Peringatan Keras Buat RI, Harga Beras Dunia Melonjak Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga beras global mulai menunjukkan gejala mengencang.
Pada perdagangan Selasa (27/1/2026), beras dunia menurut Trading Economics tercatat di US$10,935 per hundredweight, naik 0,28% harian dan sudah menguat hampir 15% secara year-to-date (YTD).
Level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, memberi sinyal bahwa tekanan jangka pendek mulai muncul, meski gambaran pasokan global masih terlihat longgar.
Foto: Trading EconomicsHarga Beras Global Menurut Trading Economics |
Kenaikan ini bukan lahir dari gangguan mikro di negara-negara kunci pemasok.
Pasar beras dunia sangat bergantung pada segelintir origin. Ketika salah satu terganggu di level hulu atau logistik, harga kontrak terdekat langsung merespons. Itulah yang sedang terjadi sekarang.
Di India, harga ekspor menguat setelah biaya gabah naik dan pemerintah meningkatkan penyerapan lewat program pengadaan. Menurut Reuters, kondisi ini memangkas pasokan yang benar-benar tersedia di pasar, mendorong harga FOB ke posisi tertinggi dalam beberapa bulan. Pada saat yang sama, pelemahan rupee justru menahan kenaikan lebih jauh, menciptakan tarik-menarik antara faktor biaya dan nilai tukar.
Data Reuters menunjukkan harga beras parboiled 5% broken India kini berada di kisaran US$351-356 per ton, turun tipis dari pekan sebelumnya. Seorang eksportir di Kolkata menyebut pelemahan rupee menekan harga, namun pembeli global masih enggan mengambil volume besar. Artinya, pasar lebih memilih menunggu daripada mengunci harga di tengah suplai yang secara teoritis masih cukup.
Vietnam dan Thailand memperlihatkan dinamika berbeda. Harga beras 5% broken Vietnam bertahan di US$360-365 per ton, stabil secara mingguan. Namun, menurut data kepabeanan Vietnam yang dikutip Reuters, pengiriman beras paruh pertama Januari melonjak 64% secara tahunan menjadi 318.212 ton. Aktivitas dagang memang meningkat, tetapi pelaku pasar belum yakin permintaan akan konsisten hingga akhir tahun.
Thailand justru mengalami tekanan kompetitif. Harga beras 5% broken Thailand naik ke US$380 per ton, lebih tinggi dari pekan lalu. Namun pedagang di Bangkok mengakui harga ini sulit bertahan lama karena India menawarkan produk serupa dengan harga lebih murah. Selama disparitas ini ada, ruang kenaikan Thailand menjadi terbatas.
Sementara itu, negara konsumen memilih bersikap defensif. Filipina, menurut pedagang Thailand, hanya membeli sesuai kebutuhan minimum. Bangladesh bahkan membuka keran impor 200.000 ton beras parboiled bagi swasta untuk meredam potensi lonjakan harga domestik. Langkah ini menunjukkan pemerintah tidak melihat krisis, tetapi tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek.
Jika ditarik ke level global, fondasi pasokan sebenarnya masih kokoh. USDA memproyeksikan produksi beras dunia mendekati 541 juta ton, dengan perdagangan global sekitar 62,8 juta ton pada musim 2025/2026.
Harga beras berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek selama hambatan di negara asal belum reda. Namun tanpa gangguan cuaca ekstrem atau perubahan kebijakan besar, reli ini rawan kehilangan tenaga. Bagi importir, strategi menunda pembelian masih rasional. Bagi pasar, kenaikan saat ini lebih menyerupai respons terhadap friksi distribusi, bukan alarm krisis pangan global.
Singkatnya, beras sedang mahal karena pasokan sulit bergerak, bukan karena dunia kehabisan stok.
RI Mesti Waspada
Lonjakan harga beras dunia ini mesti diwaspadai Indonesia. Terlebih, sejumlah harga pangan strategis masih menunjukkan tekanan menjelang Ramadan. Meski stok nasional dinilai relatif aman, harga di lapangan belum sepenuhnya terkendali dan masih timpang antarwilayah. Berdasarkan pemantauan Kantor Staf Presiden (KSP), tercatat tekanan harga tidak terjadi secara merata.
Plt Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP Popy Rufaidah menyebut, secara umum kondisi harga pangan berada pada level aman hingga waspada, namun beberapa komoditas tetap memerlukan pengawasan ketat.
"Hasil pemantauan kami menunjukkan harga pangan strategis secara umum masih terkendali, tetapi beras medium di sejumlah zona, serta cabai merah dan cabai rawit masih perlu mendapat perhatian karena sensitif terhadap cuaca dan distribusi," kata Popy dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Selasa (27/1/2026).
Adapun beras medium menjadi komoditas yang paling mencerminkan ketimpangan antar wilayah. Data KSP per 23 Januari 2026 menunjukkan zona 1 masih aman, dengan harga rata-rata Rp13.433 per kg, lebih rendah dari harga eceran tertinggi (HET) Rp13.500 atau minus sekitar 0,49%, dengan kenaikan bulanan tipis 0,18%.
Namun di zona 2, harga beras medium sudah masuk kategori waspada. Harganya mencapai Rp14.399 per kg atau sekitar 2,86% di atas HET Rp14 ribu, meski kenaikan bulanannya relatif kecil, hanya 0,08%.
Kondisi terberat terjadi di zona 3. Harga rata-rata beras medium mencapai Rp18.475 per kg, atau sekitar 19,2% di atas HET Rp15.500. Meski demikian, secara bulanan harga sudah terkoreksi turun 0,95%.
"Zona 1 aman, zona 2 sudah waspada karena harga sedikit di atas HET, dan zona 3 masih tidak aman dengan harga jauh di atas HET, meskipun terdapat koreksi bulanan," ujarnya.
Ia menegaskan persoalan beras saat ini bukan soal ketersediaan nasional, melainkan masalah distribusi dan akses logistik yang belum merata di berbagai daerah.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Foto: Trading Economics