Clinton-Trump: Siapa yang Paling Gila Naikkan Belanja Militer Amerika?
Jakarta, CNBC Indonesia - Anggaran pertahanan Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian setelah muncul proposal kenaikan belanja militer hingga menyentuh US$1,5 triliun untuk 2027.
Jika benar terealisasi, angka ini bukan hanya mencetak rekor baru, tetapi juga menegaskan tren jangka panjang yang sudah terlihat sejak lama. Belanja pertahanan AS cenderung terus menanjak dari masa ke masa, meski sempat bergerak naik turun dalam beberapa periode.
Mengacu pada Visual Capitalist, berdasarkan data otoritas anggaran National Defense atau Function 050 dalam dolar konstan 2025, belanja pertahanan AS kini sudah lebih dari US$400 miliar lebih tinggi dibanding akhir 1990-an.
Pada 1997, belanja pertahanan Amerika Serikat hanya uS$ 542 miliar tetapi kini angkanya sudah melonjak menjadi US$ 1,5Â triliun atau naik US$1000 miliar dalam 28 tahun. Bila dirupiahkan kenaikannya mencapai Rp 16.880 triliun.
Lonjakan terbesar anggaran pertahanan AS biasanya terjadi saat dunia sedang tidak aman. Misalnya setelah serangan 11 September 2001 yang memicu perang di Afghanistan dan Irak.
Lalu ketika rivalitas negara-negara besar kembali memanas, seperti persaingan AS dengan Rusia dan China. Belakangan, banyak negara juga kembali memperkuat militernya dan membeli senjata lebih agresif, sehingga belanja pertahanan ikut terdorong naik.
Pasca 9/11Â
Pada akhir 1990-an, saat Bill Clinton menjabat sebagai Presiden AS, anggaran pertahanan AS masih di kisaran US$500 miliar per tahun bila dihitung dengan nilai uang sekarang.
Namun setelah 2001, angkanya mulai naik cepat. Penyebab utamanya karena serangan 11 September yang membuat AS masuk ke perang besar, mulai dari Afghanistan lalu Irak di era Presiden George W. Bush.
Sepanjang 2000an, anggaran pertahanan pun membengkak dan sempat melampaui US$900 miliar sebelum 2010.
Ketika Barack Obama mulai menjabat sebagai Presiden AS pada 2009, anggaran itu tidak langsung turun. Alasannya, biaya perang dan berbagai komitmen keamanan yang sudah berjalan masih harus ditanggung. Di saat yang sama, militer AS juga terus memperbarui persenjataan dan menjaga kesiapan pasukan, sehingga anggaran tetap besar.
Memang sempat ada masa dimana anggaran pertahanan AS mengalami penurunan di pertengahan 2010-an, tetapi menjelang akhir dekade anggaran kembali merangkak naik. Pemicunya adalah situasi dunia yang kembali memanas dan persaingan antarnegara besar makin kuat, sehingga kebutuhan memperkuat pertahanan kembali meningkat.
Proposal Anggaran Pertahan 2027: US$1,5 Triliun
Tren belanja tinggi berlanjut di awal 2020-an pada periode Presiden Donald Trump dan Joe Biden. Dalam nilai riil, anggaran berada di sekitar US$900 miliar hingga melampaui US$1 triliun. Salah satu anggaran terbaru untuk pertahanan AS di 2026 disetujui Kongres sebesar US$901 miliar.
Namun titik yang paling mencolok ada pada pembahasan anggaran 2027. Donald Trump mengajukan proposal anggaran militer US$1,5 triliun, yang berarti kenaikan lebih dari 50% dari nilai anggaran terakhirnya. Arah kebijakan ini ditujukan untuk memperluas kapabilitas sekaligus mempercepat modernisasi pertahanan.
Buat pelaku pasar dan pemerintah, sinyalnya cukup jelas. Amerika Serikat sedang bersiap menaikkan belanja militernya lebih cepat lagi. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, anggaran pertahanan AS memang cenderung naik meski presidennya berganti-ganti, karena ancaman dan situasi dunia juga berubah.
Oleh karena itu, usulan anggaran tahun 2027 memberi pesan bahwa tren kenaikan itu belum berhenti. Bahkan, belanja militer bisa masuk ke fase baru yang lebih besar dari sebelumnya, seolah perlombaan memperkuat militer antarnegara masih berlanjut dan bisa makin intens.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)