Asia Tak Kompak Hadapi AS: Won - Rupee Perkasa, Rupiah Paling Sengsara
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang negara-negara Asia bergerak bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Jumat (6/3/2026). Meski demikian, rupiah masih berada di zona pelemahan di tengah dinamika dolar AS dan sentimen geopolitik Timur Tengah.
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.15 WIB, dari sebelas mata uang Asia yang dipantau, delapan mata uang menguat dan tiga melemah terhadap greenback.
Penguatan paling besar dipimpin won Korea Selatan yang naik 0,28% ke posisi KRW 1.476,9/US$. Dolar Singapura menyusul menguat 0,19% ke level SGD 1,278/US$, sementara rupee India naik 0,15% ke INR 91,62/US$.
Dong Vietnam juga menguat 0,11% ke VND 26.180/US$, disusul peso Filipina yang naik 0,06% ke PHP 58,82/US$. Yen Jepang menguat tipis 0,03% ke JPY 157,51/US$, begitu juga dolar Taiwan yang naik 0,03% ke TWD 31,75/US$.
Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang Asia yang paling lemah pada perdagangan pagi ini setelah tertekan 0,20% ke level Rp16.908/US$. Pelemahan rupiah disusul ringgit Malaysia yang turun 0,18% ke MYR 3,947/US$ serta yuan China yang melemah 0,18% ke CNY 6,90/US$.
Sementara itu, baht Thailand juga berada di zona merah dengan penurunan tipis 0,03% ke THB 31,75/US$.
Pergerakan mata uang Asia pagi ini sejalan dengan pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang justru melemah. DXY per pukul 09.15 WIB terpantau turun 0,37% ke level 98,952.Â
Meski melemah pada perdagangan pagi ini, dolar AS masih berada di jalur penguatan dalam sepekan. Indeks dolar stabil di kisaran 99 dan berpotensi naik lebih dari 1% pekan ini, didorong permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak yang mengguncang pasar keuangan global.
Konflik AS-Israel dengan Iran kini memasuki hari ketujuh, sementara Teheran dilaporkan kembali melancarkan gelombang serangan rudal dan drone ke wilayah Teluk.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan ingin ikut berperan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya, sembari menepis kemungkinan Mojtab Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran yang telah wafat, sebagai kandidat kuat.
Kenaikan harga minyak turut memicu kekhawatiran inflasi global kembali naik, sehingga memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menunda pemangkasan suku bunga.
Pasar pun mulai menggeser ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed berikutnya ke September atau Oktober, dari sebelumnya diperkirakan pada Juli.
Kondisi tersebut cenderung memberi dukungan pada dolar AS dan dapat menekan mata uang negara-negara pengimpor minyak, termasuk sejumlah mata uang Asia, meski pergerakannya pada perdagangan pagi ini masih bervariasi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google