MARKET DATA

Gara-Gara Ini Banyak Orang China Tersebar di Berbagai Belahan Dunia

Tim riset,  CNBC Indonesia
17 February 2026 14:20
Calon pembeli melihat pernak pernik imlek yang dijual di kawasan Pecinan Glodok, Jakarta, Senin (20/1/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Calon pembeli melihat pernak pernik imlek yang dijual di kawasan Pecinan Glodok, Jakarta, Senin (20/1/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Komunitas Tionghoa atau China dikenal sebagai salah satu diaspora terbesar di dunia. Dari Asia Tenggara hingga Amerika Utara, Eropa, Australia, sampai Afrika, jejak mereka mudah ditemukan, baik dalam bentuk kawasan Chinatown, jaringan bisnis keluarga, maupun kiprah di sektor perdagangan dan industri.

Fenomena ini hasil dari proses sejarah panjang yang berlangsung berabad-abad.

Gelombang Migrasi dari Negeri Asal

Migrasi besar orang Tionghoa mulai menguat pada abad ke-19. Saat itu, wilayah yang kini dikenal sebagai Tiongkok menghadapi tekanan berat, lonjakan penduduk, keterbatasan lahan pertanian, serta rangkaian bencana alam seperti banjir dan kekeringan.

Situasi ekonomi yang rapuh membuat banyak keluarga desa mencari peluang hidup di luar negeri.

Kondisi tersebut diperparah oleh konflik berskala besar. Perang Opium dan Pemberontakan Taiping mengguncang stabilitas politik dan ekonomi. Ketidakpastian mendorong arus keluar penduduk dalam jumlah besar. Migrasi bukan lagi pilihan, melainkan strategi bertahan hidup.

Di saat bersamaan, sejumlah negara membuka pintu untuk tenaga kerja asing. Proyek rel kereta api, perkebunan, hingga pertambangan di Amerika dan Australia membutuhkan buruh dalam jumlah besar. Banyak migran Tionghoa datang sebagai pekerja kontrak dan kemudian menetap, membangun usaha, serta membentuk komunitas permanen.

Asia Tenggara, Basis Diaspora Terbesar

Asia Tenggara menjadi kawasan dengan populasi Tionghoa terbesar di luar negeri asalnya. Sejak era perdagangan maritim berabad-abad lalu, pelabuhan-pelabuhan di Nusantara dan Semenanjung Malaya telah menjadi titik singgah pedagang dari Tiongkok.

Di Indonesia, komunitas Tionghoa diperkirakan mencapai jutaan jiwa dan memainkan peran penting di sektor perdagangan, manufaktur, hingga jasa. Di Malaysia, sekitar seperlima populasi merupakan keturunan Tionghoa. Sementara itu, Singapura menjadi negara dengan proporsi etnis Tionghoa terbesar, membentuk fondasi sosial dan ekonominya sejak abad ke-19.

Kawasan ini berkembang bukan hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga karena kedekatan geografis dan jaringan dagang yang telah terbangun jauh sebelum era kolonial modern.

Amerika Utara dan Eropa, Jejak Demam Emas dan Perdagangan

Migrasi ke Amerika Serikat melonjak saat Demam Emas California pertengahan abad ke-19. Para pendatang bekerja di tambang emas dan proyek rel lintas benua. Seiring waktu, komunitas Tionghoa tumbuh di berbagai kota besar, membangun kawasan Chinatown yang kini menjadi bagian dari lanskap urban Amerika.

Di Kanada, migrasi memiliki pola serupa, terutama dalam pembangunan infrastruktur. Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Inggris dan Belanda memiliki komunitas Tionghoa yang berkembang melalui jalur perdagangan dan hubungan kolonial.

Afrika, Babak Baru Abad ke-21

Pada abad ke-21, arus migrasi bergerak ke Afrika seiring meningkatnya investasi dan proyek infrastruktur yang digagas pemerintah dan perusahaan dari Tiongkok. Negara-negara seperti Nigeria dan Ethiopia menjadi lokasi konsentrasi komunitas baru, terutama di sektor konstruksi dan manufaktur. Migrasi ini berbeda dari gelombang abad ke-19 karena lebih terhubung dengan strategi ekonomi global modern.

Ada pola yang konsisten dalam diaspora Tionghoa, jaringan komunitas yang solid, dukungan antaranggota, serta fokus pada pendidikan dan kewirausahaan. Kawasan Chinatown di berbagai kota dunia berfungsi sebagai pusat ekonomi sekaligus ruang sosial yang memperkuat solidaritas.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular