MARKET DATA

Pesta Laba 6 Emiten CPO Ini Bikin Silau: Ada yang Melonjak 100%

saw,  CNBC Indonesia
11 March 2026 08:15
Kebun Sawit milik Sampoerna Agro. (Dok sampoerna agro)
Foto: Kebun Sawit milik Sampoerna Agro. (Dok sampoerna agro)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja keuangan deretan emiten minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) berhasil tumbuh moncer sampai double digit.

Kami mengumpulkan ada enam emiten CPO yang sudah rilis laporan keuangan sampai periode 2025.

Pertama, sorotan utama datang dari PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) yang mencatat lonjakan laba bersih hingga 102,23%.

Menariknya, pertumbuhan pendapatan perusahaan hanya berada di kisaran 10%, sehingga kenaikan laba ini lebih mencerminkan keberhasilan manajemen dalam menekan beban pokok penjualan serta meningkatkan efisiensi rantai pasok di bisnis hilirisasi.

Selain itu, langkah strategis perusahaan juga terlihat dari upaya memperkuat struktur permodalan. Pada awal 2026, SMAR dilaporkan cukup agresif dengan menerbitkan obligasi guna memperkuat fleksibilitas pendanaan di tengah dinamika industri.

Kinerja solid juga ditunjukkan oleh PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Emiten sawit milik Grup Astra ini membukukan kenaikan laba bersih 28,24% menjadi Rp1,47 triliun.

Dari sisi fundamental, AALI juga mencatat perbaikan neraca yang cukup signifikan, tercermin dari penurunan liabilitas hingga 48,48%. Strategi perusahaan dalam merampingkan struktur keuangan membuat posisi AALI menjadi lebih sehat dan adaptif dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas yang kerap terjadi di industri sawit.

Di sisi lain, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah beberapa tahun berada di bawah tekanan kinerja.

Perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan 33,90% menjadi Rp5,76 triliun, didorong oleh peningkatan volume penjualan sekitar 15%. Transformasi yang mengedepankan prinsip ESG (Environment, Social, and Governance) serta optimalisasi usia produktif tanaman tampaknya mulai membuahkan hasil dan memberi dorongan bagi perbaikan kinerja operasional.

Sementara itu, emiten yang berada di bawah Grup Salim, yakni PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), kembali menunjukkan kekuatan model bisnis terintegrasi. LSIP berhasil mencatatkan laba bersih Rp1,88 triliun meskipun produksi TBS inti sempat turun sekitar 3%.

Penurunan tersebut berhasil dikompensasi oleh kenaikan harga jual serta strategi pembelian TBS dari pihak eksternal. Menariknya, hingga Desember 2025 LSIP masih mempertahankan status sebagai emiten tanpa utang bank, yang menegaskan kekuatan neraca perusahaan.

Sementara itu, SIMP membukukan penjualan Rp21,05 triliun dengan pertumbuhan laba 33,42%. Integrasi bisnis dari kebun hingga produk hilir seperti minyak goreng menjadi salah satu faktor penting yang menopang kinerja perusahaan.

Adapun PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) juga mencatat performa yang cukup impresif. Perusahaan menutup tahun dengan laba bersih sekitar Rp1,10 triliun, dengan capaian yang sebenarnya sudah terlihat sejak awal.

Bahkan hingga September 2025, realisasi laba bersih TLDN sudah melampaui total laba sepanjang tahun 2024. Manajemen menyebut kinerja ini banyak ditopang oleh peningkatan volume penjualan CPKO (crude palm kernel oil), komoditas turunan sawit yang pada periode tersebut mencatat kenaikan harga lebih tinggi dibandingkan CPO standar.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular