MARKET DATA

IHSG Ramai Jelang Lebaran, Tapi Tetap Ambruk, Terburuk dalam 10 Tahun

saw & Gelson,  CNBC Indonesia
18 March 2026 11:00
foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Transaksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 17 Maret 2026, hari terakhir bursa buka sebelum libur panjang lebaran tembus Rp24 triliun, menjadi yang tertinggi dalam beberapa hari sebelumnya terus mengalami penurunan.

Hal tersebut membuktikan bahwa tiap tahun jelang lebaran transaksi di bursa saham RI selalu ramai. Sayangnya kali ini berbeda, karena transaksi yang ramai terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik.

IHSG sudah melemah selama empat minggu berturut-turut dan kini berada di kisaran 7.100. Jika ditarik dari puncaknya di atas 9.000 pada 20 Januari 2026, indeks sudah terkoreksi lebih dari 20%.

Tidak heran jika aktivitas transaksi menjelang libur Lebaran tahun ini terasa lebih moderat. Meski masih tergolong ramai jika dibandingkan periode 2022-2024, nilainya memang jauh lebih kecil dibandingkan euforia tahun 2025 yang sempat mencatat transaksi sangat besar.

Secara historis, perdagangan saham Indonesia memang cenderung tetap aktif menjelang Lebaran.

Dalam lima tahun terakhir, rata-rata nilai transaksi lima hari sebelum Lebaran selalu berada di atas Rp10 triliun.

 

Jika melihat lebih jauh ke belakang, salah satu periode paling ramai terjadi pada sehari sebelum Lebaran 2020, ketika nilai transaksi melonjak hingga Rp40,40 triliun.

Saat itu, sentimen pasar didorong kabar positif dari Moderna yang mengumumkan hasil awal uji klinis vaksin COVID-19 mRNA-1273. Hasil tersebut menunjukkan pembentukan antibodi pada sejumlah peserta uji coba dan menjadi salah satu titik terang di tengah ketidakpastian pandemi.

Lonjakan aktivitas juga pernah terjadi pada 2022, tepatnya tiga hari sebelum Lebaran, dengan nilai transaksi mencapai Rp39,78 triliun.

Pada periode tersebut, pasar saham didukung net foreign buy mencapai Rp19,43 triliun. Masifnya aliran dana asing didorong oleh pemulihan kinerja emiten pascapandemi serta momentum commodity boom yang mendorong profit perusahaan sektor energi dan komoditas.

Sementara pada 2026, meskipun kondisi pasar sedang dalam fase koreksi, aktivitas perdagangan menjelang libur Lebaran masih terbilang cukup ramai dengan transaksi yang tetap berada di atas Rp24 triliun pada hari terakhir perdagangan.

Namun, perlu dipahami bahwa nilai transaksi tersebut merupakan gabungan dari aktivitas jual dan beli di pasar. Artinya, tingginya nilai transaksi tidak selalu mencerminkan optimisme investor, karena bisa saja terjadi akibat aksi jual yang besar di tengah tekanan pasar.

Apalagi dalam kondisi IHSG yang sedang melemah dalam beberapa minggu terakhir, aktivitas transaksi yang tinggi bisa jadi mencerminkan banyak investor yang melakukan rebalancing portofolio, taking profit, atau bahkan cut loss sebelum memasuki periode libur panjang Lebaran.

IHSG Ramadan 2026 

Secara historis, pergerakan IHSG menjelang Hari Raya Idul Fitri selalu diwarnai volatilitas. Berdasarkan data pergerakan satu pekan sebelum libur Lebaran dalam 12 tahun terakhir (2015-2026), mayoritas pergerakan indeks hanya berkisar koreksi minor hingga penguatan moderat.

Lonjakan pra-Lebaran terbesar terjadi pada 2016 dengan kenaikan 4,82%, diikuti 2019 sebesar 2,92% dan 2025 sebesar 2,02%. Sebaliknya, penurunan terdalam justru terjadi pada 2026, ketika IHSG terkoreksi sekitar 4%.

Anomali negatif paling mencolok terjadi tahun ini. Menjelang libur Lebaran 18-24 Maret 2026, IHSG justru mencatat koreksi terdalam dalam lebih dari satu dekade, yakni turun 4,49% dalam sepekan.

Pelemahan tajam ini bukan semata faktor musiman seperti aksi tarik dana investor ritel menjelang libur panjang. Tekanan utama datang dari sentimen makroekonomi dan geopolitik global yang memanas sepanjang bulan ini.

Ketegangan Amerika Serikat-Iran di Timur Tengah mengguncang pasar energi global dan mendorong harga minyak dunia melonjak di atas US$100 per barel. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi global, sehingga pasar memperkirakan The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset safe haven. Tekanan juga dirasakan oleh sejumlah bursa Asia seperti Sensex (India), KOSPI (Korea Selatan), dan Nikkei (Jepang) yang sama-sama sensitif terhadap gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz.

Di sisi domestik, lonjakan harga minyak memunculkan kekhawatiran terhadap potensi pembengkakan subsidi energi dalam APBN. Pada saat yang sama, rupiah juga tertekan oleh penguatan dolar AS, yang sempat membawa nilai tukar mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular