MARKET DATA
Economic Outlook 2026

Dolar Ditinggal, Bukti Uang Investor Gak Pernah Loyal

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
10 February 2026 12:05
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi tekanan terhadap mata uang dunia. Tekanan itu tercermin dari indeks dolar AS DXY yaitu indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.

Melansir data Refinitiv, pergerakan indeks dolar AS pada Selasa (10/2/2026) per pukul 10.48 WIB terkoreksi tipis 0,02% di level 96,799. Sekaligus melanjutkan penurunannya di perdagangan sebelumnya, ketika DXY melemah tajam 0,84% di level 96,816.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menilai dinamika ini tidak lepas dari ketidakpastian pasar global. Dalam kondisi seperti itu sebagian pelaku pasar termasuk bank sentral mulai mengurangi eksposur pada aset berdenominasi dolar AS

"Beberapa bank sentral tengah menurunkan porsi dolar dan mengalihkan dana ke obligasi AS. Mereka sempat memegang obligasi dolar lalu beralih lagi ke emas, makanya emas naik lebih dari dua kali lipat dalam satu tahun," Ujar Destry dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Kondisi ini menunjukkan sikap pelaku pasar ketika kondisi imbal hasil dan persepsi risiko berubah arus dana ikut berubah.

Investor pun bisa berpindah dari dolar ke obligasi lalu ke emas kemudian kembali lagi ke aset lain, bukan karena setia pada dolar atau emas melainkan karena kalkulasi peluang keuntungan dan kebutuhan lindung nilai. Destry pun menekankan bahwa yang diburu pelaku pasar bukan mata uang tertentu melainkan imbal hasil terbaik.

"Di mata uang mana yield memberikan return tinggi. Yang tidak ada yg loyal hanya loyal pada return," Ujar Destry.

Sejalan dengan itu, volatilitas juga tercermin pada pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun. Naik turunnya imbal hasil dapat menjadi sinyal bahwa pelaku pasar aktif melakukan jual beli jangka pendek dan terus menyesuaikan posisi mengikuti perubahan ekspektasi suku bunga inflasi hingga sentimen risiko global.

Dengan investor yang terus mengubah preferensi terhadap dolar AS, cukup terlihat dari pergerakan enam mata uang utama dunia yang hampir kompak mengalami penguatan terhadap dolar paling tidak dalam periode satu tahun terakhir.

Mata uang utama dunia ini meliputi, euro (EUR), dolar Kanada (CAD), franc Swiss (CHF), yen Jepang (JPY), kroner Swedia (SEK), dan poundsterling Inggris (GBP).

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular