MARKET DATA

Galau Lihat IHSG? Hindari Dulu Saham di Sektor Ini

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
30 January 2026 08:35
saham
Foto: saham

Jakarta, CNBC Indonesia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) boleh saja mulai rebound, tetapi satu hal penting harus diketahui kalau risiko outflow masih menyelimuti, sejumlah saham pun masih menghadapi risiko turun lagi.

Sebagai informasi dulu, IHSG pada kemarin Kamis (29/1/2026) pagi hari, sekitar 30 menit setelah pasar buka langsung terjun menyentuh 8% dan berakhir trading halt alias pemberhentian sementara perdagangan selama 30 menit.

IHSG memang akhirnya bisa mengurangi laju penurunan dan ditutup melemah 88,35 poin atau melemah 1,06% ke level 8.223,20.

Panic selling menyelimuti pasar setelah Goldman Sach dan UBS menurunkan rating saham Indonesia menjadi underweight, menyusul peringatan MSCI yang menghentikan sementara review index untuk Indonesia pada Februari mendatang dan menuntut keterbukaan data free float lebih transparan.

Dalam konferensi pers bersama OJK bersama BEI pada Kamis (29/1/2026), pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga Indonesia tetap berada dalam kategori Emerging Market di mata global, menyusul sorotan dari MSCI terkait struktur pasar domestik.

Sebagai langkah percepatan, OJK bahkan akan sementara berkantor di BEI mulai besok guna memastikan koordinasi berjalan lebih intensif. Direktur Utama BEI, Iman Rachman juga dijadwalkan bertemu langsung dengan MSCI pada Senin mendatang untuk membahas isu-isu utama, khususnya terkait transparansi data kepemilikan saham.

Regulator akan memprioritaskan pengumpulan dan validasi data kepemilikan di atas 5% sebagai langkah cepat, sementara kepemilikan di bawah 5% masuk dalam agenda jangka menengah.

Seluruh data tersebut akan dikonsultasikan ke MSCI agar selaras dengan standar internasional, termasuk pembukaan data Ultimate Beneficial Owner (UBO) untuk sekitar 100 emiten yang akan diserahkan langsung kepada MSCI.

Seluruh rangkaian langkah ini ditargetkan rampung pada Maret 2026, sebagai bagian dari upaya terpadu menjaga kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global

Merespons hal tersebut, pada sesi kedua perdagangan, candle harian IHSG akhirnya kembali menghijau. Setelah sebelumnya terjun hingga masuk "kepala tujuh", pelemahan kian menipis menjadi sekitar 1,06% dan indeks bertengger di level 8.232,20 sampai penutupan kemarin.

Beralih pada perdagangan Jumat hari ini (30/1/2026) yang sekaligus akan menjadi penutupan perdagangan bursa saham untuk Januari 2026, yang secara historis kerap diwarnai volatilitas tinggi.

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi: pasar menutup pekan dengan "happy weekend", atau justru kembali diwarnai tekanan dalam apa yang kerap disebut sebagai "Jumat keramat".

Masih Waspada di Sektor Ini

Sejauh ini, kami masih cenderung menghindari saham-saham dengan kontribusi besar terhadap indeks MSCI, terutama emiten yang fundamentalnya belum terlalu solid, minim katalis pemulihan, atau masih terbatas dalam ekspansi bisnis. Pasalnya, saham-saham inilah yang paling rentan menjadi sasaran jual investor asing ketika proses penyesuaian bobot MSCI masih berlangsung.

Di sisi lain, rebound teknikal yang terjadi belakangan ini lebih banyak dipicu oleh aksi bargain hunting jangka pendek serta buyback dari beberapa emiten, bukan karena perubahan sentimen makro yang benar-benar membaik. Artinya, penguatan yang ada saat ini masih bersifat rapuh dan sangat bergantung pada arus dana harian. Selama tekanan global dan evaluasi MSCI belum selesai, volatilitas berpotensi tetap tinggi.

 

Dalam kondisi seperti ini, strategi bertahan menjadi kunci. Investor disarankan lebih selektif, fokus pada saham dengan neraca kuat, arus kas sehat, serta model bisnis yang tetap resilien di tengah perlambatan ekonomi.

Emiten yang memiliki recurring income, tingkat utang rendah, dan visibilitas pertumbuhan yang jelas cenderung lebih mampu menahan guncangan dibanding saham-saham yang hanya mengandalkan sentimen.

Selain itu, menjaga porsi kas juga menjadi langkah bijak untuk mengantisipasi peluang jika koreksi lanjutan kembali terjadi. Alih-alih mengejar reli jangka pendek, pendekatan bertahap (gradual entry) pada saham berkualitas bisa menjadi strategi yang lebih aman, sembari menunggu konfirmasi bahwa tekanan outflow benar-benar mereda.

Dengan kata lain, rebound IHSG saat ini patut diapresiasi, tetapi belum bisa dijadikan sinyal bahwa pasar telah sepenuhnya keluar dari fase turbulensi.

Sampai ada kejelasan dari sisi arus dana asing dan hasil evaluasi MSCI, investor sebaiknya tetap disiplin pada manajemen risiko, tidak terlalu agresif, serta terus memprioritaskan kualitas dibanding sekadar mengejar pantulan harga.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)



Most Popular