Berburu Berkah & Cuan, Ini Deretan Saham Syariah Pilihan di Ramadan
Jakarta, CNBC Indonesia - Momentum Ramadan kembali mengangkat minat pelaku pasar terhadap saham syariah. Menariknya, sejumlah emiten tak hanya unggul dari sisi valuasi yang atraktif, tetapi juga didukung prospek bisnis yang solid serta tren harga yang tengah menguat dan terindikasi akumulasi.
Kami mencoba menilik lebih jauh konstituen Jakarta Islamic Index (JII), indeks saham syariah unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
JII dirancang bagi investor yang mencari saham yang tidak hanya halal secara prinsip syariah, tetapi juga likuid dan memiliki kapitalisasi pasar besar, sehingga relatif lebih stabil dan aktif diperdagangkan.
Â
Indeks ini berisi 30 saham syariah paling likuid, yang dipilih melalui dua tahap seleksi:
1. Screening syariah - mengacu pada daftar efek syariah (DES), memastikan emiten tidak menjalankan usaha yang bertentangan dengan prinsip Islam serta memenuhi batasan rasio keuangan tertentu.
2. Seleksi likuiditas dan ukuran - mempertimbangkan nilai transaksi, frekuensi perdagangan, serta kapitalisasi pasar.
Komposisi JII ditinjau secara berkala (umumnya tiap enam bulan), sehingga konstituennya bisa berubah mengikuti dinamika pasar.
Dengan karakter tersebut, JII kerap dijadikan barometer saham syariah unggulan sekaligus referensi bagi investor yang ingin tetap sejalan dengan prinsip syariah tanpa mengorbankan aspek fundamental dan likuiditas.
Sejak awal tahun, pergerakan saham-saham syariah dalam konstituen JII terpantau cukup beragam. Tercatat, 10 saham memimpin dengan kenaikan lebih dari 10%, dengan performa paling mencolok datang dari PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang melonjak lebih dari 60%.
Di sisi lain, enam emiten lainnya masih mencatatkan kenaikan moderat di bawah 8%, sementara 14 saham sisanya masih bergerak di zona merah sejak awal tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski berada dalam satu indeks yang sama, kinerja saham tetap sangat dipengaruhi oleh sentimen sektoral, fundamental masing-masing emiten, serta dinamika pasar yang lebih luas.
Dari 30 emiten tersebut, kami mengerucutkan pilihan menjadi 11 saham yang dinilai menarik untuk dicermati.
Seleksi dilakukan secara fundamental lebih dulu melalui sejumlah kriteria fundamental, yakni price to book value (PBV) di bawah 5 kali dan price to earnings ratio (PER) kurang dari 20 kali, sehingga valuasinya masih tergolong wajar.
Selain itu, kami juga mensyaratkan free cash flow (FCF) positif, guna memastikan emiten memiliki arus kas operasional yang sehat dan ruang yang memadai untuk ekspansi, pembayaran utang, maupun potensi pembagian dividen.
Lebih jauh, kami juga melakukan seleksi secara teknikal dengan posisi harga yang berada di atas Moving Average (MA) 100 harian, yang mengindikasikan tren jangka menengah masih cenderung positif dan berada dalam fase penguatan.
Posisi ini umumnya mencerminkan tekanan jual yang mulai mereda serta adanya minat beli atau akumulasi dari pelaku pasar, sehingga peluang keberlanjutan tren naik relatif lebih terbuka selama harga mampu bertahan di atas area tersebut.
Jika ditarik lebih jauh, sebelas emiten ini pada dasarnya berada dalam payung cerita besar yang masih didukung momentum makro.
Di sektor batu bara, seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), hingga PT United Tractors Tbk (UNTR), kenaikan harga batu bara global memberi dorongan langsung terhadap kinerja, baik dari sisi penjualan maupun permintaan alat berat dan jasa kontraktor tambang.
Sementara kalau dikuliti satu per satu. ADRO mendapat benefit dari anak usahanya PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang sedang mengembangkan bisnis alumunium.
PTBA mendapat dukungan dari pemerintah seiring posisinya sebagai pemegang izin tambang BUMN, mereka tidak kena pemangkasan produksi batu bara. Artinya, volume tetap aman dan mereaka bisa menikmati kenaikan penjualan di momen harga batu bara mulai naik lagi seperti sekarang.
Lanjut ke UNTR juga ada sentimen positif dari potensi pemulihan izin tambang Martabe dan baru-baru ini mereka sudah resmi mengakuisisi tambang Doup.
Di lini energi dan hilirisasi, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan Pertamina Gas Negara (PGAS) diuntungkan oleh commodity supercycle, di mana akhir-akhir ini harga minyak naik lagi akibat risiko geopolitik yang meningkat dan juga permintaan LNG yang diprediksi tetap tinggi.
Khusus MEDC, yang menggenggam sekitar 20% saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), tahun ini berpotensi turut menuai berkah. Emiten produsen emas dan tembaga tersebut dinilai sudah bisa profit tahun ini, sehingga kontribusi dari kepemilikan sahamnya dapat menjadi katalis tambahan bagi kinerja MEDC ke depan.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga berpotensi mendapat berkah dari tingginya harga emas dan tembaga di tengah ketidakpastian global. Selain itu, keduanya turut diuntungkan oleh tema hilirisasi nikel dan meningkatnya kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik, yang masih menjadi cerita jangka panjang sektor komoditas dan energi baru.
Dari sisi konsumsi domestik, PT Astra International Tbk (ASII) tetap menjadi proksi daya beli masyarakat lewat bisnis otomotif, pembiayaan, hingga alat berat yang terdiversifikasi.
Sementara itu, sektor telekomunikasi melalui PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT) masih ditopang pertumbuhan konsumsi data dan efisiensi industri pascakonsolidasi.
Adapun PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mendapat momentum dari ekspansi ekosistem halal dan peningkatan literasi keuangan syariah, terlebih dalam suasana Ramadan yang kerap mendorong sentimen positif terhadap saham berbasis syariah.
BRIS yang baru-baru ini juga resmi berstatus persero, dinilai akan memiliki ruang ekspansi yang lebih luas serta fleksibilitas lebih besar dalam memperkuat permodalan dan penetrasi pasar, sehingga berpotensi menopang pertumbuhan pembiayaan dan laba secara lebih berkelanjutan ke depan.
Secara keseluruhan, cerita yang menopang saham-saham ini bukan sekadar teknikal jangka pendek, melainkan kombinasi antara valuasi yang relatif menarik dan dukungan makro yang masih berjalan.
Namun, risiko outflow asing juga tetap harus diantisipasi, ini bisa jadi risiko teknis karena saat ini proses reformasi bursa masih terus berlanjut, dalam jangka pendek atau kisaran Mei, kita akan mendapat kabar terbaru lagi terkait rebalancing MSCI dan mungkin bisa menjalar lagi ke indeks global yang lain-nya.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw) Addsource on Google