pasar saham.
Sayangnya, pasar finansial tidak bisa ditenangkan dengan retorika yang kurang valid dalam jangka waktu yang terlalu lama. Ketiadaan bukti konkret atas kesepakatan tersebut membuat indeks saham Amerika Serikat kembali ditutup di zona merah karena investor mulai menyadari bahwa pernyataan tersebut disinyalir hanyalah upaya menjaga persepsi publik semata.
Ironisnya, ketidakpastian yang diciptakan oleh kebijakan Washington ini justru menjadi katalis positif bagi pasar saham di kawasan Asia.
Di saat Wall Street mengalami koreksi pada penutupan beberapa hari ke belakang, mayoritas indeks utama Asia justru mengalami kenaikan sejak perdagangan kemarin Selasa (24/3/2026) dan juga pada perdagangan hari ini (25/3/2026).
Pada perdagangan pekan ini, bursa saham Jepang, Korea Selatan, Shanghai, Singapura, dan Hong Kong konsisten dibuka melesat dan dominan menghijau dua hari terakhir ini.
Fenomena tersebut mengindikasikan adanya rotasi aliran modal global yang masif. Ketidakkonsistenan pernyataan dari pemerintah Amerika Serikat membuat investor institusional mulai memindahkan dananya ke pelabuhan yang lebih aman.
Bursa Asia kini dipandang memiliki profil risiko yang jauh lebih terukur dibandingkan dengan Wall Street, yang pergerakannya saat ini dinilai terlalu bergantung pada klaim geopolitik yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya.
Selain itu kooperasi negara di Asia lebih konsisten dan bersifat netral tercermin dari pemerintah Jepang yang menolak permintaan AS untuk mengirimkan pasukan ke Timur Tengah guna menjaga dinamikan perang yang terjadi saat ini.
Jika otoritas AS terus bermain dengan sentimen pasar melalui narasi sepihak tanpa adanya resolusi konflik yang nyata, pelarian modal menuju aset-aset ekuitas di kawasan Asia berpotensi menjadi tren struktural yang akan terus berlanjut ke depannya sehingga tujuan utama Trump membentuk "Make America Great Again" nampaknya akan menjadi klaim sepihak juga bagi negara adidaya tersebut.
Foto: REUTERS/Leah MillisU.S. President Donald Trump speaks at a Make America Great Again rally at the Civic Center in Charleston, West Virginia, U.S., August 21, 2018. Picture taken August 21, 2018. REUTERS/Leah Millis |
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google
Foto: Titik Ledakan Misil AS-Israel Melawan Iran. Data diambil dari ACLEDInstitute for the Study of WarAEI’s Critical Threats Project
Foto: REUTERS/Leah Millis