Dunia Kaget! Harga Perak Terkapar, Jatuh Lebih Tajam dari Emas
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Harga logam mulia bergerak melemah. Harga perak bahkan anjlok dengan cepat melebihi emas.
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 5.175,45 per troy ons atau menguat 0,31% pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Pelemahan ini berbanding terbalik dengan kenaikan 1,06% pada Selasa.
Pada hari ini, harga emas masih jatuh. Pada Kamis (12/3/2026) pukul 14.33 WIB, harga emas diperdagangkan di US$ 5.169,07 per troy ons atau melandai 0,12%.
Sejak perang Iran versus Israel- Amerika Serikat (AS) pada 28 Februari 2026, harga emas sudah jatuh 2,05%.
Sementara harga emas hanya turun tipis, harga perak justru jatuh jauh lebih tajam. Perak turun hampir 3% secara intraday, menunjukkan volatilitasnya yang memang lebih tinggi dibanding emas.
Merujuk Refinitiv, harga perak ditutup di posisi US$ 86,32 per troy ons atau anjlok 2,35% pada perdagangan Rabu (11/3/2026).
Pada hari ini, Kamis (12/3/2026) pukul 14.35 WIB, harga perak diperdagangkan di US$ 86,44 per troy ons atau naik 0,76%. Sejak perang meletus, harga perak sudah jatuh 7,4%.
Penurunan terjadi pada dua aset utama, harga emas dan perak. Namun besarnya koreksi berbeda cukup jauh.Â
Harga perak sering kali bergerak lebih liar dibanding emas. Ketika sentimen pasar berubah, logam ini bahkan bisa jatuh jauh lebih dalam dibandingkan emas.
Hal ini terjadi karena perak memiliki karakter unik: selain sebagai logam mulia, perak juga merupakan komoditas industri yang banyak digunakan dalam berbagai sektor manufaktur. Kombinasi dua peran ini membuat harga perak sangat sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan pasar keuangan global.
Pasar perak juga lebih kecil serta dominasi aktivitas spekulatif. Akibatnya, ketika terjadi tekanan jual, harga perak bisa turun lebih cepat dan lebih dalam.
Melansir dari The Economic Times selisih penurunan tersebut berakar pada struktur pasar kedua logam. Tekanan awal datang dari perubahan arus dana global.
Investor mengalihkan portofolio menuju dolar Amerika Serikat dan obligasi pemerintah AS ketika imbal hasil mendekati 4%. Pergeseran ini mengurangi minat terhadap aset yang tidak menghasilkan bunga, termasuk emas dan perak.
Ketika dolar menguat, harga perak menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli di negara lain. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan global dan akhirnya memicu koreksi harga.
Indeks dolar melesat ke level 99 setelah perang Iran.
Namun faktor yang paling keras menghantam perak berasal dari pasar derivatif. Bursa CME menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka perak sebesar 36%. Kenaikan margin membuat trader dengan posisi leverage tinggi harus menambah jaminan.
Banyak pelaku pasar memilih menutup posisi secara cepat. Aksi likuidasi tersebut memicu tekanan jual yang jauh lebih tajam pada perak dibandingkan emas.
Dari sisi dinamika harga sebelumnya, posisi perak memang lebih rentan terhadap koreksi. Logam ini sempat melonjak hingga mendekati US$90 per ons dalam reli kuat sejak awal tahun. Kenaikan cepat tersebut membuka ruang aksi ambil untung ketika sentimen makro berubah. Emas berada di situasi berbeda karena pergerakannya lebih stabil dan masih bertahan dekat level puncak historis.
Perubahan ekspektasi kebijakan moneter juga memperkuat tekanan pada seluruh kompleks logam. Pasar mulai menilai suku bunga tinggi di Amerika Serikat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik dolar serta obligasi pemerintah. Logam mulia kehilangan sebagian dukungan karena keduanya tidak menawarkan imbal hasil.
Pergerakan harga logam industri lain menunjukkan pola yang sama. Platinum tercatat turun sekitar US$51 menuju kisaran US$2.183 per ons dan tembaga bergerak melemah di sekitar US$5,86 per pon.
Tekanan utama berasal dari faktor makro global, bukan dari perubahan fundamental masing-masing komoditas.
Meski demikian, gambaran jangka panjang untuk perak belum berubah drastis.
Permintaan industri tetap tinggi. Sektor energi surya dan infrastruktur kecerdasan buatan membutuhkan logam ini dalam jumlah besar.
Artinya koreksi yang terjadi saat ini lebih menggambarkan penyesuaian pasar setelah reli tajam serta perubahan likuiditas global.
Emas mempertahankan perannya sebagai penyimpan nilai ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Perak bergerak lebih sensitif terhadap dinamika perdagangan dan struktur pasar derivatif. Saat tekanan likuiditas muncul, volatilitas perak cenderung jauh lebih besar dibandingkan emas.
Berbeda dengan emas yang lebih dominan sebagai aset lindung nilai, sekitar 50-60% permintaan perak berasal dari sektor industri sehingga permintaan industri sangat menentukan.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google