Bitcoin Melesat Minggu Ini di Tengah Perang Iran, Safe Haven Bergeser?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar aset kripto menunjukkan tren penguatan pada perdagangan Jumat (06/03/2026). Bitcoin (BTC) kembali diperdagangkan di atas level US$71.000. Kenaikan ke arah ini sejalan dengan proyeksi pergerakan yang ditargetkan di US$72.000 yang sudah tercapai, dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pergerakan ini mengindikasikan adanya pergeseran arus modal, di mana likuiditas dari kawasan konflik mengalir ke instrumen digital di tengah terkoreksinya harga aset pelindung nilai konvensional seperti emas yang sekarang bertengger di level $5.130 atau setara dengan -5,37% dari sejak terjadi perang di Iran.
Kinerja Pasar: Bitcoin dan Ethereum
Berdasarkan data pasar terkini, Bitcoin (BTC) berada di level US$71.203,31. Walaupun mencatatkan koreksi harian sebesar -2,03%, Bitcoin membukukan penguatan mingguan sebesar +5,59%. Pergerakan ini menunjukkan adanya penyerapan likuiditas pembelian yang cukup stabil di tengah tekanan jual global.
Sementara itu, Ethereum (ETH) diperdagangkan pada harga US$2.086,00. Aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar kedua ini mencatatkan koreksi harian sebesar -1,65%, namun secara mingguan masih mempertahankan tren positif dengan kenaikan sebesar +3,04%.
Dinamika Sektor Altcoin
Pada sektor altcoin, pergerakan harga cenderung bervariasi. Binance Coin (BNB) dan Solana (SOL) mencatatkan kenaikan mingguan masing-masing sebesar +3,91% ke level US$650,83 dan +3,33% ke level US$89,07. Token UNUS SED LEO (LEO) juga mencatatkan pertumbuhan mingguan sebesar +3,06% ke level $9,05.
Di sisi lain, beberapa aset masih mengalami koreksi. Cardano (ADA) dan Dogecoin (DOGE) mencatatkan penurunan mingguan masing-masing sebesar -5,96% dan -3,36%. Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa arus modal saat ini lebih terfokus secara selektif pada aset-aset berkapitalisasi besar.
Katalis Geopolitik: Transisi Fungsi 'Safe Haven'
Kenaikan harga Bitcoin ke level US$71.200 berkaitan dengan dampak krisis geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran. Situasi ketidakpastian ini mendorong sebagian masyarakat dan entitas di kawasan tersebut untuk mencari alternatif instrumen penyimpan nilai (store of value) yang likuid dan dapat diakses dengan cepat.
Pada saat yang bersamaan, harga emas global sempat mengalami koreksi yang didorong oleh aksi sell on news. Penurunan harga emas ini bertepatan dengan peningkatan volume pembelian pada Bitcoin. Hal ini memberikan indikasi bahwa Bitcoin difungsikan sementara waktu sebagai safe haven alternatif oleh pelaku pasar di wilayah konflik karena kemudahan dalam proses transfer aset.
Outlook Pasar
Kenaikan ke level US$72.000 sudah terjadi karena ini merupakan respons teknikal terhadap situasi geopolitik jangka pendek. Oleh karena itu, pergerakan ini dinilai sebagai pantulan sementara seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, dan belum mengindikasikan dimulainya siklus kenaikan jangka panjang yang baru.
Mengingat target resistensi jangka pendek telah tercapai, potensi kenaikan lebih lanjut diperkirakan akan terbatas. Faktor-faktor makroekonomi seperti risiko inflasi dan potensi kebijakan quantitative tightening diperkirakan akan menjadi pengukur penting untuk arah pasar ke depannya.
Proyeksi jangka panjang tidak mengalami perubahan. Target akumulasi utama tetap berada di rentang harga US$40.000 hingga US$45.000. Level ini diproyeksikan akan menjadi titik dasar siklus empat tahunan yang diperkirakan terjadi pada Kuartal III atau Kuartal IV 2026.
Pendekatan konservatif dan strategi pengamanan likuiditas dengan mental wait and see masih dianjurkan dalam menghadapi kondisi pasar saat ini, mengingat ketidakstabilan perang saat ini akan mulai dirasakan tidak secara langsung namun dalam beberapa bulan hingga tahun ke depan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google