Indonesia Masih Impor Air, Es Hingga Salju: Nilainya Miliaran Rupiah
Jakarta, CNBC Indonesia- Indonesia ternyata masih mengimpor air minum hingga es dari berbagai negara sepanjang 2025.
Satu data Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai impor untuk empat kelompok produk air dan es mencapai sekitar US$ 5,5 juta sepanjang Januari-Desember 2025 atau sekitar Rp 92,18 miliar (US$1-Rp 16.760).
Angkanya memang kecil dibandingkan komoditas besar, tetapi laju pertumbuhannya sangat tinggi, bahkan ada yang melonjak ribuan persen.
Lonjakan terlihat hampir di seluruh kategori, mulai dari air tanpa tambahan gula, air berkarbonasi, air mineral, hingga es. Polanya menunjukkan impor banyak datang dari negara-negara yang identik dengan produk premium seperti Eropa dan Jepang, tetapi juga dari kawasan Timur Tengah yang dikenal beriklim kering.
Air "Tanpa Gula", China Hampir Menguasai Pasar
Pada kategori HS 22019090 yaitu air tanpa tambahan gula atau perisa, nilai impor Indonesia mencapai US$ 0,578 juta sepanjang 2025. Angka ini melonjak 1.876,95% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pasokan hampir seluruhnya berasal dari Chinadengan nilai mencapai US$ 0,553 juta atau lebih dari 95% total impor. Negara lain seperti Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan Selandia Baru hanya menyumbang porsi kecil.
Â
Dominasi China menunjukkan bahwa impor kategori ini cenderung terkonsentrasi pada produk tertentu, kemungkinan terkait kebutuhan industri atau segmen khusus yang belum banyak diproduksi di dalam negeri.
Air Soda Didominasi Eropa
Kategori HS 22011020 atau air berkarbonasi mencatat nilai impor sebesar US$ 0,7876 juta sepanjang 2025. Pertumbuhannya mencapai 56,83% secara tahunan.
Produk dari Italia menjadi pemasok utama dengan nilai sekitar US$ 0,38 juta, disusul Prancis sekitar US$ 0,30 juta. Kedua negara tersebut dikenal sebagai produsen air mineral dan minuman premium yang banyak dipasarkan di segmen menengah atas.
Sementara itu, negara Asia seperti Korea Selatan, Thailand, dan Filipina juga masuk dalam daftar pemasok, meskipun nilainya jauh lebih kecil.
Air Mineral Masih yang Terbesar
Air mineral dalam kemasan (HS 22011010) menjadi kategori impor terbesar. Nilainya mencapai US$ 3,668 juta sepanjang 2025 atau naik 88,07% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pasokan terbesar berasal dari Prancis dengan nilai sekitar US$ 1,48 juta, diikuti Italia sekitar US$ 1,03 juta dan Fiji sekitar US$ 0,83 juta. Negara lain seperti Jepang dan Bahrain juga masuk daftar pemasok utama.
Komposisi negara asal ini menunjukkan bahwa impor air mineral Indonesia banyak berasal dari merek internasional yang dikenal sebagai produk premium.
Es dari Timur Tengah
Kategori HS 22019010 untuk es dan salju mencatat nilai impor US$ 0,4786 juta sepanjang 2025, naik 66,51% dibandingkan tahun sebelumnya.
Yang menarik, pemasok terbesar justru berasal dari kawasan Timur Tengah. Bahrain menjadi eksportir utama dengan nilai sekitar US$ 0,185 juta, diikuti Arab Saudi sekitar US$ 0,159 juta.
Selain itu, negara seperti India, Tiongkok, dan Uni Emirat Arab juga memasok es ke Indonesia dalam jumlah lebih kecil.
Fenomena impor es dari negara beriklim panas menjadi gambaran unik dalam perdagangan Indonesia, mengingat Indonesia sendiri memiliki sumber air melimpah.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google