MARKET DATA

Langit Februari 2026 Padat Agenda, Bulan Purnama hingga Parade Planet

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
31 January 2026 20:30
Patung-patung kuno terlihat selama hujan meteor Perseid di puncak Gunung Nemrut di tenggara Turki, Minggu, 11 Agustus 2024. Bertengger di ketinggian 2.150 meter (lebih dari 7.000 kaki), patung-patung tersebut merupakan bagian dari kompleks kuil dan makam yang dibangun oleh Raja Antiochus I, dari kerajaan Commagene kuno, sebagai monumen untuk dirinya sendiri. (AP Photo/Emrah Gurel)
Foto: Patung-patung kuno terlihat selama hujan meteor Perseid di puncak Gunung Nemrut di tenggara Turki, Minggu, 11 Agustus 2024. (AP/Emrah Gurel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Februari 2026 menjadi salah satu periode terpadat dalam kalender astronomi global tahun ini.

Dalam rentang 28 hari, terdapat empat fenomena langit utama yang tercatat secara internasional, bulan purnama Februari atau Snow Moon, hujan meteor Alpha Centaurid, gerhana Matahari cincin, dan parade enam planet.

Menurut kalender astronomi In The Sky dan National Geographic, rangkaian ini dikategorikan sebagai fenomena besar karena memiliki skala observasi luas, waktu puncak yang jelas, serta keterkaitan langsung dengan dinamika orbit Bumi, Bulan, dan planet-planet di Tata Surya.

Snow Moon, 2 Februari 2026

Fenomena pertama adalah Snow Moon, yang mencapai fase purnama pada 2 Februari 2026. Secara mekanisme, fase ini terjadi saat Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga seluruh sisi Bulan yang menghadap Bumi menerima cahaya Matahari secara penuh.

Nama Snow Moon berasal dari tradisi penamaan di belahan Bumi utara, karena periode ini bertepatan dengan puncak musim dingin dan curah salju tertinggi. Dari sisi observasi, Bulan purnama Februari dapat dilihat hampir di seluruh dunia sejak Matahari terbenam hingga terbit kembali, tanpa memerlukan alat bantu.

Hujan Meteor Alpha Centaurid, 8 Februari 2026

Agenda berikutnya adalah hujan meteor Alpha Centaurid, dengan puncak aktivitas pada 8 Februari 2026. Laju meteor diperkirakan sekitar enam meteor per jam pada kondisi langit gelap dan cerah. Sumber meteor berasal dari rasi Centaurus, menjadikan fenomena ini lebih optimal diamati di belahan Bumi selatan seperti Australia, Selandia Baru, dan Amerika Selatan.

Secara ilmiah, hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi sisa debu kosmik dari benda langit yang telah hancur, dan partikel tersebut terbakar saat memasuki atmosfer. Intensitasnya relatif rendah, namun konsisten setiap tahun.

Gerhana Cincin Matahari, 17 Februari 2026

Puncak perhatian astronomi Februari jatuh pada 17 Februari 2026, saat terjadi gerhana Matahari cincin. Pada peristiwa ini, Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk menutup Matahari sepenuhnya.

Akibatnya, sekitar 92% piringan Matahari tertutup, menyisakan cincin cahaya dengan durasi fase maksimum sekitar dua menit 19 detik. Jalur pengamatan utama melintasi Antarktika serta sebagian Amerika Selatan dan Afrika bagian selatan. Indonesia berada di luar lintasan, sehingga fenomena ini tidak dapat disaksikan dari dalam negeri.

Parade Enam Planet, 28 Februari 2026

Menutup bulan, langit malam menghadirkan parade enam planet pada 28 Februari 2026. Planet yang terlibat meliputi Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus. Secara posisi, Merkurius, Venus, dan Saturnus terlihat berdekatan di langit barat hingga selatan, sementara Jupiter tampak paling terang di langit malam.

Uranus dan Neptunus berada dalam konfigurasi yang sama namun membutuhkan teleskop karena intensitas cahayanya rendah.

Fenomena ini terjadi akibat perbedaan kecepatan orbit masing-masing planet, yang pada periode tertentu menempatkan mereka dalam satu bidang pandang dari Bumi.

Di luar empat fenomena utama tersebut, kalender astronomi internasional sebenarnya mencatat sejumlah peristiwa tambahan sepanjang Februari, seperti konjungsi Bulan dengan Merkurius dan Saturnus, elongasi maksimum Merkurius, hingga mulai terbitnya inti Galaksi Bima Sakti menjelang akhir bulan.

Melansir dari National Geographic peristiwa-peristiwa ini bersifat teknis dan observasional, sehingga lebih relevan bagi pengamat langit dan astronom amatir.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular