MARKET DATA

India Rusak Pesta Baru Bara, Harga Turun Setelah Terbang 5 Hari

mae,  CNBC Indonesia
20 February 2026 07:25
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara akhirnya melemah setelah mengganas lima hari.

Pada perdagangan Kamis (19/2/2026), harga batu bara ditutup di posisi US$ 121,55 atau turun 0,49%. Pelemahan ini memutus tren positif harga batu bara yang menguat 5,1% selama lima hari beruntun sebelumnya.

Kendati melemah kemarin, harga batu bara masih dalam level etrtinggi sejak akhir Januari 2025 atau setahun lebih.

Harga batu bara melemah karena kabar buruk dari India.

Dikutip dari The Hindu Business Online, serapan batu bara oleh sektor pembangkit listrik India pada Januari 2026 mengalami penurunan secara tahunan. Penurunan ini terjadi di tengah gelombang dingin ekstrem mendorong kenaikan permintaan listrik.

Permintaan bahkan mendorong konsumsi listrik pada Januari tertinggi setidaknya sejak tahun 2010.

Berdasarkan data Kementerian Batu Bara India, penyerapan bahan bakar padat oleh sektor listrik turun hampir 3% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 73,16 juta ton bulan lalu. Selama periode April-Januari tahun fiskal 2026, serapan batu bara turun 3,72% yoy menjadi 661,69 juta ton.

Secara kumulatif, total serapan batu bara di seluruh sektor industri juga menurun pada Januari 2026 sekitar 1,4% yoy menjadi 92,18 juta ton, terutama akibat melemahnya permintaan dari sektor kelistrikan.

Porsi sektor listrik terhadap total serapan batu bara nasional mencapai 79% bulan lalu, dibandingkan 82% pada Januari 2025. Pangsa sektor listrik pada Desember merupakan yang terendah dalam lebih dari dua tahun, dibandingkan rekor tertinggi 83% pada Maret 2025.

Kontribusi batu bara dalam pembangkitan listrik nasional tercatat 74% pada Januari 2026, dibandingkan 76% pada Januari 2025. Pada Desember tahun lalu, porsinya juga berada di level 74%.

Seorang pejabat menyatakan bahwa peningkatan produksi listrik dari energi terbarukan, pembangkit hidro, dan nuklir, serta ketersediaan stok batu bara yang memadai di pembangkit listrik selama bulan tersebut, turut menyebabkan turunnya penyerapan batu bara oleh pembangkit listrik tenaga termal (PLTU).

Dalam analisanya, Crisil Intelligence mencatat bahwa permintaan listrik meningkat 4,5% yoy menjadi sekitar 143 miliar unit (BU) bulan lalu, yang merupakan konsumsi Januari tertinggi setidaknya sejak 2010.

 

Lonjakan ini didorong oleh gelombang dingin ekstrem di wilayah India bagian utara dan timur yang meningkatkan kebutuhan pemanas. Selain itu, aktivitas manufaktur India tetap mengalami ekspansi pada Januari 2026, meskipun dengan laju pertumbuhan yang lebih lambat.

Pada Januari juga tercatat permintaan listrik puncak sebesar 245 gigawatt (GW), melampaui rekor puncak musim panas sebelumnya sebesar 243 GW yang terjadi pada Juni. Hal ini dikaitkan dengan lonjakan kebutuhan pemanas saat puncak gelombang dingin di India Utara pada 9 Januari pukul 09:52 pagi, menurut Crisil.

Produksi listrik melonjak 6% secara tahunan menjadi 156 miliar unit pada Januari, sejalan dengan pertumbuhan permintaan listrik. Seluruh jenis bahan bakar mencatat kenaikan produksi, pertama kalinya terjadi pada tahun fiskal berjalan.

Pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan meningkat 10% yoy, melanjutkan tren kenaikan sejak April 2025 berkat penambahan kapasitas baru. Sementara itu, pembangkitan listrik berbasis batu bara juga meningkat sekitar 5% yoy.

Produksi listrik dari tenaga air (hidro) dan nuklir masing-masing naik sekitar 11,8% dan 5,3% secara tahunan pada bulan lalu.

Stok batu bara di pembangkit listrik tenaga termal tercatat sekitar 53,24 juta ton pada 1 Januari 2026, kemudian meningkat menjadi 56,07 juta ton pada 31 Januari, yang merupakan level stok tertinggi sejak Juli 2025.

Persediaan batu bara setara 18 hari operasi pada Januari 2026, dibandingkan 17 hari pada Desember 2025.

Perkembangan di China dan India

Persediaan batu bara di pelabuhan utama China bagian utara kembali menurun pada pekan yang berakhir 13 Februari 2026, karena volume pengiriman keluar (outflows) lebih besar dibanding pasokan yang masuk melalui jalur kereta.

Dari China dilaporkan stok batu bara di pelabuhan Qinhuangdao turun menjadi 5,45 juta ton. Angka ini lebih rendah 3,2% dibanding pekan sebelumnya. Penurunan terjadi karena pengiriman ke konsumen lebih cepat dibanding suplai masuk.

Beberapa faktor yang menekan suplai di antarana banyak tambang mengurangi atau menghentikan produksi menjelang libur Imlek. Tambang milik negara juga menjalani jadwal maintenance.

Walaupun stok pelabuhan turun tetapi banyak pembangkit listrik sudah tercukupi pasokan kontrak jangka panjang. Aktivitas industri juga melambat karena libur sehingga permintaan pasar spot menjadi lesu.

Harga batu bara sempat melonjak lima hari karena kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. AS meningkatkan upaya untuk menghidupkan kembali industri batu bara seiring dengan targetnya memperkuat ketahanan energi nasional.

 

Pekan lalu, Departemen Energi AS mengumumkan akan menyediakan pendanaan sebesar US$175 juta untuk proyek modernisasi, retrofit, serta perpanjangan umur operasional enam pembangkit listrik tenaga batu bara yang melayani komunitas pedesaan dan wilayah terpencil.

Lembaga tersebut menyatakan langkah ini bertujuan mempertahankan sumber energi yang andal tetap beroperasi, sekaligus memperkuat keandalan jaringan listrik nasional serta menjaga biaya listrik tetap rendah bagi rumah tangga dan pelaku usaha di Amerika Serikat.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)



Most Popular