Hasil Peradaban Islam, Tak Banyak yang Tahu Bayam Berasal dari Iran
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Bayam hari ini hadir hampir di setiap dapur dunia. Daun hijau ini muncul dalam salad, masakan Mediterania, hingga dalam sajian sop di warteg terdekat.
Namun sejarah panjang bayam jarang dibicarakan. Melansir dari berbagai catatan botani dan sejarah kuliner yang dirangkum food literacy centre, tanaman ini berasal dari Persia kuno wilayah yang kini dikenal sebagai Iran sebelum menyebar ke berbagai benua melalui jaringan perdagangan dan ekspansi dunia Islam.
Secara etimologi, kata "spinach" berasal dari bahasa Persia ispanai, yang berarti "tangan hijau". Kata tersebut kemudian berubah dalam bahasa Latin menjadi spanachia, lalu berkembang menjadi "spinach" dalam bahasa Inggris.
Budidaya bayam telah dilakukan di Persia lebih dari 2.000 tahun lalu. Di wilayah ini bayam tumbuh dari tanaman liar yang dikenal sebagai Spinacia tetrandra, sejenis sayuran hijau yang dapat dimakan.
Penyebaran bayam keluar dari Persia terjadi melalui jalur perdagangan Asia. Melansir dari penelitian sejarah tanaman pangan, bayam tercatat tiba di China pada tahun 647 M. Catatan sejarah menyebut sayuran tersebut dikirim dari Nepal ke istana China.
Di sana bayam dikenal dengan sebutan "Persian Green" atau sayuran Persia. Nama itu mencerminkan asal geografis tanaman tersebut sekaligus jalur penyebarannya.
Ekspansi berikutnya terjadi melalui jaringan peradaban Islam pada abad pertengahan. Umat Muslim membawa bayam ke wilayah Mediterania sekitar abad ke-9. bayam diperkenalkan di Sisilia sekitar tahun 827 M. Dari sana tanaman ini menyebar ke berbagai wilayah Eropa selatan.
Peran penting berikutnya datang dari bangsa Moor di Afrika Utara. Bangsa Moor membawa bayam ke Spanyol pada abad ke-11. Dari wilayah Iberia ini, bayam kemudian menyebar ke berbagai wilayah Eropa. Pada masa itu Inggris bahkan menyebutnya "the Spanish vegetable" atau sayuran Spanyol karena jalur masuknya berasal dari Semenanjung Iberia.
Pada abad pertengahan, bayam mulai menjadi tanaman penting di kawasan Mediterania. Budidaya bayam semakin luas pada abad ke-14 hingga abad ke-15. Sayuran ini sering muncul dalam berbagai hidangan Mediterania dan menjadi tanaman musim semi yang bernilai tinggi di Inggris.
Perjalanan bayam memasuki budaya kuliner Eropa semakin kuat pada abad ke-16. Salah satu tokoh yang berperan adalah Catherine de Medici, bangsawan Italia dari keluarga Medici. Ketika ia menikah dengan Raja Prancis dan pindah dari Florence, ia membawa para juru masaknya. Hidangan berbasis bayam yang mereka sajikan kemudian melahirkan istilah kuliner "a la Florentine", yang merujuk pada masakan yang disajikan di atas lapisan bayam.
Masuknya bayam ke Dunia Baru terjadi bersamaan dengan gelombang kolonisasi Eropa. Bayam dibawa ke Amerika oleh para pemukim awal. Tanaman ini kemudian berkembang menjadi komoditas pertanian penting.
Popularitas bayam di Amerika melonjak pada abad ke-20. Melansir dari sejarah industri bayam di Amerika Serikat, karakter kartun Popeye the Sailor Man yang diperkenalkan pada tahun 1929 berperan besar dalam meningkatkan konsumsi sayuran ini. Tokoh tersebut digambarkan memperoleh kekuatan setelah memakan bayam. Popularitas karakter ini mendorong peningkatan penjualan bayam selama dekade 1930-an.
Di masa modern, bayam menjadi salah satu sayuran daun paling banyak dibudidayakan di dunia. China, Amerika Serikat, dan Jepang termasuk negara produsen utama dengan total produksi lebih dari 20 juta ton per tahun. Produksi ini menjadikan bayam sebagai bagian penting dari rantai pangan global.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/wur) Addsource on Google