MARKET DATA

King MU Menang Terus! Harga Sahamnya Ikut Moncer, Siap-Siap Meroket

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
07 February 2026 18:30
Soccer Football - Champions League Round of 16 Second Leg - Manchester United vs Sevilla - Old Trafford, Manchester, Britain - March 13, 2018   A Manchester United flag is waved before the match    REUTERS/David Klein
Foto: REUTERS/David Klein

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan saham Manchester United cukup moncer sejak awal 2026 ini, seiring dengan raihan tiga kemenangan beruntun tim "Setan Merah" di Liga Inggris.

Manchester United (MU) merupakan salah satu klub sepak bola dengan basis pendukung terbesar di dunia, bukan hanya di Inggris, tetapi juga di berbagai negara, termasuk Indonesia. Klub sarat sejarah dan gelar ini berhasil merebut hati banyak pecinta sepak bola.

Namun, MU sempat melewati periode sulit setelah ditinggal pelatih legendaris Sir Alex Ferguson pada musim 2012/2013. Yang mana pada musim tersebut juga menjadi musim terakhir MU menjuarai Liga Inggris dan mencatat gelar yang ke-20.

Memasuki musim 2025/2026, MU kembali mencuri perhatian. Di bawah manajer baru Michael Carrick, yang juga mantan pemain MU, performa tim mulai menunjukkan kebangkitan setelah meraih hasil positif dalam sejumlah laga besar, termasuk saat menghadapi rival sekotar Manchester City dan musuh bebuyutan Arsenal.

3 Laga terakhir MU di Liga Inggris:

- Man United 2-0 Man City

- Arsenal 2-3 Man United

- Man United 3-2 Fulham

Artinya, MU belum bisa terkalahkan sejak diasuh oleh Carrick bahkan saati ini posisi MU di klasemen Liga Inggris, naik ke zona empat besar dan peluang kembali ke Liga Champions ikut terbuka lebar.

Perlu dicatat, Manchester United bukan sekadar klub sepak bola. MU telah bertransformasi menjadi entitas bisnis global yang sahamnya diperdagangkan di bursa Amerika Serikat. Manchester United melakukan IPO pada 10 Agustus 2012 dan terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode saham MANU.

Lalu, bagaimana pergerakan harga sahamnya hingga kinerja keuangan klub Setan Merah ini.

Berdasarkan pergerakan harga sahamnya, sejak awal 2026 hingga penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), saham MU mampu menguat 8,92% secara year-to-date (ytd). Saham MU dibuka pada level US$15,78 per lembar dan naik menjadi US$17,34 per lembar.

Namun, bila dilihat pergerakannya sejak Intial Public Offering (IPO) pada 2012, dimana harga IPO nya sebesar US$14 per lembar. Berarti dalam kurun waktu 14 tahun setelah rilis, harga saham MU terapresiasi sebesar 23,86%.

Melihat kinerja fundamental klub Setan Merah ini melalui laporan keuangannya. Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025 (tahun yang berakhir pada 30 Juni), MU berhasil membukukan pendapatan sebesar £666,51 juta atau setara sekitar Rp15,26 triliun (asumsi kurs Rp22.900/GBP).

Bila dilihat dalam enam tahun terakhir atau sejak 2020, pendapatan Manchester United cenderung meningkat. Dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) sekitar 5,54%, MU menunjukkan kemampuan menjaga kinerja pendapatan secara relatif solid.

Namun, tren tersebut belum berbanding lurus dengan profitabilitas klub. Meski pendapatan tumbuh, Manchester United belum mampu membukukan laba bersih. Sepanjang 2020 hingga 2025, MU tercatat terus mencatat kerugian bersih setiap tahunnya. Yang disebabkan oleh tingginya beban operasional klub.

Meski profitabilitas klub belum membaik dan MU masih kesulitan mencetak laba bersih, pergerakan harga sahamnya relatif tetap bertahan, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap prospek jangka panjang klub.

Di sisi lain, tim kebanggaan Kota Manchester ini terus berbenah untuk kembali tampil kompetitif. Performa yang perlahan membaik menjadi sinyal bahwa MU sedang mencoba kembali ke jalur terbaiknya. Bukan tidak mungkin, jika momentum ini terjaga, MU berpeluang menambah koleksi gelar Liga Inggris yang ke-21.

Apabila prestasi di lapangan benar-benar berbuah hasil yang manis, peluang peningkatan pendapatan pun terbuka, mulai dari hak siar, komersial, hingga banyaknya jumlah pertandingan yang dimainkan. Dan jika pada saat yang sama MU mampu lebih disiplin menahan beban biaya, bukan mustahil klub dapat kembali mencatatkan keuntungan. Hingga membuat harga sahamnya berpotensi naik lebih tinggi lagi. 

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular