MARKET DATA

Mau Investasi Halal? Kenali JII & ISSI, Barometer Saham Syariah RI

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
24 February 2026 10:25
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) secara berkala melakukan evaluasi terhadap daftar indeks saham syariah.

Bagi investor yang mengedepankan tata kelola syariah dalam portofolionya, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) merupakan dua acuan pokok yang digunakan untuk memantau pergerakan pasar.

Meski sama-sama menjadi representasi pasar modal syariah, kedua indeks ini memiliki metodologi, tujuan, dan cakupan yang berbeda secara fundamental.

Perbedaan JII dan ISSI

Perbedaan mendasar antara kedua indeks ini terletak pada kriteria seleksi yang diterapkan oleh otoritas bursa.

ISSI merupakan indeks komposit yang bertindak sebagai indikator pasar syariah secara keseluruhan. Indeks ini mencakup seluruh saham syariah yang tercatat di BEI, asalkan perusahaan tersebut terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam penyusunannya, ISSI tidak menyaring saham berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar ataupun tingkat likuiditas transaksi.

Di sisi lain, JII dirancang sebagai indeks yang jauh lebih ketat dan eksklusif. Konstituen JII dipilih dari daftar saham yang sudah tergabung di dalam ISSI, yang kemudian disaring kembali untuk mencari 30 saham syariah unggulan.

Kriteria utama penyaringan JII adalah rata-rata kapitalisasi pasar terbesar dan tingkat likuiditas (nilai transaksi harian) paling tinggi di bursa. Oleh karena itu, JII merepresentasikan pergerakan saham-saham syariah kategori blue-chip.

Total Saham dalam Indeks

Mengingat perbedaan kriteria seleksi di atas, jumlah konstituen pada masing-masing indeks memiliki jarak yang signifikan. Berdasarkan hasil evaluasi mayor yang efektif digunakan saat ini:

  • Total saham di ISSI: 631 saham.

  • Total saham di JII: 30 saham.

Top 30 Saham Terbesar di Indeks ISSI (Batas Bobot 9%)

ISSI merupakan indeks komposit yang menaungi 631 saham syariah. Pada daftar 30 teratas ini, terlihat bahwa sektor infrastruktur, pertambangan, dan teknologi memiliki kontribusi yang cukup signifikan. Berikut adalah penjabarannya

Daftar Lengkap 30 Konstituen Indeks JII (Batas Bobot 15%)

Berbeda dengan ISSI, JII adalah indeks selektif yang secara spesifik hanya beranggotakan 30 saham syariah paling likuid dengan kapitalisasi pasar terbesar. Berikut adalah daftar keseluruhan anggota JII yang diurutkan berdasarkan bobotnya.

Dominasi Grup Konglomerasi di Puncak Indeks Syariah

Menariknya, jika membedah 10 saham syariah berkapitalisasi terbesar teratas, pergerakan indeks JII maupun ISSI sangat dipengaruhi oleh pergerakan bisnis dari entitas grup konglomerasi raksasa di Indonesia. Lanskap pasar saham syariah di Indonesia memiliki konsentrasi bobot yang sangat erat kaitannya dengan peta kepemilikan para taipan.

Sebagai contoh, ekosistem bisnis milik Prajogo Pangestu menyumbang bobot yang sangat signifikan melalui PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA). Jika digabungkan, kedua emiten ini menguasai lebih dari 14% pergerakan indeks JII.

Selain itu, jejak konglomerasi lain juga terlihat mendominasi porsi atas. Pengaruh Grup Salim terasa kuat melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI). Hal ini beriringan dengan dominasi Grup Astra yang menjaga posisinya melalui induk usaha ASII dan lini alat beratnya, UNTR.

Di luar itu, terdapat pula representasi dari Grup Sinar Mas yang memegang posisi kedua terbesar melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), serta afiliasi Grup Bakrie dan Salim di sektor tambang mineral melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).

Konsentrasi kapitalisasi pasar pada grup-grup konglomerasi ini membuat pergerakan indeks saham syariah seringkali sejalan dengan sentimen aksi korporasi, ekspansi, maupun dinamika sektoral dari grup-grup penguasa tersebut.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular