MARKET DATA

8 Negara Ini Tetap Kaya Tanpa Minyak, Sumber Duitnya dari Mana?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
04 March 2026 13:40
FILE PHOTO: An oil pump jack is seen in Artesia, New Mexico, U.S., April 6, 2023. REUTERS/Liz Hampton/File Photo
Foto: REUTERS/Liz Hampton

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah eskalasi konflik geopolitik saat ini, khususnya ketegangan yang melibatkan Iran, volatilitas harga minyak mentah dan gangguan rantai pasok energi kembali menjadi sorotan utama.

Situasi di Timur Tengah ini menguji ketahanan ekonomi berbagai negara yang bergantung pada energi fosil. Meskipun demikian, data makroekonomi menunjukkan bahwa sejumlah wilayah mampu mempertahankan stabilitas dan mencetak Produk Domestik Bruto (PDB) yang tinggi tanpa memiliki cadangan minyak darat yang terbukti.

Berdasarkan data ekonomi global, terdapat delapan entitas ekonomi dengan Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi yang beroperasi dengan nol persen ladang minyak komersial di wilayah daratannya.

Berikut adalah peringkat kedelapan negara dan wilayah tersebut:

Diversifikasi Sektor Penggerak Perekonomian

Ketiadaan sumber daya hidrokarbon tidak membatasi kapasitas negara-negara ini untuk mempertahankan ekonomi berskala besar. Swiss, Singapura, dan Hong Kong menopang struktur ekonomi mereka dengan berfokus pada sektor jasa keuangan, manajemen kekayaan, dan pusat logistik internasional. Stabilitas regulasi dan kepastian hukum menjadi fondasi utama dalam menarik aliran modal asing.

Di kawasan Eropa, Irlandia dan Belgia mengoptimalkan sektor teknologi informasi dan industri biofarmasi. Irlandia mencatatkan pertumbuhan PDB sebesar 9,1%, yang sebagian besar didorong oleh investasi perusahaan teknologi multinasional.

Sementara itu, Finlandia, Portugal, dan Puerto Riko memperkuat ekonomi domestik melalui industri manufaktur bernilai tambah, telekomunikasi, serta sektor pariwisata.

Sebagai kompensasi atas ketiadaan ladang minyak domestik, negara-negara ini bergantung pada impor komoditas energi. Namun, krisis dan ketegangan di Timur Tengah saat ini justru berfungsi sebagai katalis bagi mereka untuk mempercepat transisi menuju sumber energi terbarukan guna memastikan keamanan rantai pasok dan stabilitas ekonomi jangka panjang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular