MARKET DATA

Perang Iran vs Israel & AS: Deretan Saham Emas - Migas Siap-Siap Pesta

saw,  CNBC Indonesia
02 March 2026 08:15
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sentimen perang yang memanas antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kembali memicu pergeseran arus dana global ke aset-aset berbasis komoditas dan safe haven.

Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk langkah Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta volume besar gas alam, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan rantai pasok energi global dan mendorong lonjakan harga sejumlah komoditas strategis.

Di tengah memanasnya konflik global, pasar mulai melakukan rotasi. Beberapa sektor saham pun berpotensi kembali dilirik dan menarik untuk dimanfaatkan sebagai peluang trading.

Saham Emas dan Metal

Harga emas dunia telah diperdagangkan di kisaran US$ 5.278 per troy ons sampai perdagangan pekan lalu, Jumat (27/2/2028).

Pada pekan ini, akibat tensi geopolitik yang makin panas, tak menutup kemungkinan bisa menguji level puncaknya lagi.



Kondisi ini berpotensi menopang kinerja saham emiten tambang emas karena kenaikan harga jual langsung meningkatkan margin. Saham-saham berbasis emas berpeluang menjadi tujuan rotasi dana selama tensi geopolitik masih tinggi, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan lain-lain.

Saham Minyak dan Gas (Migas)

Beralih ke saham-saham migas juga potensial mendapatkan berkah.

Baru-baru ini, harga minyak mentah Brent sempat menembus US$ 72 per barel, mendekati level tertinggi delapan bulan terakhir.

Lonjakan terjadi setelah kekhawatiran gangguan distribusi energi akibat konflik meningkat, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.

 

Kenaikan harga minyak berpotensi menjadi katalis positif bagi saham migas, terutama emiten yang memiliki eksposur produksi dan penjualan berbasis harga pasar global.

Selama harga energi bertahan tinggi, potensi perbaikan pendapatan dan margin menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku pasar.

Beberapa emiten migas di Indonesia antara lain PT Medco Energi International Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), dll.

Saham Batu Bara

Akhir-akhir ini, sektor batu bara juga ikut menjadi perhatian di kala perang makin memanas.

Harga batu bara juga sudah menguat lagi dan baru -baru ini menembus US$ 119 per ton, menandai level tertinggi sejak Desember 2024.

Permintaan global yang tetap solid, terutama dari China yang masih menambah kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara demi menjaga ketahanan energi, menjadi faktor penopang utama.

Harga yang bertahan tinggi berpotensi memperkuat prospek pendapatan dan arus kas emiten batu bara, sehingga sektor ini kerap menjadi pilihan saat energi kembali menjadi fokus pasar.

 

Beberapa emiten batu bara di antaranya ada PT Indo Tambang Raya Tbk (ITMG), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Dian Swastatiak Sentosa Tbk (DSSA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Meski begitu, risiko terhadap pemangkasan produksi batu bara juga masih menjadi perhatian, karena ini menjadi PR internal untuk bisa menyesuaikan produksi terhadap kenaikan harga, jika produksi sedikit, meskipun harga naik, tentu akan jadi kurang optimal nanti ke pendapatan.

Saham Perkapalan

Di sisi lain, saham kapal juga masih menjadi sorotan di tengah perang antara Iran dan AS-Israel.

Ketegangan di kawasan Teluk turut mendorong kenaikan biaya logistik dan premi asuransi pelayaran. Sejumlah perusahaan pengiriman mulai mengalihkan rute kapal untuk menghindari wilayah berisiko, yang pada akhirnya meningkatkan tarif freight.

Kenaikan tarif angkutan laut ini dapat menjadi katalis positif bagi emiten perkapalan, terutama yang bergerak di pengangkutan minyak, gas, dan komoditas energi.

Jika lonjakan freight rate bertahan, potensi peningkatan pendapatan sektor ini juga semakin terbuka.

Beberapa emiten kapal yang ada di BEI seperti PT GTS Internasional Tbk (GTSI), PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI), PT Soechi Lines Tbk (SOCI), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Buana Listya Tama Tbk (BULL), PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD), dan lain-lain

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular