MARKET DATA

Trump Turun Tangan: Harga Batu Bara Langsung Terbang Tertinggi Setahun

mae,  CNBC Indonesia
13 February 2026 06:52
Batu bara kokas. (Dok. Pertamina)
Foto: Batu bara kokas. (Dok. Pertamina)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terbang ditopang kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump serta kebijakan pemerintah Indonesia.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 119 per ton atau stagnan pada Kamis (12/2/2026). Harganya melonjak 2,37%.
Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak 23 Januari 2025 atau setahun lebih.

Harga batu bara melonjak ditopang kebijakan Trump.

Presiden AS Donald Trump kembali menunjukkan keberpihakannya pada industri batu bara. Dalam acara Champion of Coal di Gedung Putih, Rabu waktu setempat, Trump menyatakan telah menginstruksikan Departemen Energi AS untuk mengamankan pendanaan agar sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di West Virginia, Ohio, North Carolina, dan Kentucky tetap beroperasi.

Tak hanya itu, Trump mengumumkan akan segera menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan Departemen Pertahanan untuk membuat perjanjian pembelian listrik langsung dengan PLTU. Langkah ini bertujuan menjamin pasokan listrik yang andal untuk kebutuhan militer AS.

"Kami sekarang akan membeli banyak batu bara melalui militer, dan itu akan lebih murah serta jauh lebih efektif dibandingkan apa yang telah kami gunakan selama bertahun-tahun," kata Trump, dikutip dari Reuters.

Pentagon Turun Tangan

Trump menginstruksikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menyusun kontrak pembelian listrik jangka panjang dari pembangkit batu bara guna mendukung operasi militer. Kantor instalasi energi Pentagon disebut akan mengejar perjanjian yang menjanjikan peningkatan permintaan serta kepastian bisnis bagi industri batu bara.

Gedung Putih juga mengumumkan dana sebesar US$175 juta dari Departemen Energi untuk peningkatan enam PLTU di Kentucky, North Carolina, Ohio, Virginia, dan West Virginia.

Trump bahkan mengklaim pembangkitan listrik berbasis batu bara naik hampir 15% pada tahun pertama masa jabatannya, dan diproyeksikan melonjak 25-30% tahun depan.

"Lebih banyak batu bara berarti biaya lebih rendah dan lebih banyak uang di kantong warga Amerika," ujarnya.

AI Jadi Alasan

Langkah agresif ini datang di tengah lonjakan permintaan listrik akibat ekspansi industri kecerdasan buatan (AI) yang sangat haus energi. Trump menyebut listrik dari "batu bara bersih dan indah" penting untuk memenangkan persaingan global di bidang AI sekaligus menekan tagihan listrik konsumen menjelang pemilu sela November.

Di sisi lain, kebijakan ini juga menandai pergeseran tajam dari tren sebelumnya. Selama satu dekade terakhir, penggunaan batu bara di AS terus menurun akibat tekanan energi terbarukan dan gas alam yang lebih murah, serta isu perubahan iklim.

Namun kini, Departemen Energi telah mengeluarkan perintah darurat agar sejumlah PLTU tetap beroperasi. Departemen Dalam Negeri juga membuka lebih banyak lahan federal untuk konsesi batu bara di North Dakota, Montana, dan Wyoming.

Sebaliknya, pemerintahan Trump menghentikan dukungan federal untuk sejumlah proyek tenaga angin dan surya serta melonggarkan regulasi yang sebelumnya mendorong transisi dari bahan bakar fosil.


Indonesia Kurangi Pasokan
Selain kebijakan Trump, langkah Indonesia mengurangi pasokan juga mendorong harga.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pemerintah sengaja melakukan pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan batu bara pada tahun ini.
Tidak lain, tujuannya untuk mengintervensi pasar dan menjaga stabilitas harga komoditas agar tidak jatuh akibat kelebihan pasokan atau oversupply.

Bahlil menjelaskan, rencana kebijakan pemotongan target produksi tersebut murni didasarkan pada hukum ekonomi dasar mengenai penawaran dan permintaan (supply and demand).

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu eksportir terbesar dunia seharusnya mampu mempengaruhi harga pasar, namun kenyataannya harga justru sering dikendalikan oleh pihak asing.

"Kenapa RKAB itu kita potong? Karena supply and demand. Harga batu bara kita dikendalikan oleh asing. Maka saya bilang kalau begitu kita pakai hukum ekonomi supply and demand. Jadi kalau kita produksinya banyak permintaannya sedikit harganya murah. Ya kita buat aja keseimbangan berapa konsumsi itu yang diproduksi," ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Berdasarkan catatannya, total volume perdagangan batu bara dunia yang mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Indonesia sendiri berkontribusi menyuplai sekitar 560 juta ton atau menguasai pangsa pasar 43-44%.

Namun, ia menyayangkan dominasi volume tersebut tidak berbanding lurus dengan penentuan harga oleh Indonesia, sehingga pemerintah perlu mengatur volume agar harga terdongkrak naik.

Namun, ada pengecualian khusus bagi perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 1, termasuk tambang batu bara milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Selain itu, BUMN pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) juga tidak terkena kebijakan pemangkasan produksi tahun ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)



Most Popular