MARKET DATA

Danantara Turun ke Bursa, Saham Apa Saja yang Berpeluang Diborong?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
04 February 2026 10:35
danantara
Foto: danantara

Jakarta, CNBC Indonesia - Dinamika pasar saham Indonesia saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari penyesuaian regulasi OJK, kebijakan papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga sentimen rebalancing indeks MSCI. Kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri terkait likuiditas di pasar.

Di tengah situasi tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menegaskan peran strategisnya. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan bahwa institusi ini akan berperan sebagai Liquidity Provider untuk menjaga stabilitas dan kedalaman pasar modal Indonesia.

Manajemen Danantara tidak menyebutkan secara spesifik nama-nama emiten yang akan menjadi target investasi. Hal ini dinilai sebagai strategi untuk mendorong partisipasi pasar yang lebih luas (crowd in). Investor diharapkan melakukan analisis mandiri berdasarkan framework investasi yang baku, alih-alih sekadar mengikuti arus aliran dana institusi.

Fokus pada Arus Kas Operasional

Untuk merespons strategi crowd in tersebut, investor perlu memahami parameter fundamental yang digunakan oleh pengelola dana besar. Tiga kriteria utama yang menjadi acuan adalah: Likuiditas Baik (Good Liquidity), Fundamental Baik (Good Fundamental), dan Arus Kas Kuat (Good Cash Flow).

Parameter Free Cash Flow dan juga Price to Earnings Ratio menjadi indikator vital. Berbeda dengan laba bersih yang dapat dipengaruhi oleh metode akuntansi, arus kas mencerminkan kemampuan riil perusahaan dalam menghasilkan uang tunai untuk operasional, pembagian dividen, serta ekspansi bisnis.

Berdasarkan data laporan keuangan emiten di Bursa Efek Indonesia, berikut adalah pemetaan lengkap saham-saham yang masuk dalam kriteria tersebut, dikelompokkan berdasarkan sektornya.

Sektor Perbankan dan Keuangan

Sektor perbankan menjadi penopang likuiditas terbesar di pasar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin dengan Free Cash Flow sebesar Rp 124,2 triliun dan posisi kas Rp 24,1 triliun. Diikuti oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatatkan FCF Rp 87,4 triliun.

Selain bank Big 4 (termasuk BBCA dan BBNI), terdapat deretan bank lapis kedua dan lembaga keuangan yang memiliki fundamental arus kas positif dan valuasi wajar. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menonjol dengan pertumbuhan di segmen syariah dan FCF Rp 12,3 triliun.

Sektor Energi dan Pertambangan

Sektor ini berisi perusahaan-perusahaan yang menghasilkan uang tunai dalam jumlah besar (cash cow). PT United Tractors Tbk (UNTR), sebagai proksi alat berat dan tambang, memiliki posisi kas tebal sebesar Rp 28,3 triliun dan FCF Rp 15,4 triliun.

Di sub-sektor pertambangan batubara dan mineral, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan anak usahanya (AADI/ADMR), serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), konsisten mencetak arus kas operasional yang surplus.

Untuk eksposur hilirisasi nikel dan emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menunjukkan efisiensi belanja modal yang baik.

Sektor Barang Konsumsi dan Kesehatan

Saham di sektor ini menawarkan stabilitas. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) memiliki cadangan kas dan setara kas sebesar Rp 42,9 triliun, menjadikannya salah satu emiten paling likuid di luar perbankan. Anak usahanya, ICBP, juga memiliki arus kas yang solid.

Infografis, Akselerasi Pembangunan Hijau di IndonesiaFoto: Infografis/ Akselerasi Pembangunan Hijau di Indonesia/ Edward Ricardo
Infografis, Akselerasi Pembangunan Hijau di Indonesia

Di sektor kesehatan dan farmasi, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masuk dalam daftar karena neraca keuangan yang sehat dan minim utang.

Sektor Infrastruktur, Telekomunikasi, dan Aneka Industri

Induk konglomerasi PT Astra International Tbk (ASII) adalah emiten dengan posisi kas terbesar di bursa, mencapai Rp 54,6 triliun. Di sektor ritel dan properti, beberapa emiten menunjukkan pemulihan arus kas pasca-pandemi.

Selain itu, PT Telkom IndonesiaTbk (TLKM) tetap menjadi pilihan utama denganFCF Rp 38,4 triliun. Selain itu, emiten menara seperti PT Sarana Menara NusantaraTbk (TOWR) dan operator PT Indosat Tbk (ISAT) juga menunjukkan perbaikan arus kas operasional yang signifikan.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular