MARKET DATA

Pesta Tiada Akhir! Harga Emas Tembus US$5.100, Perak Capai US$117

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
27 January 2026 06:35
emas
Foto: emas

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak lagi-lagi kembali menembus level psikologis baru. Kedua logam mulia tersebut berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah sebelum akhirnya ditutup lebih rendah.

Pada perdagangan hari ini Selasa (27/1/2026) hingga pukul 06.22 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat 0,67% di posisi US$5.047,78 per troy ons.

Sementara pada perdagangan sebelumnya Senin (26/1/2026), harga emas dunia naik 0,64% di level US$5.014,29 per troy ons. Pada perdagangan intraday, harga emas sempat melonjak ke level tertinggi sepanjang masa di US$5.110,50 per troy ons. Untuk pertama kalinya harga emas menduduki level psikologis US$5.100 per troy ons.

Harga emas melonjak ke level rekor di atas US$5.100 per troy ons pada hari Senin, karena investor mencari aset aman di tengah ketegangan politik internasional, dan perak serta platinum juga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

"Harga emas terus didukung oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang tinggi. Bank sentral tetap menjadi pembeli yang kuat karena mereka mendiversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS," ujar Ryan McIntyre, presiden di Sprott Inc.

"Selain itu, arus masuk investor ke dalam dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang didukung secara fisik telah kembali, dengan kepemilikan naik sekitar 20% dari tahun ke tahun," tambah McIntyre.

ANCAMAN TARIF 100% TRUMP TERHADAP KANADA

Dalam gejolak geopolitik terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa ia akan mengenakan tarif 100% pada Kanada jika negara itu menindaklanjuti kesepakatan perdagangan dengan China.

Untuk logam mulia tahun ini, pendorong utamanya adalah "Trump dan Trump," ujar Adrian Ash, kepala penelitian di pasar online BullionVault.

"Gelombang investasi baru pertama kali mendorong pergerakan ini di logam mulia. Hal ini dipimpin oleh investor swasta di seluruh Asia dan Eropa, yang bergegas membangun kepemilikan pribadi mereka atas emas dan perak."

Kemungkinan intervensi mata uang terkoordinasi oleh otoritas AS dan Jepang yang akan segera terjadi menjadi fokus perhatian investor lainnya.

Pada saat yang sama, pertemuan The Federal Reserve minggu ini, di mana bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap, dibayangi oleh penyelidikan kriminal pemerintahan Trump terhadap ketua Fed Jerome Powell.

Trump telah menekan Powell untuk menurunkan suku bunga.

Hal itu akan mendukung emas yang tidak memberikan imbal hasil, yang telah naik hampir 18% sejauh tahun ini setelah naik 64% pada tahun 2025.

Tahun lalu, emas menembus tonggak penting, termasuk US$3.000 per troy ons dan US$4.000 per troy ons untuk pertama kalinya.

Bahkan kini, para analis melihat ruang untuk momentum kenaikan lebih lanjut. Societe Generale memperkirakan emas akan mencapai US$6.000 per ons pada akhir tahun, meskipun mereka memperingatkan bahwa ini mungkin perkiraan konservatif dengan ruang untuk kenaikan lebih lanjut. Sementara itu, Morgan Stanley mengatakan reli dapat berlanjut, menyoroti target skenario bullish sebesar US$5.700 per troy ons.

Harga perak melaju kencang menembus level di atas US$117 per troy ons, menjadikan rekor tertinggi sepanjang masa.

Harga perak (XAG) di pasar spot pada penutupan perdagangan Senin (26/1/2026), naik 0,90% di level US$103,87 per troy ons. Pada perdagangan intraday, harga perak sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di US$117,69 per troy ons.

Sementara pada perdagangan hari ini Selasa (27/1/2026) hingga pukul 06.22 WIB, harga perak di pasar spot menguat 2,81% di level US$106,79 per troy ons.

Harga menembus angka US$117 per troy ons karena pembelian oleh investor ritel dan pembelian yang didorong momentum menambah ketatnya pasar fisik untuk logam mulia dan industri.

"Momentum kuat, dengan harga perak China berada pada premi yang signifikan dibandingkan harga London, menunjukkan kenaikan lebih lanjut dalam jangka pendek dimungkinkan. Namun, harga setinggi itu seharusnya mengurangi permintaan industri," ujar analis UBS Giovanni Staunovo.


CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features