MARKET DATA

Perang AS-Israel VS Iran Memanas, Asuransi Siber Diburu

Achmad Aris,  CNBC Indonesia
10 March 2026 13:50
Ilustrasi Keamanan Cyber
Foto: Ilustrasi Keamanan Cyber

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi perang di Timur Tengah antara AS-Israel VS Iran diperkirakan tidak hanya meningkatkan ketidakpastian geopolitik global, tetapi juga mendorong meningkatnya risiko serangan siber lintas negara.

Situasi ini berpotensi memicu lonjakan permintaan asuransi siber (cyber insurance) di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Laporan terbaru dari GlobalData menyebutkan bahwa konflik geopolitik modern semakin sering diiringi dengan eskalasi aktivitas siber, mulai dari cyber warfare, hacktivism, hingga serangan ransomware yang menyasar sektor bisnis, lembaga keuangan, dan infrastruktur digital.

Dalam survei GlobalData terhadap pelaku industri asuransi komersial, sekitar 27,4% responden menilai asuransi siber akan menjadi lini bisnis dengan pertumbuhan permintaan terbesar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Asuransi siber berada di peringkat teratas di atas asuransi risiko politik (25%), asuransi rantai pasokan (23,8%), dan asuransi gangguan bisnis (13,1%), menunjukkan bahwa pelaku industri semakin memperkirakan guncangan geopolitik akan berdampak pada peningkatan insiden keamanan digital.

Menurut analis GlobalData, hotspot geopolitik saat ini tidak lagi hanya tercermin dalam risiko perang konvensional atau political risk insurance, tetapi juga tercermin dalam meningkatnya ancaman terhadap sistem digital perusahaan di seluruh dunia.

Charlie Hutcherson, Analis Asuransi GlobalData, mengatakan titik rawan geopolitik semakin dihargai bukan hanya melalui risiko perang maritim dan risiko politik tetapi juga melalui ekspektasi eskalasi siber.

"Survei GlobalData menunjukkan bahwa asuransi siber dipandang sebagai produk komersial yang paling mungkin mengalami peningkatan permintaan, karena bisnis mengantisipasi probabilitas yang lebih tinggi terjadinya peristiwa siber yang mengganggu di samping gangguan fisik terhadap jalur perdagangan," katanya dikutip, Selasa (10/3/2026).

Perkembangan terkini di Timur Tengah semakin menggambarkan bagaimana konflik geopolitik dapat memengaruhi pasar asuransi di berbagai lini. Laporan ini menunjukkan bahwa beberapa perusahaan asuransi maritim telah menangguhkan pertanggungan risiko perang untuk kapal yang memasuki Teluk Persia dan perairan sekitarnya, sementara premi untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz telah meningkat karena penanggung menilai kembali lingkungan ancaman di sekitar salah satu koridor energi paling strategis di dunia.

Risiko Digital Ikut Meningkat

Konflik geopolitik saat ini semakin sering merembet ke ruang digital. Serangan siber dapat menargetkan jaringan perusahaan, sistem pembayaran, hingga pusat data yang menopang aktivitas ekonomi digital.

Bagi perusahaan, dampaknya dapat berupa gangguan operasional, kebocoran data pelanggan, hingga kerugian finansial akibat terhentinya layanan digital.

Bahkan menurut informasi yang berkembang, salah satu dukungan yang diberikan oleh China dan Rusia kepada Iran dalam perang melawan AS-Israel adalah melalui operasi intelijen siber dan geospasial terkait aset-aset strategis lawan.

Oleh karena itu, banyak korporasi global mulai memperkuat strategi cyber risk management, termasuk melalui pembelian polis asuransi siber guna melindungi aset digital dan memastikan keberlangsungan bisnis.

Hutcherson menyimpulkan meskipun para penanggung sudah menilai ulang risiko yang terkait dengan koridor pelayaran dan energi seperti Selat Hormuz, pergeseran yang lebih besar adalah bahwa perusahaan-perusahaan merencanakan dampak konflik yang meluas ke pasar Barat melalui aktivitas siber.

"Akibatnya, perusahaan asuransi akan menghadapi tekanan tambahan untuk menyempurnakan selera risiko siber, penetapan harga, dan manajemen akumulasi jika mereka ingin memenuhi kebutuhan pelanggan dan mempertahankan bisnis di lingkungan yang semakin bergejolak."

Pasar Asuransi Siber di Indonesia

Di Indonesia sendiri, pasar asuransi siber masih relatif kecil, tetapi potensinya dinilai sangat besar seiring percepatan transformasi digital.

Sejumlah pelaku industri menyebut porsi premi asuransi siber di Indonesia masih berada pada kisaran sangat kecil dibandingkan total premi industri, karena tingkat literasi dan kesadaran risiko digital di kalangan perusahaan masih berkembang.

Meski demikian, tren serangan siber yang terus meningkat membuat produk ini mulai dilirik oleh sektor-sektor dengan ketergantungan digital tinggi seperti perbankan, fintech, e-commerce, telekomunikasi, dan perusahaan teknologi.

Beberapa perusahaan asuransi bahkan mulai mengembangkan produk khusus untuk melindungi perusahaan dari berbagai risiko digital, mulai dari kebocoran data, serangan ransomware, hingga gangguan operasional sistem IT.

Di sisi lain, otoritas dan industri juga mulai memperkuat ketahanan siber sektor keuangan melalui kolaborasi dengan lembaga keamanan digital nasional guna memetakan profil risiko siber di industri asuransi.

Dengan semakin luasnya digitalisasi ekonomi Indonesia, kebutuhan terhadap perlindungan risiko siber berpotensi terus meningkat, terutama jika ketegangan geopolitik global memicu eskalasi serangan digital lintas negara.

(ach/ach) Add as a preferred
source on Google



Most Popular