MARKET DATA

5 Periode Paling Kritis IHSG: Dari Titik Terlemah hingga Bangkit Lagi

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
17 March 2026 09:15
Ilustrasi Trading (Dok MIFX)
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah menghadapi tekanan jual akibat sentimen geopolitik global.

Untuk memberikan perspektif yang terukur terkait kondisi pasar saat ini, investor dapat meninjau kembali riwayat drawdown atau penurunan dari titik puncak ke titik terendah yang pernah terjadi di bursa saham domestik.

CNBC Indonesia mencoba mengurai titik-titik kritis IHSG dalam enam tahun terakhir untuk memberi gambaran apa yang terjadi dalam perdagangan bursa saham Indonesia.

Berdasarkan data perdagangan sejak tahun 2019, terdapat lima fase koreksi di masa lalu yang dipicu oleh berbagai sentimen makroekonomi dan geopolitik, sebelum indeks akhirnya berhasil menemukan titik keseimbangan baru (pivot). Berikut adalah rincian dari kelima siklus historis tersebut.

1. Krisis Pandemi COVID-19 (2019 - 2020)
Fase ini merupakan koreksi terdalam dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh berhentinya aktivitas ekonomi global akibat pandemi hingga banyak PDB di dunia mengalami penurunan hingga resesi akibat perubahan gaya hidup melalui tatap muka daring akibat ketakutan masyarakat terpapar virus Covid-19.

  • Titik Puncak: 6.547 (6 Februari 2019)

  • Titik Terendah: 3.937 (24 Maret 2020)

  • Persentase Penurunan: -39,86%

  • Durasi Menuju Pivot: 412 hari

2. Penyesuaian Pasca-Reli Komoditas Era Rusia-Ukraina (April - Mei 2022)
Koreksi jangka pendek yang terjadi sebagai bentuk penyesuaian pasar setelah IHSG sempat mencatatkan reli panjang yang didorong oleh lonjakan harga komoditas global walaupun setelah ini masih mengalami kenaikan lanjutan akibat kenaikan harga komoditas global yang juga meningkat terutama batubara.

  • Titik Puncak: 7.276 (21 April 2022)

  • Titik Terendah: 6.597 (13 Mei 2022)

  • Persentase Penurunan: -9,32%

  • Durasi Menuju Pivot: 22 hari

3. Siklus Pengetatan Suku Bunga Global (September 2022 - Maret 2023)
Penurunan bertahap yang didorong oleh kebijakan agresif bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dalam menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan tingkat inflasi yang tinggi hingga di angka 9,1% pada puncaknya di bulan Juni 2022 akibat perang dan juga kebijakan QE oleh The Fed pada saat pandemi.

  • Titik Puncak: 7.318 (13 September 2022)

  • Titik Terendah: 6.565 (16 Maret 2023)

  • Persentase Penurunan: -10,28%

  • Durasi Menuju Pivot: 184 hari

4. Antisipasi Kebijakan Moneter dan Transisi Domestik (Maret - Juni 2024)
Tekanan jual menengah yang dipicu oleh narasi suku bunga tinggi yang tertahan lebih lama (higher for longer), bersamaan dengan kehati-hatian investor dalam menyikapi masa transisi pemerintahan di Indonesia hal ini memicu, pelemahan signifikan terhadap Rupiah dan didorong oleh penerapan FCA serta kasus Evergrande di China.

  • Titik Puncak: 7.433 (14 Maret 2024)

  • Titik Terendah: 6.726 (19 Juni 2024)

  • Persentase Penurunan: -9,50%

  • Durasi Menuju Pivot: 97 hari

5. Efek Kebijakan Tarif Pasca-Pemilu AS (Oktober 2024 - April 2025)
Kemenangan Donald Trump dan antisipasi implementasi kebijakan tarif perdagangan proteksionis memberikan sentimen negatif pada negara berkembang, membawa IHSG masuk ke dalam siklus bear market hingga akhirnya pada lebaran tahun 2025, Trump mengumumkan adanya tarif kepada negara-negara yang dikenal sebagai "Liberation Day".

  • Titik Puncak: 7.788 (22 Oktober 2024)

  • Titik Terendah: 5.967 (9 April 2025)

  • Persentase Penurunan: -23,38%

  • Durasi Menuju Pivot: 169 hari

RI Jadi Korban Baru Perang Dagang TrumpFoto: Cover Fokus/ RI Jadi Korban Baru Perang Dagang Trump/Aristya Rahadian
RI Jadi Korban Baru Perang Dagang Trump

Kinerja IHSG Terkini: Penurunan Akibat MSCI Hingga Eskalasi Geopolitik

Di luar kelima siklus historis di atas, IHSG saat ini tengah berada dalam fase penurunan baru yang didominasi oleh MSCI pada 28 Januari 2026. Walaupun sudah mengalami rebound dan mendapatkan inflow, eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis selanjutnya.

Kekhawatiran akan disrupsi rantai pasok energi memicu penghindaran risiko massal di pasar saham global baik dari S&P500, SSE, Nikkei, Kospi, Stoxx, UKX, dan beberapa indeks bursa saham lainnya.

Berikut adalah rincian data kinerja indeks berjalan hingga perdagangan hari ini Senin (16/3/2026):

  • Rekor Tertinggi Terakhir: IHSG menyentuh puncaknya pada level 9.134,70 pada 20 Januari 2026.

  • Posisi Indeks Terkini: Berdasarkan data terakhir hari ini, IHSG berada di level 7.018,75 pada 10.30 WIB.

  • Persentase Penurunan Berjalan: Indeks tercatat telah terdepresiasi sebesar -23,16% dari titik rekor tertingginya.

  • Durasi Penurunan: Fase koreksi ini baru berjalan selama 55 hari.

Melihat persentase penurunan yang kembali melewati batas 20%, kondisi pasar saat ini secara teknis telah memasuki teritori bear market. Mengacu pada siklus penurunan akibat sentimen global sebelumnya seperti pada tahun 2024-2025 yang memakan waktu 169 hari.

Pasar diestimasi masih membutuhkan waktu konsolidasi dan penyesuaian (price discovery) sebelum fundamental pasar mampu membentuk pijakan pivot yang valid untuk melanjutkan kenaikan valuasi pasar saham domestik.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular