MARKET DATA
Newsletter

Iran-AS Panas, Harga Minyak Membara! RI Menanti Data Genting Hari Ini

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
20 February 2026 06:25
Ilustrasi Trading (Dok MIFX)
Foto: Infografis/Deretan Saham Free Float Hampir 15%, Market Cap Jumbo: Layak Dilirik?/Aristya Rahadian
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam kemarin, IHSG melemah sementara rupiah menguat tipis
  •  Wall Street ambruk karena investor mencermati meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran
  • Data transaksi berjalan, keputusan BI dan perkembangan di Amerika akan menjadi penggerak pasar Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar keuangan RI ditutup beragam pada perdagangan kemarin Kamis (19/2/2026).  Pasar saham terkoreksi sementara rupiah menguat tipis.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin terpantau turun 35,29 poin atau turun 0,42% ke level 8.274,94.

Sebanyak 412 saham turun, 309 naik, dan 237 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 21,46 triliun, melibatkan 43,13 miliar saham dalam 2,82 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun turun menjadi Rp 14.983 triliun.

IHSG pada awal pembukaan kemarin sempat berada di zona hijau. Indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.376,2. Akan tetapi menjelang akhir sesi 1, IHSG terkoreksi hingga akhirnya bertahan di zona merah hingga akhir perdagangan.

Mengutip Refinitiv, sektor teknologi, finansial, dan utilitas mengalami penurunan paling dalam. Hal itu seiring dengan koreksi di saham Bank Mandiri (BMRI) dan DCI Indonesia (DCII).

Kedua saham tersebut menjadi pemberat utama dengan bobot -15,53 indeks poin dan -12,71 indeks poin. Selain itu saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mengganjal IHSG di zona merah.

Selain itu, saham-saham Prajogo Pangestu juga ikut membebani IHSG, seperti Barito Renewables Energy (BREN), Barito Pacific (BRPT), dan Chandra Asri Pacific (TPIA).

Beralih ke pergerakan nilai tukar rupiah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) masih terpantau stabil.

Merujuk Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.870/US$ atau terapresiasi tipis 0,03%.

Pergerakan rupiah kemarin berlangsung seiring rilis hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada 18-19 Februari 2026. BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap 3,75% dan suku bunga Lending Facility 5,50%.

"Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini dalam upaya stabilisasi di tengah kondisi global yang tidak stabil," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (19/2/2026).

Keputusan tersebut sejalan dengan konsensus CNBC Indonesia yang dihimpun dari 12 lembaga/institusi, yang seluruhnya memproyeksikan BI kembali menahan suku bunga pada RDG kali ini. Ini menjadi kali kelima BI mempertahankan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025.

Di sisi lain, BI menilai situasi pasar keuangan global masih diliputi ketidakpastian yang bersumber dari Amerika Serikat, tercermin dari pergerakan arus modal hingga dinamika nilai tukar.

Perry menjelaskan, ruang penurunan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) masih terbuka seiring pasar tenaga kerja yang dinilai masih lemah, sementara imbal hasil US Treasury tenor panjang tetap tinggi karena peningkatan risiko fiskal AS.

"Aliran modal ke negara berkembang terjadi selektif, terutama ke saham dan obligasi jangka pendek," jelas Perry dalam konferensi pers, Kamis (19/2/2026).

Perry menambahkan, indeks dolar AS secara umum melemah terhadap mayoritas mata uang, namun berbeda di Asia karena justru menguat seiring perkembangan nilai tukar di China, di tengah permintaan emas yang terus meningkat.

 

"Ke depan ketidakpastian global tetap tinggi sehingga perlu kewaspadaan dan respons kebijakan untuk dorong pertumbuhan lebih tinggi," kata Perry.

Sementara itu, pergerakan pasar surat utang RI masih terpantau dijual investor.

Berdasarkan data Refinitiv, yield obligasi 10 tahun pada kemarin mengalami kenaikan 3,4 basis poin (bps) menuju posisi 6,45%.

Perlu dipahami kenaikan pada yield obligasi berlawanan arah geraknya dengan harga. Artinya, ketika yield naik, maka harga surat utang sedang turun yang mengindisikan investor sedang banyak jualan.

Add as a preferred
source on Google

Pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kompak berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 267,50 poin atau 0,54% ke posisi 49.395,16. Indeks berbasis luas S&P 500 melemah 0,28% ke level 6.861,89. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 0,31% dan ditutup di 22.682,73.

Investor menarik dana dari saham perusahaan kredit privat setelah manajer aset pasar privat dan alternatif, Blue Owl Capital, mengumumkan rencana pengetatan likuiditas investor menyusul penjualan aset pinjaman senilai US$1,4 miliar.

Langkah ini memicu kekhawatiran terhadap potensi kerugian di sektor pinjaman privat yang relatif kurang transparan. Saham perusahaan tersebut anjlok sekitar 6%, sementara saham manajer aset lain seperti Blackstone dan Apollo Global Management masing-masing turun lebih dari 5%.

Selain manajer aset, sektor perangkat lunak juga berada di bawah tekanan. Saham Salesforce turun lebih dari 1%, sementara Intuit melemah sekitar 2%. Saham Cadence Design Systems bahkan merosot hampir 3%.

Kelompok saham ini belakangan menjadi titik lemah pasar karena investor khawatir kecerdasan buatan (AI) akan mengganggu industri perangkat lunak. CEO Mistral AI, Arthur Mensch, mengatakan kepada CNBC pada Rabu bahwa lebih dari 50% perangkat lunak perusahaan berpotensi digantikan oleh teknologi AI.

Pelaku pasar di Wall Street juga tetap waspada setelah harga minyak mentah melanjutkan kenaikan di tengah kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat terkait program nuklir Teheran.

Presiden Donald Trump menyatakan pada Kamis bahwa dirinya akan memutuskan dalam 10 hari ke depan apakah akan meluncurkan serangan militer terhadap negara Timur Tengah tersebut.

"Jadi sekarang kami mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kita akan mencapai kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam sekitar 10 hari ke depan," ujar Trump dikutip dari CNBC International.

Sentimen negatif pasar juga diperparah oleh penurunan saham Walmart lebih dari 1% setelah proyeksi laba tahunan perusahaan berada di bawah ekspektasi, meskipun kinerja kuartal keempat melampaui perkiraan analis.

Antonio Rodrigues, Chief Investment Officer di Procyon, mengatakan pergerakan pasar terbaru ini disebut sebagai konfirmasi perubahan kepemimpinan pasar.

Dia menilai momentum laba perlu mulai datang dari saham-saham di luar kelompok besar yang selama ini mendominasi indeks.

Rodrigues secara khusus melihat sektor industri dan konsumen siklikal sebagai area yang berpotensi memperoleh efisiensi dari belanja AI.

Pergerakan pasar keuangan RI pada akhir pekan ini, Jumat (20/2/2026) masih akan dipengaruhi sejumlah rilis data dari luar dan dalam negeri yang rilis kemarin, seperti suku bunga Bank Indonesia (BI) sampai update klaim pengangguran AS.

Sejumlah data ekonomi juga masih bersiap rilis pada hari ini, seperti inflasi PCE AS, sampai data dari dalam negeri terkait laporan neraca pembayaran dan transaksi berjalan..

Di sisi lain, posisi IHSG kini berada di resistance setelah menyentuh MA20 daily. Dengan closing candle indeks yang kemarin merah, ada potensi rawan koreksi terjadi.

Pergerakan IHSG ada potensi lanjut sideways dulu dengan support yang patut diantisipasi di area 7800, tetapi jika resistance MA20 daily mampu ditembus ada potensi IHSG bisa menutup gap dulu di posisi sekitar 8700.

ihsgFoto: ihsg

Adapun berikut rincian sentimen yang akan mempengaruhi gerak pasar hari ini:

Data Tenaga Kerja AS - Menanti Inflasi PCE

Pada Kamis malam kemarin, Biro Ketenagakerjaan AS merilis klaim pengangguran baru (initial jobless claims) secara mingguan yang berakhir per 14 Februari 2026, hasilnya turun 23.000 menjadi 206.000, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan 225.000.

Angka ini kembali ke level yang lebih rendah dibanding rata-rata awal tahun lalu, menunjukkan bahwa gelombang PHK masih relatif terbatas.

Sementara itu, klaim pengangguran lanjutan (continuing claims), yang mencerminkan jumlah orang yang masih menerima tunjangan pengangguran, naik tipis 17.000 menjadi 1,869 juta pada minggu pertama Februari.

Secara keseluruhan, data ini menggambarkan pasar tenaga kerja AS yang masih stabil, dengan laju pemutusan hubungan kerja yang melambat namun diimbangi oleh perekrutan yang juga tidak terlalu agresif, sejalan dengan pandangan Federal Reserve.

Adapun klaim dari pegawai federal yang sempat menjadi perhatian akibat isu government shutdown hanya naik tipis 80 menjadi 695, menandakan dampaknya sejauh ini masih sangat terbatas.

Berlanjut pada Jumat hari ini, pelaku pasar masih akan menanti data inti inflasi pilihan The Fed, Core PCE Price Index, yang diproyeksi naik 0,2% (mom), sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya.

Pada hari yang sama, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 versi advance diperkirakan 3,5% (qoq), di bawah realisasi sebelumnya 4,4%. Data pendapatan dan belanja masyarakat juga keluar bersamaan.

Kombinasi data saat ini menggambarkan ekonomi AS yang masih kuat, tetapi dalam fase normalisasi yang lebih seimbang, belum ada sinyal resesi, namun juga belum cukup lemah untuk memaksa The Fed buru-buru melonggarkan kebijakan.

Keputusan BI Menahan Suku Bunga

Pada kemarin Kamis, Bank Indonesia (BI) kembali menahan BI rate di level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.

"Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini dalam upaya stabilisasi di tengah kondisi global yang tidak stabil," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (19/2/2025).

Sejalan dengan keputusan ini, BI menegaskan kebijakan makroprudensial akan didorong progrowth dan kebijakan sistem pembayaran diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan ekonomi.

Keputusan ini sesuai dengan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga/institusi semuanya solid dengan seluruhnya memproyeksikan BI akan kembali menahan suku bunga di level 4,75% pada pertemuan RDG kali ini.

 

Ini menjadi kali kelima BI menahan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025.

Ke depan, BI juga menegaskan akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh, serta tetap mencermati ruang penurunan BI Rate lebih lanjut.

Neraca Pembayaran dan Transaksi Berjalan

Berlanjut pada hari ini, fokus beralih ke menanti data Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Triwulan IV-2025 serta sepanjang 2025.

Data ini akan memberi gambaran posisi transaksi berjalan dan arus modal pada akhir tahun. Investor akan membaca apakah surplus/defisit transaksi berjalan melebar serta bagaimana posisi cadangan devisa menopang stabilitas eksternal.

Data ini menjadi penting karena akan menjawab seberapa besar ketangguhan ekonomi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global serta dampak tarif Trump sepanjang 2025.

Bank Indonesia memperkirakan pada triwulan IV 2025, NPI diprakirakan tetap baik didukung neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus pada Desember 2025 sebesar US$2,5 miliar, ditopang terutama oleh ekspor berbasis sumber daya alam.

Perkembangan ini mendorong tetap rendahnya defisit transaksi berjalan pada 2025 kisaran defisit 0,5% sampai dengan surplus 0,3% dari PDB.


Perkembangan Iran vs Amerika

Ketegangan geopolitik masih menghantui AS dan Iran. Kondisi ini dikhawatirkan merembet ke pasar keuangan.

Presiden Donald Trump pada Kamis memperingatkan Iran bahwa negara tersebut harus mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya atau akan menghadapi hal-hal yang sangat buruk. Ia juga tampak menetapkan tenggat waktu sekitar 10 hingga 15 hari sebelum Amerika Serikat kemungkinan mengambil tindakan.

Di tengah pengerahan besar-besaran militer AS di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran perang lebih luas, Trump mengatakan negosiasi dengan Iran berjalan baik, namun menegaskan Teheran harus mencapai kesepakatan yang "bermakna".

"Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," kata Trump dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington, seraya kembali mengancam kemungkinan serangan terhadap Iran, dikutip dari CNBC International.

Trump juga menyinggung serangan udara AS pada Juni lalu, dengan menyatakan kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan secara besar-besaran", sambil menambahkan bahwa Amerika Serikat "mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak.

"Anda akan mengetahuinya dalam sekitar 10 hari ke depan," ujarnya. Saat diminta menjelaskan lebih lanjut di atas pesawat Air Force One, ia mengatakan, "Saya pikir itu waktu yang cukup, 10 sampai 15 hari, maksimal."

Namun ia menolak memberikan rincian lebih lanjut selain kembali memperingatkan tentang kemungkinan konsekuensi serius jika Iran tidak mencapai kesepakatan.

Harga Minyak Mendidih

Kontrak berjangka minyak mentah brent ditutup di posisi US$ 71,91 per barel pada Kamis (19/2/2026), level tertinggi sejak Juli 2025 atau lebih dari enam bulan terakhir.

Harga minyak melonjak seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Bagi Indonesia lonjakan minyak berdampak ganda. Di satu sisi, kenaikan harga minyak bisa membebani impor dan nilai tukar. Namun, di sisi lain juga meningkatkan pendapatan negara. Kenaikan harga minyak juga menjadi katalis positif bagi emiten minyak seperti Elnusa (ELSA) hingga Medco Energi Internasional (MEDC).

Laporan yang mengutip pejabat pemerintah menyebutkan bahwa AS dapat segera memulai operasi militer di Timur Tengah, dengan Israel mendorong perubahan rezim di Teheran. Kepala badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa waktu Iran untuk mencapai kesepakatan diplomatik semakin menyempit di tengah penumpukan kekuatan militer AS.

Konflik berpotensi mengganggu arus minyak melalui Strait of Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia melalui laut.

Sementara itu, laporan terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak di AS anjlok 9 juta barel pada pekan kedua Februari. Angka ini jauh berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 2 juta barel, yang sebelumnya diharapkan dapat sepenuhnya menghapus kenaikan 8,5 juta barel pada pekan sebelumnya.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Triwulan IV-2025 serta sepanjang 2025

  • Inflasi PCE AS

  • Media Briefing bersama Menteri Sekretaris Negara di kantor Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta Pusat

  • enteri Ketenagakerjaan mengecek program MagangHub di Gedung Transmedia, Jakarta Selatan

  • Media Briefing bersama Menteri Perdagangan di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat

  • OJK bersama BEI dan KSEI akan menyampaikan perkembangan terkini terkait MSCI melalui konfrensi pers di depan Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan

  • Kemenko Perekonomian akan menyelenggarakan konferensi pers terkait Penandatanganan Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia - Amerika Serikat yang akan diselenggarakan secara daring. Narasumber: Menko Perekonomian

  • Media Briefing bersama Menteri Keuangan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat

  • Media Briefing bersama pejabat eselon I ESDM di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat

  • Acara Menebar Semangat Kebaikan #LebihBaikIndosat yang akan diadakan di CGV Grand Indonesia, West Mall, Jakarta Pusat.

Berikut untuk indikator ekonomi RI :

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 



Most Popular
Features