Harga Perak Mulai Bergairah, Siap-Siap Meroket Lagi?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak kembali bergairah di perdagangan akhir pekan ini, setelah sempat terkoreksi karena investor tampaknya mengambil rehat sejenak setelah mengalami lonjakan harga beberapa waktu lalu.
Merujuk Refinitiv, harga perak di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/3/2026) ditutup di posisi US$84,33 per troy ons, melonjak 2,63% dari perdagangan sehari sebelumnya. Namun sepanjang pekan ini, harga perak masih merosot 10,11% secara point-to-point (ptp).
Pergerakan harga perak cenderung mengikuti emas yang kembali bangkit, meski sepanjang pekan ini juga masih merana karena berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga serta kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi. Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang masih cukup kuat turut mempengaruhi harga perak.
Lonjakan harga minyak global akibat eskalasi yang meningkat di Timur Tengah telah meredam prospek penurunan suku bunga, dengan pasar sekarang memperkirakan pelonggaran kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sekitar 40 basis poin tahun ini.
Para pembuat kebijakan The Fed akan bertemu pada 18 Maret 2026, di mana mereka secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil, dengan pemotongan pertama diperkirakan terjadi pada Juli 2026.
Di sisi lain, Laporan Challenger Job Cuts menunjukkan perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 48.307 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Februari, turun 55% dibandingkan Januari yang mencapai 108.435 PHK.
Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran (Initial Jobless Claims) untuk pekan yang berakhir 28 Februari tercatat 213 ribu, sama dengan angka sebelumnya dan lebih rendah dari perkiraan pasar 215 ribu.
Di sisi lain, produktivitas tenaga kerja nonpertanian (Nonfarm Productivity) pada kuartal IV 2025 naik 2,8%, melambat dari sebelumnya 5,2%. Pada periode yang sama, biaya tenaga kerja per unit (Unit Labor Cost) meningkat 2,8%, berbalik dari penurunan -1,8% pada kuartal III.
"Laporan penggajian yang sangat lemah yang menunjukkan kehilangan pekerjaan besar-besaran di sektor swasta bersamaan dengan kenaikan upah mengisyaratkan stagflasi," kata Tai Wong, seorang pedagang logam independen, dikutip dari Reuters, Minggu (8/3/2026).
Kendati melemah, sama halnya dengan emas, perak memiliki potensi naik karena perang.
Israel melancarkan gelombang besar serangan ke Teheran pada Kamis (5/3/2026), menargetkan apa yang disebut sebagai infrastruktur milik otoritas Iran, setelah rudal Iran membuat jutaan warga Israel berlari menuju bunker perlindungan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd) Addsource on Google