MARKET DATA

IHSG Jatuh, Ini Deretan Sektor yang Paling Menderita

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
30 January 2026 08:15
RI Sering “Dijewer” Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya?
Foto: Infografis/ RI Sering “Dijewer” Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya? / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan jual di pasar saham Indonesia belum mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada perdagangan kemarin, Kamis (29/1/2026), memperpanjang tren penurunan selama dua hari berturut-turut.

Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun 88,35 poin atau melemah 1,06% ke level 8.223,20. Koreksi ini jauh lebih kecil dibanding pergerakan intraday, karena IHSG sempat mengalami tekanan yang cukup dalam hingga memicu trading halt. Bahkan setelah perdagangan dibuka kembali, tekanan sempat berlanjut dan IHSG sempat ambles hingga 10%.

Sentimen negatif dari keputusan MSCI untuk membekukan indeks Indonesia masih menjadi faktor utama yang memicu aksi lepas portofolio secara masif oleh investor.

Kekhawatiran pasar belum pulih setelah MSCI mengumumkan pembekuan perubahan indeks akibat isu transparansi dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi.

Respons negatif ini berlanjut pada perdagangan kemarinkemarin, di mana seluruh sektor industri kompak melemah, mencerminkan ketidakpastian yang mendalam di kalangan pelaku pasar global maupun domestik.


Sektor Siklikal dan Properti Paling Tertekan

Dalam dua hari terakhir perdagangan, tekanan paling berat konsisten dirasakan oleh sektor Barang Konsumen Non-Primer (Cyclical) yang hari ini tercatat anjlok -4,88%. Harapan investor bahwa emiten-emiten besar di sektor ini akan mendapatkan bobot baru di indeks MSCI pupus seketika, memicu gelombang penjualan lanjutan.

Sektor Properti & Real Estat juga belum mampu bangkit dan terkoreksi signifikan sebesar -3,83%. Absennya katalis positif dari aliran dana asing (inflow) membuat sektor yang sensitif terhadap sentimen investasi ini terus ditinggalkan investor.

MSCIFoto: MSCI

Kepanikan Meluas ke Sektor Defensif

Indikasi bahwa investor sedang melakukan pengurangan risiko total (risk-off) terlihat dari jatuhnya sektor-sektor defensif yang biasanya menjadi penahan indeks. Sektor Barang Konsumen Primer (Non-Cyclical) melemah -3,63%, diikuti oleh sektor Kesehatan yang turun -3,30%.

Penurunan beruntun pada sektor kebutuhan pokok ini menandakan bahwa investor asing tidak sekadar melakukan rotasi sektoral, melainkan memilih untuk menarik likuiditasnya keluar dari pasar Indonesia untuk sementara waktu.

Isu ancaman penurunan status pasar menjadi Frontier Market jika transparansi tidak membaik hingga Mei 2026 menjadi momok yang menakutkan bagi pengelola dana jangka panjang.

Perbankan Masih Jadi Penyangga Terakhir

Meskipun merah menyala selama dua hari, sektor Keuangan masih menunjukkan ketahanan relatif dengan penurunan terkecil sebesar -0,53%.

Emiten perbankan berkapitalisasi besar tampaknya masih dijaga oleh investor domestik sebagai benteng terakhir pertahanan indeks, meskipun tekanan jual asing tetap terasa. Sektor Teknologi juga bergerak dengan penurunan terbatas sebesar -0,96%.


-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular