MARKET DATA

Diam-Diam 8 Emiten RI Ini Dikuasai Amerika

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
19 February 2026 11:25
Kolase bendera Indonesia dan Amerika Serikat (AS). (AP Photo)
Foto: Kolase bendera Indonesia dan Amerika Serikat (AS). (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia (BEI) memiliki banyak ragam latar belakang investor baik dari skala kecil hingga besar, termasuk Amerika Serikat (AS).

Negeri "Paman Sam" melalui berbagai korporasi multinasional dan Private Equity (PE) telah lama meletakkan uangnya pada bisnis di Tanah Air dengan porsi kepemilikan cukup besar, melampaui batas 5%.

Berdasarkan penelusuran data pemegang saham terbaru hingga 31 Desember 2025, berikut adalah deretan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikendalikan atau dimiliki secara signifikan oleh entitas asal Amerika Serikat.

Raksasa Industri: Pengendali Mutlak

Di sektor manufaktur, nama PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) adalah bukti nyata dominasi modal AS yang sudah mengakar puluhan tahun.

HMSP dikendalikan penuh oleh Philip Morris International Inc., raksasa tembakau yang berbasis di Connecticut, AS. Melalui PT Philip Morris Indonesia, mereka menggenggam 92,50% saham HMSP.

Kepemilikan super mayoritas ini menjadikan HMSP sebagai "mesin uang" utama Philip Morris di Asia Tenggara, terutama dengan ekspansi pabrik produk tembakau bebas asap mereka di Karawang.

Kemudian, GDYR yang merupakan produsen ban di tanah air, mayoritas sahamnya dipegang langsung oleh The Goodyear Tire & Rubber Company asal Ohio, AS. Porsi kepemilikannya mencapai 85,00%, menjadikannya pengendali utama yang sangat dominan.

Gebrakan Private Equity: Warburg Pincus & DigitalBridge

Bergeser ke sektor infrastruktur dan properti, Private Equity AS terlihat sangat agresif mencaplok aset strategis melalui skema akuisisi yang cukup canggih dan kompeks di dalamnya.

PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT), emiten menara telekomunikasi, kini berada di bawah kendali DigitalBridge Group, Inc. Melalui anak usahanya EP ID Holdings Pte. Ltd, raksasa infrastruktur digital asal Florida ini menguasai 76,80% saham CENT.

Sementara itu, Warburg Pincus, salah satu Private Equity tertua dari New York, bermanuver pada dua sektor berbeda di emiten Indonesia. Di sektor asuransi, mereka menjadi beneficial owner dari PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) dengan kepemilikan 86,75% melalui OONA Indonesia Pte. Ltd.

Di sektor properti ritel, Warburg Pincus mengendalikan PT City Retail Developments Tbk (NIRO). Lewat entitas PT Orion Global Development, mereka memiliki 75,25% saham NIRO untuk mengelola jaringan mal di kota-kota Indonesia.

Taruhan pada Gaya Hidup Kelas Menengah

Investor AS juga tertarik dengan daya beli kelas menengah Indonesia. General Atlantic, firma growth equity asal New York, tercatat memiliki porsi saham signifikan di dua emiten konsumer favorit.

Mereka memegang 20,10% saham PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), pengelola Starbucks dan Subway di Indonesia. Selain itu, General Atlantic juga memarkir dananya di PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) alias Cimory dengan kepemilikan sebesar 5,64%, sebuah keyakinan kuat terhadap potensi pasar yogurt dan frozen food premium.

Jejak TPG di Multifinance

Terakhir, di sektor pembiayaan, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) memiliki jejak kuat modal AS melalui TPG Capital. Konsorsium Trinugraha Capital & Bravo Investments yang memiliki 51,19% saham BFIN, secara historis didukung oleh Northstar Group yang bermitra strategis dengan TPG Capital (Texas Pacific Group), salah satu firma investasi terbesar di dunia.

Keberadaan para raksasa AS ini dengan porsi kepemilikan di atas 5% hingga 90% menjadi sinyal bahwa aset-aset di pasar modal Indonesia memiliki valuasi dan prospek pertumbuhan yang signifikan di mata investor global, terlepas dari volatilitas pasar yang saat ini sedang terjadi.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular