MARKET DATA

Deretan Perempuan Pemimpin Islam: dari Panglima Laut Aceh-Tahta Mesir

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
23 February 2026 12:45
Laksamana Aceh Malahayati. (Dok. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta)
Foto: Laksamana Aceh Malahayati. (Dok. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tokoh wanita di sejarah Islam tidak hanya diwarnai oleh perempuan dari suku Arab saja. Beberapa perempuan non-Arab turut tercatat memainkan peran penting sebagai penggerak politik, militer, hingga pemerintahan.

Kiprah mereka menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dalam dunia Islam memiliki jejak historis yang kuat, baik di Asia Selatan, Asia Tenggara, maupun Mesir.

Berikut beberapa tokoh perempuan Muslim non-Arab yang dikenal sebagai penguasa atau penggerak kekuasaan dalam sejarah.

Laksamana Malahayati: Panglima Laut Perempuan dari Aceh

Keumalahayati atau Malahayati (1550-1606) merupakan pejuang perempuan dari Kesultanan Aceh yang dikenal sebagai panglima angkatan laut. Ia dibesarkan dalam lingkungan pendidikan militer dan strategi perang, yang membentuk kemampuan kepemimpinannya sejak muda.

Pada periode 1585-1604, Malahayati memegang jabatan penting sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana sekaligus Panglima Protokol Pemerintah pada masa Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Ia memimpin sekitar 2.000 pasukan Inong Balee (pasukan janda para syuhada), melawan kekuatan Belanda.

Salah satu peristiwa paling terkenal terjadi pada 1599 ketika ia berhasil mengalahkan armada Belanda dan menewaskan Cornelis de Houtman dalam duel satu lawan satu di atas kapal. Keberanian ini membuatnya mendapat gelar Laksamana, menjadikannya salah satu tokoh perempuan militer paling menonjol dalam sejarah Asia Tenggara.

Razia Sultan: Raja Perempuan Kesultanan Delhi

Razia Sultan (1205-1240) merupakan satu-satunya perempuan yang secara resmi memerintah Kesultanan Delhi di India. Ia naik takhta pada 1236 dan memilih menggunakan gelar "Sultan", bukan "Sultana", karena istilah terakhir sering dimaknai hanya sebagai istri penguasa.

Sejak muda, Razia dilatih dalam kepemimpinan militer dan administrasi pemerintahan. Dalam masa pemerintahannya, ia dikenal mendukung pendidikan. Razia mendirikan sekolah, akademi, perpustakaan publik, serta pusat penelitian.

Institusi pendidikan tersebut memuat kajian Al-Qur'an, tradisi Nabi Muhammad, hingga karya filsafat dan ilmu pengetahuan, termasuk astronomi dan sastra. Kebijakan ini mencerminkan visinya untuk memperkuat fondasi intelektual masyarakat Muslim di India.

Syajar ad-Durr: Penguasa Mesir di Masa Transisi Politik

Syajar ad-Durr (wafat 1257) adalah perempuan Muslim kedua yang tercatat menjadi penguasa dalam sejarah Islam. Ia naik sebagai Sultanah Mesir pada 1250 setelah suaminya wafat di tengah konflik Perang Salib Ketujuh.

Situasi politik Mesir saat itu tidak stabil, namun Syajar ad-Durr mampu mengelola pemerintahan transisi, termasuk mengoordinasikan strategi militer dan diplomasi. Ia turut berperan dalam keberhasilan pasukan Muslim memukul mundur tentara Salib serta menawan Raja Perancis Louis IX.

Selain kepemimpinan militer, ia dikenal memiliki kemampuan politik kuat. Ia menjaga stabilitas negara, membangun dukungan militer Mamluk, serta melakukan negosiasi yang berujung pada perjanjian damai dan pembayaran tebusan besar dari pihak Salib.

Kepemimpinan Perempuan dalam Sejarah Islam

Kisah Malahayati, Razia Sultan, dan Syajar ad-Durr menunjukkan bahwa Islam tidak pernah membungkam perempuan untuk bersuara dan mengambil peran dalam urusan politik dan militer.

Di era modern, narasi sejarah ini kerap menjadi referensi bahwa kontribusi perempuan dalam dunia kepemimpinan, bisnis, maupun pemerintahan bukan fenomena baru. Justru, sejarah menunjukkan bahwa perempuan telah lama menjadi aktor penting dalam pembentukan peradaban Islam di berbagai wilayah dunia.

 

(mae/mae)



Most Popular