MARKET DATA

Rumor Saham IPO 2026, Ada Platform DANA-Vidio!

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
26 February 2026 12:10
ipo
Foto: ipo

Jakarta, CNBC Indonesia - Rumor saham yang mau melakukan saham perdana (initial public offering/IPO) tahun ini sudah santer terdengar sejak tahun lalu, tetapi hilalnya belum juga kelihatan sampai dua bulan sudah mau habis di 2026.

Karena itu, kami turut merangkum sejumlah emiten yang terafiliasi dengan para kandidat IPO tersebut, terutama yang sudah melantai duluan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Harapannya, dari sisi kepemilikan maupun keterkaitan lini bisnis, bisa ditemukan potensi prospek menarik yang patut dicermati investor.

Sebelum mencerna lebih jauh, kami mulai dari deretan emiten yang dirumorkan mau IPO dulu pada tahun ini sebagai berikut:

Grup Emtek: DANA

Dari deretan nama calon emiten yang dirumorkan akan melantai, salah satu yang paling santer dibicarakan adalah PT Espay Debit Indonesia Koe atau DANA.

Perusahaan dompet digital ini memiliki keterkaitan erat dengan Grup Sinar Mas dan Grup Emtek.

DANA disebut-sebut mulai mematangkan langkah menuju pasar modal. Meski belum ada pengumuman resmi, arah kebijakan korporasi perusahaan fintech tersebut mulai terbaca. Opsi penawaran umum perdana saham atau initial public offering terus dikaji dan dipersiapkan secara internal sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

Di balik ekspansinya, DANA ditopang struktur pemegang saham yang kuat. Tambahan modal mengalir dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai US$25 juta atau sekitar Rp350 miliar. DSSA sendiri merupakan bagian dari Grup Sinar Mas.

Selain dukungan permodalan domestik, pengembangan teknologi DANA juga diperkuat oleh Ant International yang mengelola Alipay+, gerbang pembayaran lintas negara yang menghubungkan merchant global dengan konsumen di berbagai negara.

Grup Emtek: Vidio

Selain DANA, rumor kuat lainnya datang dari platform streaming Vidio yang juga berada dalam ekosistem Grup Emtek. Perusahaan ini disebut tengah mempertimbangkan langkah untuk melakukan unlocking value melalui pencatatan saham di bursa.

 

Vidio dikenal sebagai salah satu platform over the top dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Perseroan menargetkan basis pelanggan dapat menembus delapan juta dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Sejumlah laporan riset pada 2024 menaksir valuasi Vidio berada di kisaran Rp14,96 triliun, angka yang dinilai lebih tinggi dibanding beberapa emiten media digital yang telah lebih dulu melantai di BEI.

Sebagai bagian dari grup yang sama dengan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), Vidio berada satu ekosistem dengan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) serta PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA).

Grup Barito: Intam

PT Intam merupakan perusahaan tambang emas dan perak yang berada dalam struktur Grup Barito. Intam adalah entitas cucu dari PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) setelah akuisisi Equator Sumber Energi oleh Petrindo pada 2013.

Perusahaan ini memiliki konsesi sekitar 18.500 hektare di Nusa Tenggara Barat dengan izin usaha hingga 2035. Saat ini masih berada pada tahap eksplorasi. Jika suatu saat IPO direalisasikan, Intam dapat menjadi jalur diversifikasi CUAN dari batu bara ke logam mulia.

Grup Bari to: Griya Idola

Griya Idola merupakan lini bisnis properti dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Berdiri sejak 1989, perusahaan ini mengembangkan kawasan industri, residensial, perkantoran, dan aset hospitality.

Portofolionya mencakup Griya Idola Industrial Park, Patimban Industrial Estate, serta proyek residensial di Tangerang. Jika IPO terealisasi, Griya Idola berpotensi membuka valuasi lini properti BRPT yang selama ini tertutup dominasi bisnis petrokimia dan energi.

Grup RAJA: Panji Raya Alamindo

Panji Raya Alamindo dikaitkan dengan Grup RAJA milik Happy Hapsoro. Perusahaan ini bergerak di sektor gas dan infrastruktur energi, terutama distribusi gas untuk kebutuhan industri.

Afiliasinya terhubung dengan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), yang telah tercatat di BEI sebagai pemain midstream gas. Jika IPO dilakukan, langkah ini dapat memperluas ekosistem energi RAJA dan memberikan transparansi lebih besar pada lini bisnis distribusi gas.

Grup Djarum: Blu BCA

Blu merupakan platform bank digital dalam ekosistem Grup Djarum dan punya kaitan sebagai anak usaha dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Blu hadir dengan model bisnis perbankan digital penuh dan menyasar segmen ritel muda.

Apabila IPO direalisasikan, Blu berpotensi membuka valuasi tersendiri untuk lini digital banking yang saat ini masih berada dalam bayang bayang BBCA sebagai bank konvensional besar.

Sejumlah saham IPO tersebut tentu menarik diperhatikan perkembangan, tetapi perlu diakui juga pada momen saat ini, setelah IHSG mengalami crash akibat morning call MSCI pada akhir Januri lalu membuat perusahaan yang mau melantai di bursa harus mempersiapkan lebih serius supaya bisa mencapai free float sesuai standar regulasi.

Jadi wajar kalau momen saham IPO pada tahun ini mundur dari biasanya yang ramai pada awal tahun.

Walau begitu, karena afisiliasi saham IPO ini masih banyak di perusahaan yang terbuka atau ada di bursa, tak salah kalau kita juga melirik afiliasinya itu.

Tidak Ada IPO BUMN

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menegaskan tidak ada perusahaan BUMN yang akan melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada tahun ini.
COO BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan keputusan ini diambil guna memastikan proses restrukturisasi dan konsolidasi berjalan optimal. Sehingga keputusan untuk melakukan IPO pada tahun ini tidak diambil.

"Jadi memang untuk tahun ini kita belum ada yang akan kita lakukan. Pertama karena tadi, hasil konsolidasi ini akan kita lihat seberapa besar impactnya, kemudian juga kita akan mendefinisikan ulang, mana perusahaan-perusahaan yang akan kita go public, mana perusahaan yang memang akan go private, kata Dony dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (12/2/2026).

Ia lantas membeberkan bahwa proses IPO kemungkinan baru akan mulai dilakukan pada tahun 2027. Terutama setelah arah strategis masing-masing perusahaan hasil konsolidasi ditetapkan secara jelas.

"Jadi Insya Allah mudah-mudahan tahun 2027 kita akan mulai melakukan proses IPO terhadap perusahaan-perusahaan kita yang akan memang secara pemikiran itu akan kita lakukan untuk public offering, jadi untuk milik masyarakat gitu," katanya.

Lantas, Seberapa Menarik Induk/Afiliasi Saham Calon IPO 2026?

Gelombang rumor IPO 2026 tidak hanya menarik dari sisi calon emiten baru, tetapi juga dari kondisi keuangan dan valuasi induk atau afiliasi yang sudah tercatat di BEI.

Secara valuasi historis berdasarkan perbandingan PBV saat ini dengan rata-rata lima tahunnya, emiten induk atau afiliasi calon IPO 2026 dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori.

Saham yang masih relatif murah karena diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Kelompok ini dinilai memiliki ruang re-rating lebih besar apabila IPO anak usahanya benar-benar terealisasi.

Sementara itu, saham yang berada di kisaran harga wajar atau mendekati rata-rata lima tahunnya adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Untuk kelompok ini, dampak IPO kemungkinan akan lebih bergantung pada prospek bisnis dan sentimen pasar ke depan.

Adapun saham yang sudah tergolong mahal karena diperdagangkan di atas rata-rata historisnya mencakup PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), dan PT Elnusa Tbk (ELSA). Pada kelompok ini, ruang kenaikan tambahan cenderung lebih terbatas kecuali terdapat katalis kuat yang mampu mendorong ekspektasi pertumbuhan baru.

Bagaimana kinerja keuangannya?

Dari sisi fundamental, mayoritas induk atau afiliasi calon IPO 2026 sebenarnya masih menunjukkan kinerja yang solid, terutama pada pertumbuhan laba. BRPT mencatat lonjakan laba bersih lebih dari 2.100 persen secara tahunan dengan pertumbuhan pendapatan 242 persen.

Kinerja impresif juga terlihat pada EMTK yang membukukan pertumbuhan laba lebih dari 1.300 persen serta kenaikan pendapatan hampir 58 persen.

Di sektor tambang, ANTM masih mencatat pertumbuhan laba 171 persen dan pendapatan naik 66 persen, merepresentasi dampak optimal dari kenaikan harga emas yang berulang kali cetak rekor pada tahun lalu.

Untuk emiten berkapitalisasi besar seperti BBCA pertumbuhan lebih moderat dengan laba naik sekitar 4,9 persen dan pendapatan 5,1 persen, lantaran tahun lalu sektor bank mengalami tantangan dari daya beli lemah dan penyaluran kredit yang hati-hati.

Sementara itu, beberapa emiten seperti ELSA dan RAJA mencatat tekanan tipis pada laba, tetapi masih mampu menjaga pertumbuhan pendapatan positif.

Di sisi lain, terdapat emiten yang labanya terkontraksi cukup dalam seperti MEDC, CUAN, dan SMRA meskipun sebagian masih mencatat pertumbuhan pendapatan. DSSA juga mengalami penurunan laba dan pendapatan. Berikut rincian-nya:

Satu hal yang menarik, meskipun beberapa saham sudah tergolong mahal secara valuasi historis, sebagian masih sejalan dengan pertumbuhan profitabilitas yang kuat, khususnya pada BRPT, EMTK, dan ANTM.

Artinya, valuasi tersebut masih memiliki dasar fundamental. Bagi investor, ini menunjukkan bahwa dampak IPO anak usaha nantinya tidak hanya soal sentimen, tetapi juga harus dibaca dalam konteks kekuatan kinerja induknya.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular