Negara dengan Durasi Puasa Terlama & Terpendek di Dunia di 2026
Jakarta, CNBC Indonesia -Durasi puasa Ramadan tidak sama di setiap negara. Perbedaan letak geografis dan panjang siang-malam membuat umat Muslim di berbagai belahan dunia menjalani waktu puasa yang bervariasi, mulai sekitar 11 jam hingga lebih dari 16 jam.
Sebagian umat Islam di dunia akan memulai puasa pada 1 Ramadan 1477 Hijriah besok Rabu (18/2/2026), termasuk Muhamadiyah.
Secara umum, puasa dilakukan sejak fajar hingga matahari terbenam. Variasi waktu ini sangat dipengaruhi posisi lintang suatu negara, semakin dekat ke kutub, perbedaan durasi siang dan malam semakin ekstrem.
Negara dengan Puasa Terlama
Wilayah di belahan bumi utara, khususnya dekat Kutub Utara, menjadi lokasi dengan puasa terpanjang. Negara seperti Greenland, Islandia, Norwegia, Swedia, hingga Finlandia diperkirakan menjalani puasa lebih dari 16 jam pada Ramadan 2026.
Bahkan di beberapa wilayah lintang tinggi seperti Swedia bagian utara, Greenland, hingga Kanada utara, durasi puasa bisa mendekati 20 jam karena siang hari berlangsung sangat lama.
Untuk kondisi ekstrem tersebut, sebagian ulama membolehkan umat Muslim mengikuti jadwal puasa kota terdekat yang lebih moderat atau mengikuti waktu Makkah agar ibadah tetap memungkinkan dijalankan.
Negara dengan Puasa Terpendek
Sebaliknya, wilayah belahan bumi selatan atau dekat khatulistiwa cenderung memiliki durasi puasa lebih singkat. Negara seperti Brasil, Argentina, Uruguay, Chile, Afrika Selatan, hingga Selandia Baru diperkirakan memiliki waktu puasa sekitar 11-13 jam.
Sementara itu, negara-negara khatulistiwa seperti Indonesia dan Malaysia relatif stabil dengan durasi puasa sekitar 12-14 jam setiap tahunnya.
Ramadan 2026 Diperkirakan Lebih Singkat
Melansir dari Khaleej Times, ramadan 2026 diperkirakan mulai sekitar 19 Februari 2026, tergantung hasil rukyat hilal. Karena kalender Hijriah berbasis siklus bulan, Ramadan maju sekitar 10-12 hari lebih awal setiap tahun dalam kalender Masehi.
Perubahan ini berdampak pada durasi puasa. Tahun ini, jam puasa global diperkirakan sedikit lebih pendek dibanding tahun sebelumnya, memberikan "keringanan" bagi sebagian umat Muslim, khususnya di wilayah dengan siang hari panjang.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)