Mengapa Manusia Begitu Terobsesi pada Emas?
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Sejarah peradaban manusia selalu beririsan dengan emas. Logam ini hadir sejak fase awal masyarakat pemburu-peramu, lalu terus menempati posisi sentral ketika manusia membangun agama, negara, hingga sistem keuangan modern.
Ketertarikan tersebut bertahan lintas zaman, bahkan ketika fungsi uang telah beralih ke bentuk digital. Pertanyaannya bukan lagi sejak kapan emas dihargai, melainkan mengapa nilainya bertahan ketika hampir semua simbol ekonomi lain berubah.
Jawabannya berawal dari sifat fisik emas itu sendiri. Emas ditemukan dalam keadaan murni di alam, berbeda dari logam lain yang membutuhkan proses peleburan kompleks.
Warnanya kontras dengan batuan di sekitarnya, permukaannya memantulkan cahaya, dan strukturnya tidak teroksidasi.
Bagi manusia awal, benda yang tidak rusak oleh waktu menjadi anomali. Dari situ, emas dipersepsikan sebagai materi yang berada di luar siklus alam biasa, lebih dekat dengan gagasan keabadian dibanding fungsi utilitarian.
Â
Sifat mekanis emas memperkuat posisinya. Logam ini sangat lunak dan lentur, dapat dibentuk tanpa kehilangan integritas material. Pada fase awal peradaban, kemampuan mengubah emas menjadi perhiasan, simbol kekuasaan, atau objek ritual menciptakan diferensiasi sosial yang kasat mata. Kepemilikan emas menjadi penanda akses terhadap sumber daya, keterampilan, dan otoritas. Mekanisme ini bekerja jauh sebelum konsep kekayaan didefinisikan secara moneter.
Foto: Pexelsemas |
Ketika struktur kepercayaan berkembang, emas berpindah dari ranah material ke ranah sakral. Di Mesir Kuno, emas dipahami sebagai substansi ilahi yang terkait langsung dengan dewa matahari. Hubungan antara kilau emas dan cahaya matahari membentuk asosiasi kosmologis yang kuat.
Pola serupa muncul di Yunani, Amerika pra-Kolumbus, hingga berbagai peradaban Asia. Dalam konteks ini, emas berfungsi sebagai medium antara manusia dan kekuatan yang dianggap melampaui kehidupan duniawi.
Transformasi berikutnya terjadi saat masyarakat memasuki sistem ekonomi berbasis pertukaran luas. Emas memenuhi syarat sebagai penyimpan nilai karena tidak menyusut secara fisik dan jumlahnya terbatas. Nilai tinggi dalam volume kecil memungkinkan akumulasi kekayaan tanpa beban logistik besar. Ketika koin emas mulai dicetak secara sistematis pada abad ke-6 SM, emas berubah menjadi fondasi moneter. Kontrol atas cadangan dan jalur distribusinya menjadi faktor strategis pembentukan kekuasaan politik.
Daya tarik emas kemudian mengakar dalam psikologi manusia. Ketertarikan pada permukaan berkilau diduga berkaitan dengan mekanisme evolusioner manusia dalam mengenali air. Kilau emas memicu respons visual yang konsisten lintas budaya. Seiring waktu, asosiasi antara emas, status sosial, dan keamanan ekonomi membentuk pola mental yang bertahan lintas generasi. Bahkan setelah uang kertas dan instrumen keuangan modern berkembang, respons emosional terhadap emas tidak ikut menghilang.
Â
Memasuki era modern, peran emas mengalami reposisi, bukan penghapusan. Sistem standar emas memang ditinggalkan, namun bank sentral tetap menyimpan emas sebagai cadangan strategis. Investor kembali mengakumulasi emas saat ketidakpastian ekonomi meningkat. Mekanismenya sederhana: emas tidak dapat diproduksi melalui kebijakan moneter. Nilainya tidak bergantung pada kredibilitas pemerintah atau stabilitas sistem keuangan tertentu. Dalam konteks inflasi dan ekspansi likuiditas, emas berfungsi sebagai jangkar kepercayaan.
Di luar fungsi simbolik dan finansial, emas memperoleh relevansi baru melalui teknologi. Konduktivitas tinggi dan ketahanannya terhadap korosi menjadikannya komponen penting dalam elektronik dan perangkat komunikasi.
Dalam dunia medis, sifat biokompatibel emas membuka ruang pemanfaatan klinis. Lapisan utilitas ini memperpanjang relevansi emas dalam ekonomi modern yang semakin berbasis teknologi.
Namun, konsekuensi dari permintaan emas berskala global tidak ringan. Eksplorasi dan penambangan emas mendorong kerusakan lingkungan dan memunculkan persoalan etika tenaga kerja.
Meski demikian, tekanan permintaan tetap bertahan.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb)
Foto: Pexels