MARKET DATA

Mata Uang Safe Haven Mulai Dipertanyakan, Dolar AS hingga Yen Goyang

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
16 February 2026 11:30
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia — Selama bertahun-tahun ini pasar telah memiliki preferensi pilihan mata uang sebagai safe haven aset mereka. Mulai dari Dolar Amerika Serikat (AS), franc Swiss, hingga yen Jepang. Ketiganya biasa dianggap sebagai mata uang pilihan ketika kondisi global sedang dipenuhi ketidakpastian.

Namun memasuki 2025 hingga awal 2026, preferensi investor tersebut mulai luntur. Alih-alih selalu stabil ketika risiko meningkat, pergerakan ketiga mata uang tersebut justru semakin bergejolak atau volatile. Hal ini bahkan memunculkan pertanyaan baru di kalangan investor tentang definisi safe haven itu sendiri.

Dolar AS Tertekan, Status Safe Haven Mulai Goyah

Dolar AS selama ini selalu berada di pusat sistem keuangan global, hingga menjadi mata uang cadangan utama dunia. Tapi setelah diberlakukannya tarif resiprokal oleh Presiden AS Donald Trump justru memberi tekanan terhadap greenback.

Hal ini terlihat di pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama.

Melansir data Refinitiv, sepanjang 2025 DXY tertekan hingga 9,37% dengan ditutup di level 98,322. Dan belanjut melemah di awal 2026 ini, dengan berada di kisaran 97.

Deutsche Bank menilai status safe haven dolar makin dipertanyakan karena korelasinya dengan pergerakan pasar saham tidak selalu menunjukkan pola dolar menguat saat pasar menghindari risiko.

Sebagian manajer investasi juga melihat ruang pelemahan dolar yang lebih panjang. Mereka mengacu pada episode historis ketika euforia pasar AS memudar dan dolar terkoreksi dalam beberapa tahun berikutnya.

Gelombang tarif yang agresif pada 2025 memicu aksi jual aset-aset Amerika, termasuk dolar. Ketidakpastian bertambah karena kebijakan tarif dinilai berubah cepat, membuat pelaku pasar kesulitan membaca arah selanjutnya.

Sejumlah pelaku industri juga menyoroti faktor domestik AS. Melansir dari CNBC International, Bank swasta Julius Baer menilai kebijakan perdagangan yang tidak konsisten ikut menekan dolar, sementara agenda fiskal besar disebut berpotensi membawa AS ke jalur utang yang makin berat.

Di sisi lain, tekanan politik Trump terhadap pemimpin bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell turut dinilai mengikis kepercayaan investor.

Yen Jepang Berayun, Bayang-bayang Intervensi Muncul Lagi

Jika dolar sedang diuji oleh turbulensi kebijakan AS, yen Jepang menghadapi tantangan yang berbeda. Yakni tarik-menarik arah kebijakan moneter dan fiskal di dalam negeri.

Pada awal 2025, yen Jepang (JPY) berada di kisaran JPY 156/US$. Mata uang ini sempat menguat ketika Bank of Japan memberi sinyal kelanjutan normalisasi suku bunganya, tetapi tetap bergerak relatif stabil pada pertengahan tahun.


Situasi berubah menjelang akhir 2025. Setelah pergantian kepemimpinan di Jepang pada Oktober 2025, pasar menilai arah fiskal berpotensi lebih ekspansif. Respon investor pun cukup cepat yang membuat yen mesti mengalami tekanan. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor panjang meningkat.

Memasuki 2026, yen sempat menguat tajam setelah muncul kabar pengecekan pasar pada pasangan dolar yen yang memicu spekulasi intervensi.

Namun tekanan kembali datang ketika yen mendekati area yang dianggap sensitif. Sejumlah analis memperkirakan pelemahan yen tidak akan dibiarkan melewati batas tertentu, karena dapat memancing reaksi dari otoritas Jepang maupun meningkatkan perhatian dari pihak AS.

Artinya, yen masih memegang label safe haven, tetapi jalannya tidak lagi mulus. Ketika volatilitas meningkat dan spekulasi intervensi berputar, status yen sebagai tempat berlindung menjadi terasa lebih berat.

Franc Swiss Menguat, tapi Justru Jadi Masalah di Rumah Sendiri

Berbeda dari dolar dan yen, franc Swiss justru menjadi pemenang dalam perburuan safe haven aset selama setahun terakhir.

Hal ini diitopang oleh stabilitas politik, tingkat utang yang rendah, serta ekonomi yang terdiversifikasi. Yang membuat mata uang ini menguat signifikan sepanjang 2025 dan berlanjut hingga 2026, bahkan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu dekade terhadap dolar dan euro.

Meski begitu, pergerakan franc bukan tanpa hambatan. Pada akhir Januari lalu, ketika logam mulia mengalami tekanan, investor sempat berbalik melepas franc sehingga mata uang ini turun tajam dalam sehari.

Masalahnya, kekuatan franc mulai menjadi pedang bermata dua bagi Swiss. Negara ini menghadapi inflasi yang sangat rendah, sementara ekonomi Swiss bertumpu pada ekspor.

Franc yang terlalu kuat dapat menambah tekanan disinflasi yang membuat ruang kebijakan moneter oleh bank sentral nya (Swiss National Bank/SNB) makin sempit, terlebih ketika suku bunga acuan sudah berada di level yang sangat rendah.

SNB punya sejarah melakukan intervensi dengan menjual franc dan membeli mata uang asing untuk menahan penguatan. Namun langkah itu kini lebih rumit karena isu politik global, termasuk sikap keras AS terhadap intervensi mata uang di era pemerintahan Trump.

Sejumlah lembaga memperkirakan penguatan franc Swiss tidak akan berlangsung tanda adanya koreksi.

Ada proyeksi bahwa dolar memiliki peluang untuk mengalami kenaikan terhadap franc dalam beberapa bulan mendatang. Meski demikian, sejumlah analis pasar menilai franc saat ini justru tampil sebagai safe haven paling konsisten, ketika daya tarik dolar dan yen tergerus.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular