MARKET DATA

Trump Janji AS Bigger, Better, Richer & Stronger: Realitanya Begini

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
25 February 2026 16:30
Presiden AS Donald J. Trump menyampaikan pidato kenegaraan pertama pada masa jabatan keduanya di hadapan sidang gabungan Kongres di Ruang Sidang DPR di Gedung Capitol Amerika Serikat di Washington, D.C., pada hari Selasa, 24 Februari 2026. Di belakangnya terdapat Wakil Presiden JD Vance dan Ketua DPR Mike Johnson (R-LA). (Kenny Holston /Pool via REUTERS)
Foto: Presiden AS Donald J. Trump menyampaikan pidato kenegaraan pertama pada masa jabatan keduanya di hadapan sidang gabungan Kongres di Ruang Sidang DPR di Gedung Capitol Amerika Serikat di Washington, D.C., pada hari Selasa, 24 Februari 2026. Di belakangnya terdapat Wakil Presiden JD Vance dan Ketua DPR Mike Johnson (R-LA). (via REUTERS/Kenny Holston/The New York Times)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan pernyataan kebangkitan AS dalam pidato kenegaraannya atau yang disebut "State of the Union".

Di hadapan Kongres AS di Gedung Capitol di Washington DC, Trump menyatakan Amerika kini kembali dan menjadi lebih besar, lebih kaya, serta lebih kuat dari sebelumnya, sekaligus menyebut negaranya memasuki era golden age.

"Our nation is back, bigger, better, richer and stronger than ever before." Ujar Trump dalam pidato kenegaraan pada Rabu (25/2/2026) pagi waktu Indonesia.

Pernyataan itu muncul ketika agenda ekonomi Trump sedang diuji dari banyak arah. Kebijakan tarif yang selama ini jadi salah satu andalan untuk menekan impor dan mengerek industri domestik baru saja terpukul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif global yang diberlakukan lewat payung hukum keadaan darurat IEEPA (International Emergency Economic Powers Act).

Di saat yang sama, Gedung Putih mencoba mengunci kembali strategi tarif lewat mekanisme hukum lain dengan menerapkan tarif global baru 10% dan membuka ruang kenaikan ke 15%, sehingga menciptakan ketidakpastian baru bagi pelaku usaha dan mitra dagang.

Lalu seberapa tepat klaim Trump jika diuji dengan data? Untuk membuktikannya, CNBC Indonesia telah mengumpulkan empat indikator ekonomi yang sekiranya bisa dijadikan acuan paling objektif untuk membutikan klaim Trump tersebut. Mulai dari pertumbuhan ekonomi,

1. Pertumbuhan Ekonomi

Indikator pertama yang paling mudah untuk menguji klaim Trump bahwa ekonomi AS makin besar adalah pertumbuhan produk domestik bruto atau PDB. Namun, data terbaru justru menunjukkan laju ekonomi AS melambat di akhir 2025.

Berdasarkan rilis Bureau of Economic Analysis, PDB AS pada kuartal IV-2025 hanya tumbuh 1,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini lebih rendah dari ekspektasi banyak pelaku pasar yang sebelumnya memperkirakan ekonomi bisa tumbuh 2,9% pada periode tersebut.

Perlambatan ini salah satunya terjadi karena belanja pemerintah yang melemah. Angkanya turun 5,1% yoy pada kuartal IV-2025 dan memangkas sekitar 0,9 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi.

2. Nilai PDB Per Kapita

Indikator berikutnya adalah PDB per kapita yang memberi gambaran rata-rata nilai ekonomi per orang. Mengacu data U.S. Bureau of Economic Analysis via FRED, pada kuartal IV-2025 PDB per kapita Amerika Serikat tercatat US$70.413, atau setara sekitar Rp1.18 miliar (asumsi kurs Rp16.815/US$).

3. Anggaran Militer

Klaim AS makin kuat juga tercermin dari belanja pertahanannya yang masih menjadi yang terbesar di dunia. Dalam tahun anggaran 2026, anggaran pertahanan AS mencapai US$962 miliar atau setara Rp16.176,03 triliun dengan asumsi kurs Rp16.815/US$.

Bahkan, Trump mengusulkan anggaran pertahanan tahun anggaran 2027 dinaikkan menjadi US$1,5 triliun atau sekitar Rp25.222 triliun. Jika terealisasi, nilainya akan melonjak sekitar 55,93% dibandingkan anggaran 2026.

4. Defisit Fiskal

Di sisi fiskal, pemerintah AS masih mencatat defisit yang besar. Berdasarkan data bulanan dari FiscalData.Treasury.Gov, pada Januari 2026 defisit anggaran pemerintah AS mencapai US$94,61 miliar atau setara sekitar Rp1.590 triliun.

Sementara secara kumulatif sejak awal tahun anggaran 2026 (Oktober 2025-Januari 2026), defisit tercatat US$696 miliar atau sekitar Rp11.703 triliun, meski jumlahnya lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular